Pregnancy Journey - Petualanganku saat Menjadi Bumil

Menikah

Aku menikah di usia 27 tahun. Usia yang sempurna (menurutku) di waktu yang sempurna. Kenapa aku berpikir begitu? Karena di usia tersebut:

  • Aku sudah merasakan berbagai variasi kehidupan dalam keadaan single; 
    • Jadi anak rumahan dengan orang tua yang protektif pernah, jadi anak rebel yang punya banyak kegiatan di luar (club fotografi, silat, paskib, rohis, osis, dsb) sampai diam-diam pulang malam, jadi anak rantauan yang super bebas di kota orang dan merasakan kehabisan uang di awal bulan (dan ngga mau bilang ke orang tua karena ini uangnya habis karena aku sendiri, bayar utang habis ngilangin barang orang) sampai makan aja harus minta sesuap-sesuap dari orang, pernah.
  • Sudah menyelesaikan studi ke jenjang perguruan tinggi;
    • S1 sudah selesai, dengan segala kenangan manisnya, kenangan pahitnya, strugglenya. Merasakan segala kegiatan mahasiswa yang bermacam-macam, mengatur keuangan dengan ketat, bertualang ke kota-kota yang jauh sampai ke pulau-pulau sebrang tanpa ketahuan orang tua (karena ngga akan diizinkan), diakhiri dengan wisuda yang seru karena keluarga besar dan sahabat hadir semua ke jogja. 
    • Lalu jeda dua setengah tahun, merasakan gagal berkali-kali untuk masuk S2, merasakan nyoba tes masuk ke berbagai universitas S2 secara online (karena pas pandemi), yang ngga ketemu siapa-siapa, hubungan yang agak-agak awkward dengan teman sekelas, dengan pembelajaran yang juga agak awkward karena jarak jauh. Stress karena berbagai masalah yang ditemui di akhir-akhir masa kuliah, sampai akhirnya selesai dengan baik (alhamdulillah wisudanya offline hehe)   
  • Sudah merasakan bekerja serta mendapatkan uang;
    • Pernah jadi freelance, pernah magang, pernah kerja- dengan gaji UMR, merasakan kerasnya ibukota, harus naik transportasi umum ketika macet masih luar biasa, sambil ambil kursus sampai sering sampai rumah jam 11 malam. Lalu saat S2 masih berjalan (di semester akhir) alhamdulillah diterima di perusahaan startup, sempat merasakan kerja sambil kuliah, bahkan merasakan kerja, sambil kuliah, sambil persiapan nikah
  • Dan akhirnya menikah ketika status masih sebagai mahasiswa, sebagai karyawan startup yang bekerjanya sendirian sebagai generalis, dan sukses #wisudabawapasangan hehe

Dan berbagai pengalaman lainnya yang membuat hidupku ngga abu-abu banget. Banyak roller coaster dan hasil dari pengambilan risiko yang ngga berhenti-berhenti. Intinya, aku merasa sudah siap meninggalkan masa singleku, menikah dengan orang yang baik, di waktu yang baik. 
Pernikahanku pun, nano-nano juga, dengan cuaca yang baik - terang dan hujan selama acara, benar-benar menggambarkan aku-kami- yang berupa-rupa, tidak sempurna, namun keseluruhannya khidmat serta indah untuk dikenang.


Tahun Madu

Dari awal, kami memang tidak berencana untuk langsung punya anak. Mungkin menunda sekitar 3 bulan- maksimal 6 bulan. Pertimbangannya selain karena aspek finansial, mental juga. Aku dan suami kebetulan ngga pacaran (oke kenal dan sahabat baik tapi ngga official pacar), jadi kami merasa perlu untuk merajut intimacy antara kami berdua dulu. Menjalin kebersamaan dan terbiasa satu sama lain dahulu. Membiasakan cara kerja dan cara komunikasi satu sama lain, sebelum punya anak. 

Namun takdir berkata lain #jengjeng ternyata perusahaanku ngga mengizinkan aku hamil dulu. Alasannya sebenarnya masuk akal, karena aku masih sendirian dan perusahaan belum mampu untuk hire orang tambahan untuk jadi tim. Meskipun sebenarnya secara hukum ngga boleh gini, tapi situasinya ngga memungkinkan aku untuk berhenti kerja. Kami belum stabil secara finansial.. jadi..

Setahun, aku harus menunda...


Ya, awalnya memang sedih dan berat, tapi every cloud has silver lining, selalu ada hikmah dibalik segala hal.  Kami jadi punya waktu lebih lama berdua, menikmati setiap prosesnya, mengenal satu sama lain lebih dulu.

Tapi lama kelamaan penundaan wajib ini membuat suatu efek samping yaitu stress. Bukan karena menundanya, tapi karena kekhawatiran yang berlebihan bahwa aku tiba-tiba hamil. Hal ini karena kebetulan siklus menstruasiku kurang teratur, jadi bisa siklusnya berlangsung sampai 40 - 50 hari. Jadi waktu terlambat haid ini, aku akan diterpa kekhawatiran karena tidak tahu ini memang terlambat dari akunya, atau jangan-jangan hamil. Dan periode stress ini berlangsung selama berbulan-bulan.

Pada akhirnya aku merasa kecemasan ini sudah tidak sehat, karena cukup berpengaruh ke mood sehari-hari, dan aku sangat tidak suka ketika pada akhirnya memandang kehamilan sebagai sesuatu yang negatif. Aku mau ketika aku hamil aku bahagia gitu loh, ini malah takut hamil kan nggak banget. 

Di saat ini lah kebetulan ada tawaran kerja di tempat lain. Dilalah aku coba ternyata lolos, meskipun aku belum setahun di perusahaanku saat ini, tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya kuputuskan pindah kerja. Kebetulan perusahaan yang menawariku ini memiliki komitmen yang cukup baik akan hak karyawan, termasuk hak untuk hamil. Maksudnya, ngga ada masalah gitu kalau aku masuk kantor lalu langsung hamil. Selain itu secara benefit juga cukup baik, jadi dengan bismillah aku mengundurkan diri dan masuk ke kantor baru.

---

Ternyata, keinginan untuk langsung hamil ngga juga terjadi. Ada periode "berusaha" untuk hamil, kami coba cek ke dokter, ikhtiar seperti minum jamu-makan makanan sehat, memperbaiki diri, sikap serta mental untuk menjadi ibu, dan berdoa kepada Allah. 

Tapi mungkin periode berusaha ini lah yang membuat nikmat. Karena keinginan kami tidak langsung dikabulkan, aku merasa hal ini lah yang bisa membuat seseorang jadi lebih menghargai ketika "dikasih". Nggak terasa sudah setahun kami menikah


Kehamilan


Saat itu seperti hari-hari biasanya, aku menjalani hari sebagai pekerja kantoran. Hanya saja ada rasa-rasa tidak enak, atau begah, atau nggak nyaman di area perut bawah. Dalam hati, aku sempat berpikir apakah ini salah satu tanda hamil? tapi sebelum-sebelumnya ada banyak hal yang mirip sebagai tanda tapi ternyata bukan hamil. Aku cari tahu reaksi teman-teman kantor tentang sakit perutku tapi mereka selalu bilang "mungkin mau haid ya?" ngga ada yang curiga tentang aku hamil.

Setelah beberapa hari berlalu, aku mau iseng coba testpack lagi. Karena habis stoknya, jadi perlu beli dulu dari online marketplace. Setelah sampai, hari itu juga, meskipun waktunya malam hari, aku cek begitu sampai rumah dari kantor.

Garis 2

Aku takjub, ada perasaan senang, ada penasaran. Aku coba ambil lagi testpack lainnya. Garis 2 lagi. 

Ini serius nihh

Excited, tapi kayaknya waktunya ngga pas untuk kasih tau suami. Lagipula, bisa jadi ngga sih ini false positive? apakah testpack malam hari mempengaruhi hasil jadi positif? Kayaknya pernah baca bahwa harusnya sih ngga, malah cenderung ke negatif karena hormon Hcg lebih rendah malam hari. Jadi harusnya hasilnya betul nih

Malam itu juga aku minta Pak Suami untuk beli testpack di apotik. Kuminta untuk beli beberapa merk supaya lebih valid. Ngga pakai tanya-tanya, jam 1 malam lah dia beli testpack itu

Pagi Harinya

Aku coba tes lagi. Karena ada 3 testpack beda merk, kucoba semuanya.
Saat sedang menunggu hasilnya keluar, kubangunkan suami dan kuajak untuk melihat hasilnya bersama-sama

Masih mengantuk-ngantuk, kuambil satu testpack (dari yang paling murah kayaknya). 

Garis 2.

Satu testpack lagi. Garis 2.

Satu testpack lagi (yang paling mahal). Garis 2 juga

Pak Suami bengong

"Kamu hamil?"

Ha-ha-ha

Antara lulungu masih ngantuk, takjub dan heran, dan asing rasanya.

Pada akhirnya pagi itu kita tidur lagi karena masih ngantuk.
Tapi kami sepakat untuk cek ke bidan dulu untuk memastikan beneran hamil

Sore itu kami ke bidan di klinik dekat rumah. Klinik tersebut sudah kutargetkan untuk jadi tempat bersalin sejak jauh hari (sejak kami mau pindah ke Depok). Di klinik tersebut bidan bisa melakukan usg 2D.

Kami reservasi untuk dapat melakukan check-up. Di pemeriksaan, bidan mengatakan bahwa belum terlihat apapun di rahim, tapi ada penebalan dinding yang biasanya merupakan indikasi awal kehamilan (dan mungkin juga yang menyebabkan perasaan begah sebelumnya). Katanya mungkin dua minggu lagi baru akan kelihatan kantongnya jika memang hamil.

Kami coba untuk merendahkan ekspektasi terlebih dahulu. Tapi kami merencanakan akan ke dokter di lain waktu untuk pengecekan lagi dari spesialis obgyn.

Sebelum sempat ke dokter, di perumahan kami mengadakan acara main badminton bersama. Pada dasarnya aku suka bulu tangkis, dan karena kami melabeli diri dengan "belum tahu apakah hamil atau nggak", kami putuskan bahwa aku bisa ikut main. Tapi no lompat-lompat. Ya pada akhirnya ada sedikit lompat dan lari-lari kecil karena terlalu semangat. Hehe

Baru di minggu depannya, di weekdays, karena WFH dan tidak terlalu banyak pekerjaan, kami pergi ke Obgyn di rumah sakit dekat rumah orang tua. Aku merasa tidak sabar karena penasaran sekali apakah aku betul-betul hamil atau tidak. Selain begah, belum ada gejala hamil lainnya. Akhirnya pergilah kami ke dokter.

USG 2D dilakukan kembali, dan rasanya kecewa karena katanya belum terlihat apapun kecuali dinding rahim yang menebal. Teringat salah satu perkataan sahabatku, katanya kalau awal-awal hamil, coba lakukan USG transvaginal. Aku tanyakan ke dokter apakah opsi tersebut tersedia dan beliau bilang, "Bisa, mau transvaginal sekalian?", kami mengiyakan

Sebuah alat berbentuk panjang (kalau kubilang mirip alat pengeriting rambut), dimasukkan dalam plastik (?) steril dan diberikan semacam gel. Kemudian di "sodok" ke tepi vagina. Dari monitor, muncul sebuah gambar, semacam lingkaran dengan 'biji' bulat ditepinya 
"ini udah keliatan!" kata dokternya, sebenarnya biasa saja ngomongnya
tanpa menjelaskan apapun beliau menekan tombol dan melakukan sesuatu dan tiba-tiba terdengar suara dug dug dug dug 
"ini bunyi detak jantungnya", katanya "normal"

aku terkesima

(bodohnya aku berpikir bahwa jantung janin baru berdetak nanti di bulan kesekian)

Fix sudah, aku hamil
Akhirnya... aku hamil
huaa,, akan gimana nantinya?

Trimester Pertama


Awal-awal hamil, aku belum merasakan apa-apa, tapi di minggu entah ke7 atau ke8, muncul gejala lain yang banyak sekali seperti mual, muntah, lemas, yang cukup (atau sangat) mengagetkan, terutama untuk orang yang memang jarang muntah dan tidak ada riwayat lambung. 

Rasanya seperti orang sakit
Rasanya seperti orang lain

Aku merasa tidak bisa fokus bekerja di kantor. Constantly shivering, lemah lunglai lesu. Dan yang terburuk, minum air terasa menyiksa. Rasanya sangat tidak enak. Makanan yang bisa masuk pun terbatas. Pada akhirnya kami perlu mencari merek air tertentu untuk bisa kuminum

Hal yang menyedihkan adalah ketika Pak Suami mencoba untuk memasak untukku. Beberapa kali ia memasak makanan yang enak seperti jamur dan kangkung. Aku suka kangkungnya, kumakan semua. Tapi ngga lama setelah habis, hoeekkk yah keluar semua. Pak Suami jelas tahu itu bukan salahku, tapi tetap saja sedih :')

Selama kehamilan ini juga Pak Suami berusaha untuk selalu ada berjaga untukku, sampai bekerja pun ia akan berangkat kerja bersamaku, menurunkanku di kantor, dan bekerja di tempat makan/kafe terdekat, hingga pulang ia menjemputku lagi. Kalau di tanggal genap, ia akan menurunkanku sampai stasiun kereta dan aku akan melanjutkan perjalanan dengan kereta. 

Ada masa dimana aku merasa sudah capek sekali dan merasa ngga bisa kerja, sehingga kami konsultasi ke bidan apakah kami butuh penanganan tambahan. Singkat cerita, akhirnya aku dirawat di klinik bidan tadi (atas rekomendasi dokter di klinik tersebut) selama 3 hari. Saat itu usia kandungan adalah 12 minggu 

Saat dirawat, salah satu obat yang disuntikkan melalui infus adalah ondansentron atau obat mual.
Hal ajaib terjadi

MUALKU HILAANGG

Wah rasanya seperti surga saat mual-mual hilang dan bisa makan dengan enak. Rasanya selama ini aku selalu take everything for granted termasuk nikmatnya makan. jadi gini ya bisa nikmatin makanan batinku. Betul-betul aku makan banyak saat itu, selain karena aku juga takut setelah keluar dari klinik, mual-mualku kembali. Hehe

Trimester Kedua


Masuk ke 13 Minggu, seusai aku dirawat, mualku masih timbul tapi entah kenapa lebih bisa ditangani. Nafsu makanku membaik meskipun kadang perlu jenis makanan spesifik yang bisa masuk seperti cream soup, soto, gado-gado, ya makanan-makanan itulah yang paling sering masuk. 

Kemudian untuk pertama kalinya aku merasakan suatu gerakan dari dalam perut. Meskipun sangat-sangat samar, tapi mungkin karena saat dirawat di klinik, bidan disana sering melakukan pengecekan detak jantung janin, aku jadi merasa lebih aware dengan gerakan yang ada dalam perut. Dan di situ, aku yakinn sekali, ini bukan gerakan gas. Gerakan gas memang mirip, tapi ini spesifik, lebih.. terpusat.. intinya aku yakin sekali itu gerakan bayi dalam perutku, meskipun belum bisa diraba oleh tangan atau terlihat secara kasat mata

Baru di sekitar 16 minggu, gerakan khusus tersebut terasa lebih kuat sampai bisa terlihat, terutama ketika aku menggunakan celana dalam dan karetnya melintang di atas perut, gerakan tersebut akan terlihat melalui gerakan karet celana. Aku girang dan sering sekali memanggil Pak Suami untuk menyaksikan setiap ada gerakan. Sering juga gerakan tersebut konsisten dan berulang-ulang selama sekian menit. Aku rasa, dari yang kubaca, janin di dalam sedang cegukan. Apakah cegukan sudah bisa terjadi di usia semuda itu?

Meskipun sudah cukup lama hamil, tapi di periode ini lah aku baru merasa bahwa ada sesuatu di tubuhku, sesuatu itu nyata, dan bukan merupakan bagian dari organ dalamku. Ini sesuatu yang asing, tumbuh, ada orang lain. ada seseorang yang bersamaku. Disinilah, setiap aku merasa kesepian, aku nggak pernah benar-benar merasa sendirian. 

Karena jujur, di masa kehamilan ini, aku merasa sepi sekali. Sulit bersosialisasi, dan sepertinya tidak cukup banyak hubungan intim yang kumiliki dengan siapapun (oh kecuali suamiku ya). 

Saat hamil ini lah akhirnya aku mencari game spesifik yang kuharapkan bisa membantuku mendapatkan teman di luar sana. Dari sinilah aku menemukan Sky : Children of the Light. Permainan yang bagus sekali, dan aku berkenalan dengan banyak orang yang positive vibes, serta menjadi supportku

Di banyak kesempatan, aku main Sky untuk menghilangkan kejenuhan dan rasa sepi. Ini sudah menjadi mainan wajib sepanjang kehamilanku. Sepertinya aku mulai bermain sekitar November atau Desember 2023.

Btw aku menyadari sekali kerentanan imun tubuhku, terutama akan melemah kalau aku stress. Pernah beberapa kali aku sakit tepat setelah aku berkonflik dengan suami. Jadi memang, always happy memang obat yang sangat ampuh untuk tetap sehat

Sekitar 5 bulan atau usia kehamilan 20 - 23 minggu, gejala-gejala kehamilanku seperti mual muntah lemas, dan yang belum kusebutkan tapi cukup intens kurasakan adalah hypersalivating, itu hilang semua. Di waktu tersebut lah aku mendapatkan diriku kembali, aku merasa bisa melakukan apa saja karena tenagaku kembali, makan enak, serta aku pun sudah bisa berpikir dan berperilaku seperti sebelumnya. Malah mungkin bisa berinteraksi dengan lebih smooth karena aku hamil, dan orang akan selalu bisa membuat topik seputar kehamilan. 

Sampai usia 6 bulan, waktu itu memasuki bulan puasa, aku memutuskan untuk ikut puasa. Kupikir, kucoba saja, aku merasa aku tetap bisa mendapatkan cukup nutrisi dari sahur dan buka. Aku sudah bisa makan banyak, dan selama ini juga aku cukup kuat untuk menahan lapar, aku rasa aku bisa.
Di minggu-minggu ini, perutku belum benar-benar terlihat, masih banyak orang yang terkejut ketika mengetahui aku hamil (bahkan ada orang kantor yang baru tahu ketika usia kehamilanku sudah di atas 35 minggu!). Meskipun begitu, dokter dan bidan menyatakan kehamilanku sehat, dan janin juga sudah berputar dengan kepala di bawah, dan yang penting juga, alhamdulillah aku bisa melewati sebulan puasa tanpa masalah. 30 hari penuh! Mashaallah

Trimester Ketiga

Masuk ke 7 bulan, atau sekitar 28 minggu. Dari mama meminta untuk dapat dilakukan acara nujuh bulanan. Hadeh, sebenernya menurutku ngga penting. Tapi ya karena orang tua yang minta, yaudah deh. Hitung-hitung untuk kenangan juga.

Kami memutuskan melakukan acara nujuh bulanan apa adanya. Pengajian ibu-ibu, mandi kembang, ganti kain batik 7 kali, sama apa tuh yang mecahin telor, sama jualan cendol. Sejujurnya di hari H aku ngga punya persiapan apa-apa dan ga dibriefing apa-apa. Murni cuma ngikutin arahan aja, bebas lah mau ngapain. Kami nujuh bulanan di rumah keluarga di bekasi, serta mengundang saudara-saudara Pak Suami dari Bogor. 

Meskipun tidak megah dan mewah, tapi cukup ramai dan cukup menyenangkan. Kami tambahkan satu acara lagi yaitu gender reveal ke keluarga melalui kue soes, filing creamnya diwarnai pink. Hihi iya, anak kami perempuan. Sebenarnya sudah diprediksi cukup lama ketika di 4 bulanan ya? Dokter bilang tulang panggulnya seperti perempuan. Kebetulan saat itu aku juga sedang mengajak mertua untuk lihat proses pemeriksaan hamil di dokter. Perihal prediksi perempuan itu, ngga ada yang nanya, somehow dokternya yang jelasin sendiri. Hal ini kemudian divalidasi oleh bidan di klinik yang mengatakan bahwa si jabang bayi perempuan, dengan gambar yang sangat jelas menunjukkan alat kelaminnya hihi.. 

Di Trimester 3 ini, gejala yang dirasakan tidak banyak, tapi intens dan lebih ke arah menyebalkan, meskipun seru juga. Misalnya jadi sering pipis, si janin juga sering menendang ke pojok kanan atas, berat terasa di bagian selangkangan, sampai kadang kesemutan dan di akhir-akhir kaki tangan (terutama kaki jadi sangat bengkak). Tapi ngga terlalu banyak mengganggu aktivitas, malah aku kembali lagi jadi pengguna transportasi umum, jalan kaki dari Blok M ke kantor, pulang larut malam jam 9 dari kantor sudah sendirian (karena mengejar tugas selesai sebelum cuti), dll. Di bulan kedelapan, aku malah sempat ke Dufan karena acara gathering kantor, ya meskipun ngga bisa naik yang ekstrem seperti yang biasanya kusuka, tapi kapan lagi ke Dufan pas hamil? Ngga akan sih kalau ngga dibayarin hihi

Menjelang cukup bulan, sekitar di usia 36 Minggu, aku sempat ikut senam hamil di RS biasanya aku konsultasi. Asik juga senam-senam bersama bumil lainnya, tapi karena kehamilanku sudah besar, jadi itu kesempatan terakhirku untuk senam (kalau lebih tua kayaknya takut kontraksi? Entahlah). Oh ya aku juga masih santai aja bawa mobil sendiri ke RS hihi. Pernah juga konsul ke Faskes 1 yang dicover BPJS, diindikasi perutnya kecil jadi disuruh minum energen kacang hijau setiap hari + eskrim. Kalau sekarang dipikirin konyol juga masukannya secara itu gula semua yang masuk tapi aku sih senang sekali melakukannya hihi. Enak.

39 Minggu 6 Hari

Minggu 39 pas, adalah waktu yang dijadwalkan untuk aku bertemu Bidan kepala di klinik tempat aku berencana bersalin. Tapi sayangnya di hari tersebut Bidan tersebut cuti nikah, sehingga perlu dimundurkan 6 hari. Agak khawatir sejujurnya karena konsultasi sudah harus seminggu sekali harusnya karena perubahan bisa sangat cepat setiap harinya. 

Di hari tersebut, kami sudah lakukan booking konsultasi, kemudian berangkat dari rumah. Saat itu aku kondisi sudah cuti hamil selama 4 hari (tapi sebelumnya juga sudah diizinin WFA selama seminggu) jadi aku berangkat dengan kondisi suami jam istirahat kerja. 

Saat kami konsultasi, tak disangka janin sudah cukup besar di 3,3 kg melalui USG, padahal rasanya 2 minggu lalu masih di 2,x. Dikarenakan klinik tersebut Pro Normal dan melihat dari usia kehamilan sudah cukup dan berat sudah besar, sang Bidan mengintruksikan untuk dilahirkan di hari itu juga. 

Kaget? Lumayan. Excited? hmm samar-samar. Mungkin ini lebih ke kayak eh? oh? eehh?

Kok rasanya aku ngga siap hehe..
I mean
Mulai hari ini aku jadi ibu? maksudku, nanti bakal ada makhluk lain gitu loh. ha ha..

Lagipula dari kemarin-kemarin belum ngerasain kontraksi. Oke, ada kontraksi tapi palsu semua, cuma nyeri-nyeri dikit. Gimana maksudnya tuh dilahirin sekarang?

Bidan tersebut mengintruksikan untuk memberikan pijat perineum plus obat (salep) untuk merangsang pengenduran cerviks. Tapi saat dilakukan, mashaallah sakit sekali. Pas dicek pembukaan (pertama kali di minggu 37 kalo ngga salah), itu baru pembukaan 2, barusan di cek pembukaan 2 masih, itu pakai pemeriksaan dalam. Ini metodenya mirip tapi bukan, aku pernah nonton di youtube waktu nyari tau tentang pemeriksaan dalam. Metode ini adalah membrane stripping yang adalah salah satu metode induksi. Bener aja lah ini.. 

Prediksinya di sore harinya lah akan terjadi kontraksi. Sebelum itu, klinik tersebut akan menyelenggarakan joget-joget dulu untuk merilekskan bumil yang mau lahiran, sekaligus merangsang untuk percepatan pembukaan. 

Setelah dipijit, kami memutuskan pulang dulu dan packing. Untungnya kami sudah siapkan kebutuhan dasar untuk lahiran, jadi tinggal ngambil, selanjutnya, makan, tapi karena waktunya sangat terbatas (cuma sejam untuk ke rumah dan balik, supaya bisa sampai klinik jam 3 untuk joget) jadi beli fried chicken aja dan makan di jalan wkwk. Sempet stop sebelum sampai klinik untuk ngehabisin dulu makanannya. Tapi eh ternyata kita yang pertama sampai di klinik (?) masih sepi

Sekitar mau jam 4 baru mulai joget-jogetnya, ternyata rame, ada 5 orang bumil lagi selain aku, dengan suami masing-masing. Suaminya ikut joget hehe..

Saat joget-joget, somehow ada kejadian ngga enak dan aku nangis. Oh itu karena Pak Suami jogetnya kayak awkward, dan kayak geli gitu, jadi ngga fun, terus aku bete lah.. wkwk
Tapi habis itu beliau minta maaf sih, lalu malah jadi sosweet hihi.. pas bagian yang slow dance gitu, berasa dunia milik sendiri

Selesai joget ditaruh di ruang observasi. Ada another bumil yang katanya dah disitu daritadi. Dia sempet manggil bidan beberapa kali karena katanya dah kontraksi, tapi di cek masih pembukaan 3. Dia bilang ini ngga mungkin langsung cepet kok untuk ke pembukaan atas (menenangkan). ngga lama dia dibawa ke ruang bersalin. 

Sementara aku masih di ruangan sampai lewat maghrib. Baru sekitar menjelang isya kali ya, dapat ruangan, dan upgrade, karena ruangan dengan kelas yang ku booking penuh, jadi ku dapat VIP, meskipun tidak beserta fasilitas tambahannya.

Btw lepas maghrib itu, aku mulai ngerasain kontraksi. Saat itu terjadi, barulah ku ngerti, ini toh maksudnya kontraksi intens cuma sekitar semenit, lalu intervalnya juga konsisten durasinya. gelombang cinta

Masuk kamar, sempat makan laper.. tapi kontraksi terus berlanjut.

Sekitar setengah 8, ketika ke kamar mandi untuk pipis, somehow apakah ketrigger atau apa, jadi makin intens, tambah sakit, sampai ke punggung, pinggul, duh udah ngga karuan sakitnya. Bingung titik sakitnya sebenernya gimana, dan ngga ngerti harus ngapain ketika gelombang itu muncul. 
Tapi aku masih bertahan ngga manggil bidan, aku khawatir sama seperti bumil di ruang observasi sebelumnya, takutnya aku cuma parno dan sebenarnya masih pembukaan kecil.

Jam 9, sakit udah masuk hitungan jam, udah tambah deket, dah ngga bisa sambil ngapa-ngapain. Rebahan aja sakit. Akhirnya aku minta Pak Suami manggil bidan. Bidan dateng kayak 5 - 10 menit kemudian. Langsung cek dalam. Jujur, udah ngga bisa bedain cek dalam sama kontraksinya karena sakit semua. Dia ngga bilang apa-apa selain bilang "udah pembukaan 7" lalu tiba-tiba "PYARRR!" aku ngerasain seperti ada gelembung pecah dan air merembes di bawah tubuhku. Sang Bidan berbicara ke walkie talkie "Bunda kamar VIP 4 pembukaan 10"

Ngga bisa kaget lah lemes sakit

Ngga lama, muncul bidan lain, dan memandu untuk memapahku berjalan (??) dalam hati ini serius aku harus jalan?? ngga brojol inii?? wkwk
Aku pun kayak ngga punya tenaga buat bersuara. Aku aware ngelewatin cowo sementara aku ngga pake kerudung, I wish I did take my hijab because I want to be fully covered when I deliver my baby. Tapi yasudahlah

Ruang Bersalin

Aku dipapah sampai ke sebuah ruangan. Sesaat, rasanya seperti ruang kalau kita ke dokter gigi, karena dalam bayanganku, kursi bersalin akan lebih panjang bentuknya. Ternyata bentuknya pendek, melebar ke kanan-kiri. Aku dipandu untuk bisa naik ke atas kursi berwarna pink itu, dengan lampu menerangi kanan kiri, serta diantara beberapa tiang-tiang besi yang aku lupa untuk apa saja. 

"Bapak, boleh disiapkan ya baju bayinya", sambil suamiku hampir beranjak pergi
"JANGAAN", aku merengek, ngga mau ditinggal
"sebentar aj-"
"nggaaa", aku berusaha menggeleng-geleng sambil kesakitan

Aku tidak mau ditinggal saat aku merasa lemah seperti ini
akhirnya salah satu bidan pergi untuk mengambil baju bayi dan perlengkapan lainnya. Suami menunjukkan tempatnya seadanya

Kontraksi terus datang dan pergi, rasanya tidak karuan. Aku berusaha mengmbil napas secara teratur, tapi kepalaku merasakan panik karena sakit yang tidak biasa. "Huwwee" sesekali ku merengek, tapi semua bidan yang hadir langsung memotong "Eits! tenang bunda tenang.. ambil napas, tiup..."
Mereka mengintruksikan untuk aku dapat memulai mengejan. Ternyata mengejan itu dilakukan ketika kontraksi datang. 

Jujur, waktu mengejan itu aku bahkan tidak tahu apakah aku melakukannya dengan benar atau tidak. 
Saat kontraksi timbul, doroonggg
kontraksi hilang, tahannnn 
OMG
ternyata menahan untuk tidak mengejan itu menyiksa juga

sekali
dua kali
tiga kali

aku yakin 10x juga sudah lewat. Aku yakin sudah tidak karuan di bawah sana, aku juga lihat sesuatu menciprat (ga bisa bayangin kalau aku mengeluarkan pipis atau pup di situ entahlah). Sudah cukup banyak aku mengejan tapi tidak keluar juga
Di sela rasa sakit, muncul kekhawatiran aku kehabisan tenaga. 

Setelah cukup lama, salah satu bidan yang berjaga di jalan lahir, berkata "kita gunting ya Bunda, karena ini ngga bisa keluar, leher rahimnya terlalu kaku, gapapa ya"
Aku mengangguk cepat. Jujur sekarang "tidak robek" bukan prioritasku. yang penting anakku keluar sehat. Aku pun sudah tidak bisa merasakan ketika perineumku digunting. Yang pasti, setelah mereka memintaku untuk mengejan lagi, sekitar 2 - 3x mengejan...

"OAAAA OAAAA AAAA"
Wah apa ini

Ya sepertinya itu bayi

Merah, bulat besar, kepalanya agak melonjong, mata puffy bengkak, bibir lebar
Ada rasa geli yang lucu juga di bagian bawah, karena plasenta masih di dalam dan tali pusat masih tersambung ke bagian dalam. Rasanya seperti sensasi kerongkongan ketika menelan kangkung tapi batangnya masih tertinggal di atas.

Mba Bidan segera meletakkan sang bayi ke atas dadaku.. Jujur, aku lupa bagaimana reaksiku selain lega, dan lelah.. akhirnya selesai. 
Sang bayi masih berteriak keras sekali, para bidan berkomentar "eehh cengeng yaa"

Salah satu bidan mencoba membantu melakukan IMD, dia mencubit putingku, mencoba mengeluarkan kolostrum. Sayangnya tidak ada yang keluar

"Gapapa, biar dihisap bayi supaya keluar"

Sang bayi pun berusaha mencari si puting, dia mulai tidak berteriak, meskipun mengeluarkan suara seperti rintihan yang lucu "hmmmng hmm hmmmng"
Setelah tiba-tiba plasentanya sudah keluar (ngga kerasa), mereka membawa sang bayi dan si plasenta ke sebuah meja dengan lampu yang terang. Sang bayi menangis lagi dengan kencang. 

Mba Bidan mengajak Pak Suami untuk membantu memotong tali pusat

Aku sangat penasaran dengan prosesnya, tapi tubuhku terasa lemas, beberapa kali rasanya ingin memejamkan mata tapi dilarang oleh para bidan. hadeh kenapa sih kalau aku ngantuk, lagian ini dah jam 11 malammm ngantuk normall huu. Untungnya Pak Suami minta untuk prosesnya direkam. Sebetulnya aku sendiri ingin setidaknya kondisiku di-foto. Tapi aku lupa pakai kerudung, huhu.. menyesal. Ingin minta tolong diambilkan tapi lelah, harap-harap Pak Suami peka untuk nanya, tapi yah.. yasudahlah

Salah satu Mba Bidan menjahit luka robek yang tadi dibuat. Sakit sekaliii.. Beberapa kali mereka berikan suntikan bius supaya tidak terlalu terasa sakit. Hik hik hik

Selesai lahiran, kami dikembalikan ke kamar. Sang bayi terlihat tertidur dalam bedongan. Muka apa itu haha.. sungguh terlihat merah dan bengkak. 
Rasanya takjub
Tapi natural saja
Ngga terasa bedanya antara aku yang sebelumnya, dengan aku telah jadi ibu (mungkin karena belum merasakan rasanya merawat anak)
Aku disuruh tidur sementara Sang Bayi berada di bassinet

Tengah malam tiba

Akhirnya, perjalananku sebagai Bumil sudah berakhir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Aku adalah Alam

Curahan Hati #2