Postingan

Pregnancy Journey - Petualanganku saat Menjadi Bumil

Menikah Aku menikah di usia 27 tahun. Usia yang sempurna (menurutku) di waktu yang sempurna. Kenapa aku berpikir begitu? Karena di usia tersebut: Aku sudah merasakan berbagai variasi kehidupan dalam keadaan single;  Jadi anak rumahan dengan orang tua yang protektif pernah, jadi anak rebel yang punya banyak kegiatan di luar (club fotografi, silat, paskib, rohis, osis, dsb) sampai diam-diam pulang malam, jadi anak rantauan yang super bebas di kota orang dan merasakan kehabisan uang di awal bulan (dan ngga mau bilang ke orang tua karena ini uangnya habis karena aku sendiri, bayar utang habis ngilangin barang orang) sampai makan aja harus minta sesuap-sesuap dari orang, pernah. Sudah menyelesaikan studi ke jenjang perguruan tinggi; S1 sudah selesai, dengan segala kenangan manisnya, kenangan pahitnya, strugglenya. Merasakan segala kegiatan mahasiswa yang bermacam-macam, mengatur keuangan dengan ketat, bertualang ke kota-kota yang jauh sampai ke pulau-pulau sebrang tanpa ketahuan orang t...

Cara Membuat KK baru

Gambar
Aku dari Kota Bekasi, suami dari Kabupaten Bogor, kita mau pindah ke Kota Depok dan membuat KK di sana. Sayangnya kami berdua bekerja sebagai karyawan swasta dan sulit sekali untuk mengajukan cuti. Cuti pun, yang baru bisa mengajukan hanya suami karena aku hitungannya pegawai baru. Tapi somehow kayak nggak tenang kalau minta suami urus, apalagi kalau belum di riset dulu gimana cara ngurusnya. Akhirnya aku coba cari lewat mbah gugel, kira-kira bisa nggak ngurus dokumen KK tanpa harus datang ke RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Disdukcapil, dsb. Dulu ngurus surat nikah sendiri aja, berhari-hari minta ampun lamanya karena bolak-balik prosesnya (waktu itu aku masih mahasiswa jadi masih bisa ngurus sendiri secara offline begitu). Sempat mau menyerahkan ke biro jasa, tapi mahal banget ya Allah 3 juta. Orang baru menikah kan punya segudang keperluan ya, kayaknya nggak kuat kalau harus bayar segitu. Setelah mencari dengan harapan adanya kekuatan pasca pandemi untuk mengubah seluruh lini bisnis men...

Air

Apa kamu tahu rasanya merdeka? Bukan tentang politik atau negara Aku sedang bicara tentang rasa Yang dinyana kita kendalinya Alas , rupanya sebaliknya Ragam jiwa merana mencari ahlinya Karena rasa ternyata rajanya Yang mengatur laku, cara dan asa Nyata, rasa pengaruhi kata Nyata, rasa pengaruhi cinta Kamu tahu? Kalau manusia mencari harmoni Bersauh jauh, merdeka atau mati Aneh bukan? Hati mereka saja tak bisa diganti Pada akhirnya manusia bukan pemegang kemudi Rasa, nahkodanya Rasa, juru kuncinya ... Dan itu, tidak mengapa.. Jadi.. Jika dirimu berduka, akuilah Jika dirimu sepi, katakanlah Atau jika dirimu ragu, untuk mengatakan semua, setidaknya tuliskan semua dalam puisi yang tiada siapa yang membacanya Semoga, hatimu, mengalir, melepaskan, mengikhlaskan,  untuk merelakan dirimu menjadi bahagia

Lampu Kuning Jatuh Cinta

Jangan mengambil keputusan, ketika kamu sedang jatuh cinta. Dan jangan menilai karakter seseorang, ketika ia baru mencintaimu Layaknya emosi lain yang mengambil alih logika ketika sedang meluap, jatuh cinta pun menghasilkan tumpulnya rasionalisasi yang dimiliki seorang manusia. Ku rasa, orang yang pernah jatuh cinta di masa lalu dan saat ini tidak, akan menyetujui statement tersebut. Apalagi, ketika perasaan cinta tersebut diiringi hasrat untuk memiliki, untuk tidak kehilangan, untuk selalu dekat, untuk mencapai target "mendapatkan". Rasanya, kita tidak lagi menjadi diri kita. Pada akhirnya, lebih banyak hal yang disadari di kemudian hari, membuat kita bertanya-tanya, "mengapa dahulu aku melakukan itu?" (jika kamu yang jatuh cinta) atau "mengapa dia tidak seperti dulu lagi?" (jika orang lain yang jatuh cinta padamu). Kenyataannya manusia jarang berubah. Yang ada, hanya perilaku sementara yang mengiringi perasaan. Ketika sebuah perasaan meluap, terjadilah p...

Gadis abu-abu, lembar ke 3

 "Nikmatilah hari ini, karena hari ini hari terakhirku berdiam diri dan terus membiarkan semua mengalir. Aku memang hanya biru air yang menggenang di ladang penuh ilalang. Tapi lembut tangan itu telah menyentuhku dengan begitu damai. Sungguh lembar daun kosong yang sudah jatuh tertiup angin ini telah terisi kembali dengan sebuah abu yang akan kujadikan biru. "

23.12

Jam 23.12 Bukan waktu yang istimewa Tidak ada acara, yah biasa saja Hanya duduk di atas kasur di dalam rumah seseorang tempat menumpang Sedikit menambah kesadaran, aku merasa-rasa segala syaraf yang masih terjaga Kepalaku berdenyut, masih ternyata dari tadi siang Napas yang agak lebih pendek dari biasanya juga Sepertinya aku... Ah ya, dan aku pun lupa makan malam lagi Tubuhku haus tapi lupa minum air lagi Rasanya malas untuk beranjak ditambah suasana hati yang kelabu... Sepertinya aku... Lelah dan mungkin sedikit kesepian Tapi kepalaku yang berdenyutpun menolak untukku berpikir tentang logika  ataupun merasakan emosi Padahal aku sedang dikunjungi tamu bulanan, yang biasanya jadi hak 'prerogatif' cewek untuk marah-marah Tapi jangankan itu untuk bersedih pun tak bisa Atau mengeluhpun, tak bisa Tapi buat apa juga merasakan hal-hal itu? Yah Sepertinya aku.. mungkin lelah

Membiarkan Anak Terluka?

 Ini adalah pengalaman mengenai hal-hal yang kuobservasi dari suatu acara berkemah alumni.  Jadi, dulu aku kuliah di jurusan psikologi sebuah kampus. Katakanlah, kampusku memiliki ikatan yang kuat dengan alumni-alumninya sehingga aku mengenal banyak senior yang sudah berumur 10, 20 tahun lebih tua dariku. Tentu saja, kebanyakan mereka sudah berkeluarga dan punya anak. Dan disinilah, aku belajar parenting secara tidak langsung. Hari itu merupakan reuni alumni, yang diadakan di daerah Bogor. Ya, acara berkemah santai, dimana para alumni dapat membawa keluarganya dan kita makan, tidur, dan bernyanyi di suatu lapangan, diantara tenda-tenda. Sepertinya ada sekitar 20 tenda yang berdiri, bahkan beberapa membawa tendanya sendiri agar dapat memiliki privasi untuk tidur dengan keluarga kecil mereka.  Malam, di Api Unggun Seperti acara-acara berkemah yang pernah diselenggarakan sebelumnya, pasti selalu ada api unggun dan gitar. Di sini, pada alumni-alumni senior, banyak menyanyikan...