Membiarkan Anak Terluka?
Ini adalah pengalaman mengenai hal-hal yang kuobservasi dari suatu acara berkemah alumni.
Jadi, dulu aku kuliah di jurusan psikologi sebuah kampus. Katakanlah, kampusku memiliki ikatan yang kuat dengan alumni-alumninya sehingga aku mengenal banyak senior yang sudah berumur 10, 20 tahun lebih tua dariku. Tentu saja, kebanyakan mereka sudah berkeluarga dan punya anak. Dan disinilah, aku belajar parenting secara tidak langsung.
Hari itu merupakan reuni alumni, yang diadakan di daerah Bogor. Ya, acara berkemah santai, dimana para alumni dapat membawa keluarganya dan kita makan, tidur, dan bernyanyi di suatu lapangan, diantara tenda-tenda. Sepertinya ada sekitar 20 tenda yang berdiri, bahkan beberapa membawa tendanya sendiri agar dapat memiliki privasi untuk tidur dengan keluarga kecil mereka.
Malam, di Api Unggun
Seperti acara-acara berkemah yang pernah diselenggarakan sebelumnya, pasti selalu ada api unggun dan gitar. Di sini, pada alumni-alumni senior, banyak menyanyikan lagu-lagu lama bersama. Saya pun ikut bernyanyi sesekali. Namun apa yang paling menarik perhatian, adalah anak-anak yang dibawa oleh para alumni
Usianya bermacam-macam. Aku yakin ada yang sekitar 2 tahun, hingga yang sudah remaja. Tentu saja yang banyak menarik perhatian adalah yang masih kecil-kecil. Anak-anak itu berlari-lari di sekitar api unggun, bahkan aku melihat beberapa iseng bermain di dekat api, mencuil-cuil bara api yang masih menyala.
Dalam hati, aku berpikir, "ini orang tuanya mana? dia ngeliat nggak anaknya main hal berbahaya begini?"
Ternyata orang tuanya tidak jauh. Mereka memperhatikan, dan terkadang mengingatkan untuk berhati-hati, tapi tidak ada intervensi fisik, seperti menarik anak mereka untuk pergi dari area api unggun, atau pun memarahi karena anaknya tidak mendengarkan.
Mereka hanya berdiri, sambil tetap memerhatikan senior lain yang sedang bernyanyi
Aku tidak melakukan apa-apa, hanya terheran-heran sendiri. Ku pikir, orang-orang ini semuanya berlatar psikologi. Pasti tindakan mereka ada maksudnya. Karena yang aku lihat, tidak hanya satu-dua orang tua yang melakukan hal serupa. Orang tua-orang tua lainnya pun begitu. Mereka membiarkan anak mereka berlari dan kadang berteriak, tanpa mengintervensi apapun. Tidak ada bentakan amarah, atau pun kepanikan karena anaknya tantrum.
Pagi, dari Tangga Sarapan
Malam menghilang, berganti pagi. Beberapa senior terlihat masih bernyanyi-tanda begadang semalaman untuk menghabiskan waktu bernostalgia. Aku? Tentu saja tidur. Tapi tidak di tenda, ya, di matras yang terhampar secara acak saja di atas rumput. Aku menyesal tidak membawa jaket yang tebal, tapi tidurku cukup pulas kok.
Karena aku panitia, aku mulai sibuk menyiapkan ini-itu. Salah satunya mengoordinasi sarapan (sejujurnya aku agak lupa bagian ini). Sarapan disuguhkan pada sebuah pendopo di atas lapangan, tidak terlalu tinggi, namun untuk mencapainya perlu naik tangga sedikit. Mungkin sekitar 5-6 anak tangga.
Tangganya berbentuk seperti batu artifisial besar, jadi sisi-sisinya tidak terlalu tajam. Sebenarnya tangga itu tidak terlihat berbahaya. Namun tiba-tiba ada anak dengan piring makanannya jatuh. Cara dia jatuh, sejujurnya, menurutku cukup sakit, karena cukup tinggi. Anak itu perempuan, mungkin sekitar 11-13 tahun, masih cukup kecil.
Aku pikir orang-orang disekitarnya akan segera berlari menolongnya, ternyata tidak begitu. Memang semua orang terlihat kaget, namun tidak ada yang panik. Orang yang sepertinya Ayah dari anak itu, dengan tenang turun dan menghampirinya. Anak itu terlihat kuat dan berdiri lagi (dibantu ayahnya) kemudian lanjut mengambil makanan lagi, seperti tidak terjadi apa-apa
Dalam benakku, "Apa yang terjadi barusan?"
Kemudian aku teringat satu lagi kejadian yang serupa. Pagi itu, ketika anak-anak kembali berlari-lari, salah satu anak tersandung tali tenda dan terjatuh, cukup keras. orang dewasa yang di sekelilingnya kaget, namun tidak ada yang panik ataupun terburu-buru menghampirinya. Ibu dari anak itu kemudian memanggil sang anak, dan bertanya "sakit?"
Anak itu menggeleng.
Lalu si ibu memeluk dan (mungkin) mencium anak itu, kemudian membiarkan anak tersebut bermain kembali.
Lagi-lagi, aku hanya berpikir mengenai 'apa landasan psikologis dari perilaku para orang tua ini?'
Siang, tentang Pasak Tenda
Setelah selesai sarapan, lalu berdiskusi mengenai suatu hal, tiba saatnya untuk pulang. Orang-orang mulai membereskan barang-barang mereka, sementara anak-anak masih banyak yang bermain-main. Kemudian aku melihat beberapa anak mencabuti tali tenda yang tersangkut pada pasak. Mereka bermain-main dengan tali tersebut, dengan pasak di ujungnya, mengayun-ayunkan pasak tersebut dengan tangan mereka. Teman-temannya di sekelilingnya tertawa-tawa melihat anak tersebut memutar-mutar tali dan pasak tersebut dengan lihat.
Dari jauh, aku memandangnya ngeri. Terbayang bagaimana jika pasak tersebut mengenai wajah si anak. Tapi aku tidak melihat ada orang dewasa yang mencoba menghentikan mereka, sama seperti saat anak-anak tersebut bermain-main dengan bara api.
Pada akhirnya aku penasaran, dan bertanya dengan salah satu senior. Beliau merupakan senior yang kira-kira umurnya 2x lipat umurku, anaknya pun semuanya sudah besar. Aku bertanya,
"Mbak, anak-anak itu nggak apa-apakah main pasak begitu? Apa nggak berbahaya?"
Dia tertawa santai, dan mengatakan "tidak apa-apa"
Belum puas, aku bertanya lagi. "Memang gimana sih Mbak, kita menentukan, kapan kita bisa liat bahwa itu berbahaya dan harus kita hentikan, dan mana yang nggak bahaya dan kita biarkan?"
Mbak Senior itu kemudian menjawab lagi,
"Ya, kita kan bisa liat, misalnya itu tali berapa meter. Mungkin satu meter, kira-kira ada kemungkinan kena nggak. Lalu kalau kena pun, paling luka, paling parah luka di kepala, nggak sampai membahayakan nyawa kan? Nah itu nggak papa. Kalau luka-luka sedikit, itu nggak papa, biar anak belajar. Kalau kita selalu halangin, nanti mereka nggak paham kalau itu bahaya. Jadi membiarkan anak terluka itu nggak masalah, asal tetap diperhatikan juga.
Aku pun, dulu banyak banget kepalaku depan belakang, robek, terus dijahit, hahaha.."
Sebisanya, aku mencerna konsep asing itu dengan perlahan.. Membiarkan anak terluka, itu nggak masalah? Mungkin, memang iya.
Kesimpulan
Dengan belajar dari luka, anak belajar mengenai konsekuensi. Bahwa perilaku A menghasilkan B, perilaku C menghasilkan D. Mereka belajar untuk dapat lebih bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan lebih dewasa dalam mempertimbangkan hasil yang bisa mereka dapatkan.
Tentunya dengan batasan-batasan yang masih bisa diterima.
Terkadang ketika orang tua terlalu protektif, anak jadi terhambat perkembangannya. Ada konsekuensi yang harus mereka ketahui sendiri. Sisanya, kita (sebagai orang tua) yang harus siap pasang badan ketika anak-anak kita menghadapi masalah yang diluar kemampuan mereka. Jika mereka sakit, atau butuh dukungan dari orang tuanya, kita harus siap memberi tenaga, waktu dan biaya.
Ketika mereka merasa sedih, atau malu, atau perasaan-perasaan mereka lainnya, kita harus siap menjadi pendengar dan memvalidasi perasaan mereka. Mengatakan "it's ok" atau mengonfirmasi secara langsung, "sakit kah?" agar dapat menumbuhkan keamanan dalam hati mereka, bahwa "merasa" adalah hal yang diperbolehkan. Sama seperti kasus jatuh dari tangga sarapan dan tersandung tali tadi, alih-alih mendorong anak untuk berhenti menangis, atau menyalahkan tangga/tali nya, mereka mendorong anak untuk mengatakan apa yang mereka rasakan.
"Sakit?"
bukan,
"Udah cup, ga usah nangis, ini tangganya yang bandel"
Terkadang, mereka memang jadinya terluka, tapi mereka jadi belajar dari kesalahan, dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik.
Terkadang, memang seaneh itu..
Komentar
Posting Komentar