Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Cost or Investment?

Pengembangan sumber daya manusia dewasa ini dinobatkan menjadi salah satu hal terpenting dalam dunia bisnis. Bukan hanya di bisnis saja sesungguhnya, tapi dalam hidup. Mendidik dan membangun telah disadari merupakan kunci keberhasilan. Bermunculan variasi cara atau macam-macam jenis "Best Practice" tentang bagaimana melakukan People Development yang benar.  Masalah muncul saat diketahui bahwa usaha pengembangan butuh biaya. Biaya waktu, biaya tenaga, biaya uang. Tentu saja, training dan coaching tidak bisa terjadi begitu saja bukan? Ada effort yang harus dikeluarkan. Pada akhirnya 'kepentok' masalah biaya, People Development tidak berjalan.  Saya tidak sedang membahas perusahaan saja, tapi juga mengajak berkaca ke masing-masing individu. People development tidak hanya dilakukan perusahaan, tapi juga merupakan tanggung jawab perorangan (ya iya dong, kan yang mau berkembang kamu?). Sekarang apabila kita selalu menganggap usaha pengembangan adalah biaya maka sel...

Teh Hangat

Kasih.. Pagi ini kusesap teh hangatku Seraya bertanya-tanya apa kabarmu Seraya mengingat mimpi di malamku Saat wajahmu hadir temani tidurku Kasih.. Rindu itu menyebalkan kurasa Baik untukku saja atau kita berdua Karena kenangan manis itu terus saja meraja Tak peduli saat terlelap maupun saat terjaga Lengkung senyummu Hangat pelukmu Menjadi momen indah di bawah rindang syahdu Saat ku terpaku menatapmu Saat rasa ini saling beradu Kasih.. Jantung ini berdetak untukmu Senyumku merekah tanpa kusadari Kala dirimu hadir dalam memori Kulantunkan lagi doa yang sama setiap hari Sembari habiskan teh hangatku di pagi ini Sembari.. Aku mengingat dirimu lagi dan lagi

Jawaban 5 Tahun Kemudian

2013, diantara manusia-manusia yang sama seperti saya, berjuang dalam ujian-ujian demi menyambung masa. Kala itu di suatu gedung sekolah yang saya lupa namanya, saya sedang menunggu pintu kelas untuk ujian dibuka. Ujian SBMPTN, yang kuota penerimaannya tahun itu berkurang karena dianugerahkan lebih banyak ke jalur undangan atau SNMPTN. Berbekal doa dan banyak belajar, saya berharap ujian itu akan menuntunku memasuki fakultas dan universitas impianku, Psikologi Universitas Indonesia. Gagal dalam SNMPTN membuatku berharap bahwa ujian kali ini dapat kulalui dengan hasil yang memuaskan. Sambil menunggu, saya bercakap dengan seorang perempuan di sebelah saya, yang juga akan menjalani ujian SBMPTN. Seperti lulusan sekolah menengah atas pada umumnya, kami bertukar cerita mengenai perjuangan dan impian kami mengenai jurusan dan universitas yang kami inginkan. Saya katakan keinginan saya yang sangat besar untuk menjadi psikolog. Saya tunjukkan buku-buku saya yang kala itu saya tulisi di sa...