Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Sejak kecil, aku selalu suka hal-hal yang berhubungan dengan teka-teki dan misteri. Waktu SD permainan kesukaanku adalah Inspector Parker, permainan detektif. Dan tidak pernah berubah sampai sekarang, aku menemukan salah satu film (series) yang menjadi top favorit buatku, yaitu Sherlock. 

Ok film Sherlock Holmes sudah banyak sekali di remake, tapi menurutku tidak ada yang sebagus versi terakhir, dimana Sherlock diperankan oleh Benedict Cumberbatch. Alasanku mengatakan ini versi film Sherlock Holmes terbaik adalah karena kompleksitasnya. Kompleksitas yang sulit sekali dicapai oleh produser film. Pada film ini, segala aspek kehidupan dari sisi logika, filosofi, hingga psikologis, berjalan dalam harmoni yang luar biasa. Terutama sisi psikologis manusia yang digambarkan dengan sangat apik, ini PR yang sangat besar bagi para pembuat film, dan penyunting Sherlock Holmes ini berhasil dengan sangat baik.


Nah alasan ini jugalah yang membuat saya terdorong untuk menulis analisis psikologis dari series ini. Seperti halnya menganalisa psikologis manusia yang unik dan abstrak, sebuah film yang bagus juga menyimpan informasi yang kaya sehingga psikolog pun bahkan dapat mengekstrak dan mempelajari psikologis tokoh pada film tersebut. Contoh saja, saat saya berkuliah sarjana psikologi dulu, dosen kami meminta untuk menganalisis film The Soloist, atau Helen Keller. Film-film itu sangat sarat ilmu pengetahuan yang mana sangat merepresentasikan manusia itu sendiri. 


Karena itu tidak salah, prinsip yang kutekankan sejak kecil bahwa semakin kita memahami tokoh film, semakin kita memahami hati dan pikiran manusia. Jadi buat kamu yang ingin semakin jago observasi dan "membaca pikiran" orang lain, tontonlah film (yang bagus) banyak-banyak.


Ok kembali ke topik....


***


Ada dua scene yang paling aku suka dan kuulang-ulang menontonnya yaitu saat sherlock akhirnya mengetahui bahwa Irene Adler mencintai dia - dimana ia tahu dari pembacaan fisiologis yang menurutku sangat-sangat amazing, awesome omg I love it - di episode the scandal in belgravia. Yang kedua adalah ketika Sherlock berusaha untuk tetap hidup setelah ditembak oleh Mary di dada kanannya. Menurutku itu adalah scene yang sangat keren dan membuatku penasaran setengah mati mengenai syok dan kematian. Aku akan membahas bagian ini terakhir karena, seriously, aku bener-bener cari infonya.


Kemudian di series ini, aku juga menetapkan tokoh-tokoh yang paling aku suka. Ranking pertama adalah Mary, kedua adalah John Watson, dan ketiga adalah Sherlock. Sejujurnya aku pun bingung antara ketiga itu, tapi sejak tokoh Mary pertama kali muncul, aku langsung jatuh cinta padanya. Hoho. Tapi aku pun sangat kagum dan menyukai karakter John Watson, maksudku, sungguh, andai saja orang seperti dia benar-benar ada. Sementara sherlock, aku paling menyukai dia karena kepintarannya dan kemampuan dia membedakan "orang jahat" dan "orang baik" tapi dia agak lebih 'complicated'.


Nah ini salah satu alasan kenapa series ini sangat layak difavoritkan, karena tidak hanya plot, tapi karakter dari keseluruhan tokohnya itu benar-benar sarat akan informasi psikologis, yang mana karakter satu sama lain 'klik' seperti kepingan puzzle. Indah sekali. Kenapa John bisa menjadi sahabat Sherlock, kenapa Mary bisa bersama John, semua hal berjalan dengan sangat masuk akal dan realistis. Padahal memberikan personality pada tokoh cerita itu sangat sulit, tapi penulis cerita ini berhasil, haduh aku padamu pak. Kenapa kamu hebat sekali.


Dari hal-hal yang sudah kujelaskan tadi, beberapa hal yang ingin kukupas secara psikologis, yaitu "Kenapa John bisa bersahabat dengan Sherlock?", "Apa yang terjadi pada Sherlock setelah kematian Mary" dan "Ada apa sesungguhnya dengan Eurus?"


Berikut ini beberapa analisis yang bisa kugambarkan 


***


Teman yang Berharga


Untuk yang menonton series sherlock holmes pasti tahu, betapa simplenya karakter john watson. Tidak seperti sherlock, ia benar-benar 'biasa'. Kecerdasan yang biasa saja, kepribadian yang biasa, sangat baik, sangat normal.

 

Tapi kenapa sherlock holmes bisa sangat menempel dengannya?

 

Setelah menonton sampai akhir, ternyata banyak sekali alasan yang bisa menjelaskan hubungan antara sherlock holmes dengan john watson.


1. Yang pertama, sherlock dan john bukan pasangan romantis, mereka jelas bukan gay. Mereka juga bukan teman biasa, terlalu dangkal menyebut mereka teman. Keluarga? Entahlah. Karena hubungan mereka sudah sangat terikat oleh nyawa. Mereka bersedia mengorbankan jiwa untuk satu sama lain. Lihat saja berapa kali john watson hampir mati karena menjadi teman sherlock. Dan bagaimana sherlock melakukan apapun untuk melindungi john.

Kenapa bisa? Menurut saya, hal tersebut karena mereka punya chemistry. Mereka punya ikatan emosional yang sangat kompleks terhadap satu sama lain bahkan sejak pertama bertemu. Ini bisa dijelaskan pada poin-poin berikutnya.


2. Kepribadian mereka saling melengkapi. Sherlock yang sangat mencolok, dengan kemampuan yang sangat luar biasa. Tidak segan ia mencemooh orang lain, termasuk john watson. Tapi john bisa menerima itu. Ia tidak pernah menyerah menawarkan bantuan bahkan meskipun sherlock bisa melakukannya sendiri. Ia tidak minder dengan gap kepintaran yang jauh. John sangat tenang, rasional, tipe yang "aku akan lakukan yang ku bisa. Kalau aku tidak bisa, ya lihat saja nanti". Mengingatkan sherlock tanpa capek bahkan meskipun tidak didengarkan.

 

Di sisi lain, meskipun Sherlock tidak pernah menuruti John, ia menyadari bahwa ia membutuhkan john. Meskipun membantah, sherlock sebenarnya mendengarkan. John membantunya kembali ke dunia nyata ketika ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. 


Secara psikologis ini memang sangat mungkin terjadi di mana kita 'tertarik' pada orang yang berkebalikan dengan kita. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial dimana mereka menjadi hal yang bisa melengkapi mereka. Hal yang tidak ada pada kita, akan terwujud sebagai pencarian kita terhadap orang yang bisa membuat sisi tersebut menjadi 'ada' dalam hidup kita

 

3. Mereka membutuhkan satu sama lain. Meskipun kelihatannya sherlock lebih superior, pada kenyataannya tidak seperti itu. Mereka sebanding, setara, dengan kekuatan yang sama. Kekuatan sherlock ada di kepintarannya, daya ingat, fokus, ketelitian, kemampuan observasi. Tidak mungkin john bisa menyelamatkan orang dan memecahkan kasus sebanyak itu tanpa sherlock. Tapi tidak mungkin sherlock bertahan selama itu tanpa john. Berapa kali john watson menyelamatkan sherlock? Sering sekali. Kekuatan john ada pada rasionalitasnya, kemampuan berempati, ketenangan, kesadaran dan pengontrolan diri, dan sifatnya yang penuh kepedulian. Mereka berdua berada di level kekuatan yang sama dengan bidang yang bisa dibilang bertolak belakang. Layaknya kepingan puzzle yang memiliki bentuk berbeda namun karena itulah bisa terikat, bisa dibilang sherlock dan john "perfectly fit" dengan satu sama lain.

 

Perkembangan karakter mereka berdua juga digambarkan dengan sangat alami pada film sherlock holmes. Pembuatan film pasti sudah sangat mendalami berbagai aspek psikologis sehingga dapat menunjukkannya secara sempurna (menurutku). Sangat kompleks dan kaya akan substansi yang dapat dianalisis dari berbagai perspektif. Conan Doyle juga benar-benar seorang jenius!


***

 

Kematian Mary


Salah satu momen yang menjadi titik balik sherlock holmes, adalah saat Mary tertembak mati ketika melindungi dirinya. Sejak saat itu terlihat bahwa akhirnya ia menyadari jika ia seringkali gegabah dalam menghadapi perilaku kriminal karena ia tidak takut dilukai. Sherlock, seseorang yang selalu menganggap bahwa dirinya tidak pernah memiliki teman, sehingga selalu, selalu, hanya fokus pada dirinya sendiri, tidak akan pernah menyangka bahwa akan ada seseorang yang rela menjadi tameng untuk melindungi dirinya. Mary.

 

Disitulah ia menyadari bahwa ini bukan hanya soal dirinya. Tapi orang-orang disekelilingnya. Orang-orang yang ia cintai dan mencintai dirinya.


Karena itulah ia kemudian meminta mrs.hudson "jika aku terlalu sombong, tolong katakan 'norbury'". Karena disitulah momen ketika seorang sherlock menyepelekan norbury dan gegabah saat menghadapi situasi, serta tidak memikirkan bahwa yang celaka bisa jadi bukan dirinya, pada akhirnya menyebabkan kematian orang yang berharga.

 

Kita bisa melihat perkembangan karakter sherlock sejak saat itu menjadi lebih peduli terhadap teman-temannya. Ia mengingat nama greg, dan tidak pernah lagi meninggalkan john saat menangani kasus.


Jika melihat dari perspektif psikologis, personality atau kepribadian seseorang memang sulit sekali berubah. Tapi bisa berubah terutama ada trauma yang besar atau kejadian yang dapat memutarbalikkan prinsip hidup seseorang. Itulah yang terjadi pada Sherlock, dimana orang yang ia sayangi (Mary-iya tentu saja iya juga menyayangi Mary, bukan maksudnya mencintainya seperti John) mati karena dirinya. Tentunya sangat traumatik dan membolak-balik emosi yang dimiliki Sherlock


***

 

Permintaan Sederhana

Series sherlock holmes memiliki ending yang brilian, bahwa ternyata ia memiliki adik perempuann Eurus. Eurus memiliki kecerdasan yang melampaui kedua kakaknya, yang ternyata ia berada di balik banyak kasus kejahatan.


Pada awalnya, terutama ketika scene eurus memaksa Sherlock, John, dan Mycroft melakukan sebuah game, seluruhnya terkesan sangat rumit. Eurus tidak memperlihatkan emosi sama sekali, dan tidak segan membunuh orang. Apakah ia seorang sosiopath seperti sherlock? Seorang psychopath sehingga ia membunuhi orang hanya untuk kesenangan? Atau apa? Apa yang sebenarnya dia inginkan?

 

Karena jika ia hanya penasaran dan membunuh hanya untuk merasa senang, mungkin tidak ada yang bisa benar-benar dilakukan. Psikopat merupakan sebuah gangguan mental, dan berarti Eurus adalah orang sakit dan harus minum obat khusus yang bisa meredakan dorongannya membunuh orang. Hanya sebatas itu. Tapi ternyata film ini memperlihatkan suatu hal yang jauh lebih dalam dengan pendekatan yang sangat cermat dan pintar! Entah seberapa analisis yang telah produsernya lakukan untuk menciptakan film dengan struktur dan iklim psikologis yang sedemikian rumit ini.

 

Jika kita melihat dari perspektif Eurus, ia adalah seseorang yang sangat pintar. Mungkin, bukan pintar, bahkan jenius saja belum cukup mendeskripsikan. Lebih dari jenius. 


Pada umumnya, orang pintar (terlebih lagi jenius) memang cenderung lebih sulit dalam bergaul dan menikmati kesenangan biasa. Hal itu karena mereka memiliki rasa penasaran yang jauh lebih besar, rasa tidak puas akan hal yang sudah ada, mudah menguasai sesuatu sehingga cepat bosan karena kecepatan mereka yang luar bisa dalam memahami suatu hal sehingga tidak merasa tertantang lagi. 

(Bayangkan kamu main game dengan level kesulitan yang tidak bertambah. Atau kamu melakukan pekerjaan yang itu-itu saja selama bertahun-tahun. Pasti membosankan bukan? Tantangan membuatnya lebih seru). 


Sulit sekali menjadi orang pintar sebenarnya sehingga bersyukurlah jika kita memiliki kepintaran yang masih dalam ambang batas normal.

 

Nah disanalah awal mulanya. Karena eurus telah menjadi orang yang sangat jenius diusianya yang belia, tidak ada hal yang mampu memuaskannya. Ia butuh sesuatu yang sebanding dengannya. Disinilah ia melihat bahwa sherlock memiliki kepintaran yang bisa disandingkan dengannya. Ia melihat bahwa sherlock memiliki potensi untuk memahami hal rumit yang ia ucapkan atas lakukan. Pada tahap inilah, ia memiliki "harapan" terhadap sherlock.

 

Namun sherlock memiliki teman dan memilih bermain dengannya dibandingkan eurus. Pada saat ini, yang sebenarnya sangat normal terjadi pada anak kecil, eurus merasa cemburu. Ia iri terhadap teman sherlock dan ingin temannya menghilang saja. Sangat normal bukan? Kecemburuan anak-anak. Sebenarnya ini sangat normal terjadi bahkan saya sendiri juga pernah merasakannya saat kecil. Bahkan rasa cemburupun normal dirasakan orang dewasa namun lebih terkontrol. 


Nah dalam kasus Euruspun, sebenarnya yang ia rasakan sangat normal sebagai anak-anak. Hanya saja karena eurus tidak memahami prinsip moralitas dan karena ia "mampu" melakukannya, ia membunuh victor, teman sherlock.

 

Tapi ternyata tidak seperti yang ia harapkan, meskipun Eurus sudah membunuh victor, ternyata sherlock tidak juga bermain dengannya. Karena itu rasa kesepian yang dimiliki Eurus semakin menjadi-jadi. Dan karena tidak ada yang memahami dia, dan justru mengurung Eurus, ia jadi tidak dapat menyalurkan emosinya dan justru malah membuatnya semakin parah.


Pada scene terakhir, memperlihatkan bahwa ternyata anak kecil yang berada di dalam pesawat itu adalah eurus. Ia telah terkurung dan ketakutan di atas pesawat itu sejak lama, yang sebenarnya adalah pikirannya sendiri. Ia terjebak dalam pikirannya, dan tahu bahwa hanya sherlock yang bisa membantunya. Akhirnya sherlock memahami bahwa sebenarnya permintaan eurus sangat sederhana. Ia ingin berada pada kehidupan sherlock. Ia ingin dapat dipahami, dan ingin bermain bersamanya. Sesederhana itu.

 

Karena itu pada saat sherlock hendak menembak dirinya sendiri, eurus panik dan membius sherlock. Karena sejak awal ia tidak membenci sherlock. Justru ia membutuhkannya. Hanya sherlock yang bisa memahaminya.

 ***

Begitulah analisis psikologis pada film Sherlock. Sangat rumit dan indah. Jarang sekali film yang memiliki kekayaan informasi implisit seperti film ini sehingga aku cukup yakin belum akan ada film yang bisa menggantikan Sherlock sebagai film favoritku dalam waktu dekat. Tapi aku berharap semoga akan ada nantinya, film-film yang mampu membuat kita belajar banyak dan bisa dianalisis seperti ini. 

Au revoir sherlock. Kamu memiliki ending yang sangat luar biasa sampai aku tidak berharap seriesmu dilanjutkan. Itu sudah menjadi ending terbaik yang bisa dimiliki sebuah film series. Terima kasih :')

***

Bonus : Penjelasan secara Biologis ketika Sherlock ditembak oleh Mary

Ok jadi, aku bukan ahli di bidang biologis but I obviously love biology! Jadi ketika melihat scene Sherlock ditembak oleh Mary pada episode The Last Vow, aku ga bisa tidur mikirin "apa penjelasan ilmiah dari yang Sherlock lakukan saat itu?"

Dan akhirnya aku membuat suatu bagan proses dari yang terjadi di otak Sherlock :



Jadi inilah yang bisa aku temukan dan rangkum untuk mendapatkan penjelasan dari pertanyaan-pertanyaanku.

"Apa yang terjadi saat seseorang tertembak?"

Jadi yang kudapatkan, orang yang tertembak, satu, ia akan mengalami pendarahan, kedua ia akan mengalami sakit yang luar biasa.

Nah rasa sakit ini membuat tubuh merasakan "stress", yang kemudian mendorong otak untuk mengaktifkan saraf vagus di bagian leher untuk mengirimkan sinyal "relax" ke tubuh, yaitu dengan memperlambat detak jantung, dan tekanan darah. Sinyal ini yang membuat kita merasa lemas setelah dipukul misalnya. Dalam kasus-kasus tertentu, saraf ini juga yang membuat kita pingsan.

Tapi sistem ini punya efek yang justru menurunkan pasokan oksigen ke sel tubuh karena detak jantung kita melemah, sementara tubuh butuh oksigen. Karena itu setelah mekanisme ini terjadi, tubuh kemudian mengaktifkan sistem lain, yaitu syok, kondisi di mana tubuh 'panik' karena kehabisan oksigen, lalu malah jadi nggak karuan mempercepat detak jantung dan meningkatkan tekanan darah. 

Kondisi syok ini yang justru bisa membunuh karena kan ada pendarahan, kalau detak jantung dan tekanan darah meningkat justru bisa membuat kita lebih kehilangan darah. Akhirnya bisa berujung kematian.

Di sinilah Sherlock berusaha untuk tidak mengalami syok. Caranya adalah ia mengendalikan stress yang timbul karena rasa sakit. Ada istilah lainnya, ia mengendalikan rasa sakit itu. Karena ia mencegah dirinya untuk tidak pingsan, ia harus secara sadar mengendalikan rasa sakit sehingga tubuhnya tidak akan masuk ke fase syok secara otomatis.

And tadaa! itulah penjelasan ketika Sherlock ditembak oleh Mary. Udah bisa tidur nyenyak deh sekarang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku adalah Alam

Curahan Hati #2