Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Air

Apa kamu tahu rasanya merdeka? Bukan tentang politik atau negara Aku sedang bicara tentang rasa Yang dinyana kita kendalinya Alas , rupanya sebaliknya Ragam jiwa merana mencari ahlinya Karena rasa ternyata rajanya Yang mengatur laku, cara dan asa Nyata, rasa pengaruhi kata Nyata, rasa pengaruhi cinta Kamu tahu? Kalau manusia mencari harmoni Bersauh jauh, merdeka atau mati Aneh bukan? Hati mereka saja tak bisa diganti Pada akhirnya manusia bukan pemegang kemudi Rasa, nahkodanya Rasa, juru kuncinya ... Dan itu, tidak mengapa.. Jadi.. Jika dirimu berduka, akuilah Jika dirimu sepi, katakanlah Atau jika dirimu ragu, untuk mengatakan semua, setidaknya tuliskan semua dalam puisi yang tiada siapa yang membacanya Semoga, hatimu, mengalir, melepaskan, mengikhlaskan,  untuk merelakan dirimu menjadi bahagia

Lampu Kuning Jatuh Cinta

Jangan mengambil keputusan, ketika kamu sedang jatuh cinta. Dan jangan menilai karakter seseorang, ketika ia baru mencintaimu Layaknya emosi lain yang mengambil alih logika ketika sedang meluap, jatuh cinta pun menghasilkan tumpulnya rasionalisasi yang dimiliki seorang manusia. Ku rasa, orang yang pernah jatuh cinta di masa lalu dan saat ini tidak, akan menyetujui statement tersebut. Apalagi, ketika perasaan cinta tersebut diiringi hasrat untuk memiliki, untuk tidak kehilangan, untuk selalu dekat, untuk mencapai target "mendapatkan". Rasanya, kita tidak lagi menjadi diri kita. Pada akhirnya, lebih banyak hal yang disadari di kemudian hari, membuat kita bertanya-tanya, "mengapa dahulu aku melakukan itu?" (jika kamu yang jatuh cinta) atau "mengapa dia tidak seperti dulu lagi?" (jika orang lain yang jatuh cinta padamu). Kenyataannya manusia jarang berubah. Yang ada, hanya perilaku sementara yang mengiringi perasaan. Ketika sebuah perasaan meluap, terjadilah p...

Gadis abu-abu, lembar ke 3

 "Nikmatilah hari ini, karena hari ini hari terakhirku berdiam diri dan terus membiarkan semua mengalir. Aku memang hanya biru air yang menggenang di ladang penuh ilalang. Tapi lembut tangan itu telah menyentuhku dengan begitu damai. Sungguh lembar daun kosong yang sudah jatuh tertiup angin ini telah terisi kembali dengan sebuah abu yang akan kujadikan biru. "

23.12

Jam 23.12 Bukan waktu yang istimewa Tidak ada acara, yah biasa saja Hanya duduk di atas kasur di dalam rumah seseorang tempat menumpang Sedikit menambah kesadaran, aku merasa-rasa segala syaraf yang masih terjaga Kepalaku berdenyut, masih ternyata dari tadi siang Napas yang agak lebih pendek dari biasanya juga Sepertinya aku... Ah ya, dan aku pun lupa makan malam lagi Tubuhku haus tapi lupa minum air lagi Rasanya malas untuk beranjak ditambah suasana hati yang kelabu... Sepertinya aku... Lelah dan mungkin sedikit kesepian Tapi kepalaku yang berdenyutpun menolak untukku berpikir tentang logika  ataupun merasakan emosi Padahal aku sedang dikunjungi tamu bulanan, yang biasanya jadi hak 'prerogatif' cewek untuk marah-marah Tapi jangankan itu untuk bersedih pun tak bisa Atau mengeluhpun, tak bisa Tapi buat apa juga merasakan hal-hal itu? Yah Sepertinya aku.. mungkin lelah

Membiarkan Anak Terluka?

 Ini adalah pengalaman mengenai hal-hal yang kuobservasi dari suatu acara berkemah alumni.  Jadi, dulu aku kuliah di jurusan psikologi sebuah kampus. Katakanlah, kampusku memiliki ikatan yang kuat dengan alumni-alumninya sehingga aku mengenal banyak senior yang sudah berumur 10, 20 tahun lebih tua dariku. Tentu saja, kebanyakan mereka sudah berkeluarga dan punya anak. Dan disinilah, aku belajar parenting secara tidak langsung. Hari itu merupakan reuni alumni, yang diadakan di daerah Bogor. Ya, acara berkemah santai, dimana para alumni dapat membawa keluarganya dan kita makan, tidur, dan bernyanyi di suatu lapangan, diantara tenda-tenda. Sepertinya ada sekitar 20 tenda yang berdiri, bahkan beberapa membawa tendanya sendiri agar dapat memiliki privasi untuk tidur dengan keluarga kecil mereka.  Malam, di Api Unggun Seperti acara-acara berkemah yang pernah diselenggarakan sebelumnya, pasti selalu ada api unggun dan gitar. Di sini, pada alumni-alumni senior, banyak menyanyikan...

Membuang Makanan, Tidak Menghargai Orang yang Kelaparan?

 "Jangan suka buang-buang makanan, inget, banyak orang yang kelaparan di luar sana. Karena itu kita harus menghabiskan makanan kita" Pernah denger kalimat di atas nggak? Kalau aku pribadi, aku sering banget denger kata-kata di atas. Meskipun sebenarnya, sejak kecil memang sudah dibiasakan untuk selalu menghabiskan makanan, meskipun dulu alasannya beda. "kalau nggak dimakan, nanti nasinya nangis" katanya. Dan aku mengingatnya sampai sekarang Tapi kalau untuk mengingatkan orang lain, apalagi kalau sudah seusiaku, rasanya alasan "makanannya nanti nangis" itu nggak mempan. Jadi biasanya aku pakai kalimat di atas "masih banyak orang yang kelaparan, makannya kalau makan harus habis" Sampai suatu hari, ada teman saya yang bertanya balik sampai bikin garuk-garuk kepala "Memangnya apa hubungannya ngehabisin makanan sama orang yang kelaparan?" Kalau dipikirkan kembali, memang nggak ada hubungannya kan ya. Kalaupun kita menghabiskan makanan kita, ...

Why 'To The Bone' Sounds So Good?

Pernah denger lagu 'To The Bone' karya Pamungkas?  Jadi latar belakang aku nulis ini adalah karena aku tertarik banget sama lagu ini. Lebih tepatnya aku tertarik sama reaksiku sendiri setelah denger lagu ini. Saat pertama kali aku denger, aku langsung mikir "wah, ini judulnya apa? aku harus denger fullnya". Dan bener aja karena aku langsung suka banget, sampai-sampai sekarang udah nggak keitung lagi udah dengerin lagu ini berapa kali. Lalu setelah udah yakin suka, aku jadi penasaran, sebenernya apa sih yang bikin lagu ini enak? Aku berusaha nyari tuh, entah video reaction orang di youtube, atau analisis apapun tentang lagu ini, dan salah satu keyword yang kumasukkin di google adalah "Why to the bone sounds so good?" atau "Kenapa lagu to the bone bagus banget?". Dan yah, informasi yang kudapetin malah bahwa lagu ini sukses menempati lagu teratas di Top 50 Indonesia selama 10 minggu berturut-turut, dan berhasil meraih Top 50 Viral, Global, etc. Semak...