Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Curahan Hati #2

Hai Sebenernya kurang tahu ini termasuk curhat atau nggak ya. Tapi berhubung emosinya sedih kalau dipikirin, jadi yaudah, dianggep curhat aja. Haha Kamu pernah kepikiran bikin bisnis nggak? Kayaknya jaman sekarang, setiap orang hampir pasti punya pikiran untuk berbisnis. Meskipun masih ada sebagian yang cita-citanya jadi pegawai kantoran, sih .  Aku sendiri, pertama kali mencoba membuat usaha, kelas 3 SD kalau nggak salah. Waktu itu, jualan jelly, nutrijell itu. Pastinya aku nggak bisa bikin nutrijell sendiri karena masih kecil belum ngerti pake kompor. Jadi caranya aku minta tolong dibikinin, dicetakin, dibeliin plastiknya, dan lain-lain. Aku jual waktu itu 3 cetakan (sebesar es batu) Rp.500,-. Kubawa ke kelas, dan kujual setiap jam istirahat. Waktu itu laris juga loh. Hampir setiap hari ludes. Kenapa berenti? Karena dimarahin orang tua. Katanya anak sekolah fokus aja belajar. Belum lagi, aku inget banget, karena aku belum ngerti konsep untung rugi. Rp.500,- per 3 butir, memangnya...

Curahan Hati #1

 Hai-hai,  awalnya aku nggak berminat untuk menjadikan blog sebagai sarana curhat. Tapi ternyata, tekanan dari hal-hal remeh sekari-hari tanpa adanya tempat menyalurkan emosi dan mengekspresikan kegelisahan, bisa bikin capek juga. Tiap orang punya cara coping stressnya masing-masing, ada yang bisa tenang dengan main atau dengerin musik, baca buku atau olahraga, kalau caraku sepertinya menulis. Jadi well.. di sinilah aku berbagi keresahan. haha.. semoga kalau ada yang baca, bisa membantu refleksi diri juga dan mungkin belajar sesuatu juga.  *** Masa kuliah.. Udah sekitar setahun aku menjalani kehidupan sebagai murid lagi, sebagai mahasiswa magister. Aku yang tadinya sudah bekerja, terpaksa harus resign karena jadwal kuliah yang -mau ga mau- reguler. Sebenarnya karena pandemi, kemungkinan untuk kuliah sambil kerja, bisa aja, kalau perusahaannya bersedia dikorbankan waktunya untuk karyawannya tiba-tiba kuliah pagi atau siang. Perusahaanku kebetulan nggak bersedia, jadilah ak...

Mengurus International Standard Book Number (ISBN)

 Halo semuanya! Pada tulisan kali ini aku ingin membagikan pengalamanku terkait penerbitan ISBN. Kenapa aku buat tulisan ini? karena sebagai seorang pemula, aku kesulitan banget saat ngurus ISBN ini, dan nggak ada orang yang bisa kutanya-tanyai. Googling juga, aku nggak menemukan instruksi atau arahan yang bisa membantuku. Jadi aku harap tulisanku ini bisa membantu orang yang membutuhkan. Biar nggak senasib sama aku. hehe Tulisan ini hanya untuk membagikan tahapan-tahapan penyusunan ISBN ya, bukan untuk menjelaskan fungsi dan tujuan ISBN. Kalau kalian mencari definisi dan fungsi ISBN aku sarankan bisa cari di artikel lain ya. Ok jadi aku akan bercerita, kenapa dan bagaimana aku mengurus ISBN ini 1. Menjadi Penerbit Awalnya, salah satu komunitas yang kuikiti berinisiasi menulis buku. Nah setelah selesai, kami kebingungan penerbit mana yang mau menerbitkan buku kami. Setelah didiskusikan, kami memutuskan menerbitkannya sendiri. Dengan uang kami juga tentunya. Untuk menjadi sebuah lem...

Pengalaman Sembuh dari COVID-19

Halo! Aku ingin melanjutkan tulisanku sebelumnya yang menceritakan tentang bagaimana awalnya aku terinfeksi covid-19. Yang mungkin ingin tahu, bisa cek ke sini ya Jadi lanjutannya, ini adalah cerita tentang bagaimana aku menjalankan isolasi mandiri selama 14 hari. Di rumah aku berjuang melawan covid bersama adekku, jadi kita isoman bareng-bareng. Spoiler aja, setelah 14 hari isoman, alhamdulillah aku dinyatakan NEGATIF Covid-19 melalui tes PCR dengan cut offnya CT >35. Awalnya di PCR pertamaku (3-4 hari setelah gejala pertama), aku dinyatakan positif dengan CT 24,13.  Tapi adekku, yang notabene mendapatkan gejala setelah aku (2-3 hari setelah aku bergejala, baru dia gejala pertama), dan menjalani isoman bareng-bareng sama aku, ternyata masih dinyatakan POSITIF dengan CT Value 28,42. Artinya masih infectious, masih menular. Padahal PCR pertamanya 13 hari yang lalu, CT Value dia 27,06. Artinya dia cuma naik 1 selama 14 hari isoman. Kok bisa?? Percayalah aku juga ga tau. Tapi mung...

Pengalaman sebagai Pengidap COVID-19

Gejala awal sekitar Kamis atau Jumat minggu lalu. Saat itu tiba-tiba saya batuk-batuk. Kupikir "ini kenapa nih batuk? perasaan nggak habis ngapa-ngapain?". Agak aneh karena merasa nggak ada triggernya. Tapi yang namanya manusia ya, bisa aja cocoklogi, atau menyambung-nyambungkan fenomena supaya secara psikologis merasa aman. Kupikir ini batuk biasa karena habis makan kue terlalu manis, jadi muncul radang, lalu batuk. begitulah Setelahnya mulai muncul gejala lain, badan lemas, mual, dan pusing. Tapi di saat yang sama, keluarga ngajak pergi untuk shopping ke mall. Sebenarnya aku termasuk yang cukup waspada masalah covid ini, jadi udah sempat bilang "kayaknya aku jangan ikut deh, karena lagi batuk-batuk". Sayangnya determinasiku kurang kuat dibandingkan rasa tidak tegaku kepada keluargaku yang berharap aku ikut. Akhirnya aku berangkat ke mall Di perjalanan aku sudah merasa badanku panas. Harusnya ini panasnya udah masuk ke demam (biasanya aku bisa ngerasain). Tapi tang...

Why I Don't Want to Buy a House

 "Kenapa saya tidak ingin membeli rumah?" Alasan kenapa aku nggak punya cita-cita untuk beli rumah.  Kebanyakan orang memiliki impian untuk beli rumah atau bangun rumah sendiri. Punya rumah sendiri dianggap sebagai suatu pencapaian, indikator kesuksesan seseorang, apalagi kalau sudah berumah tangga. Maunya pindah dan punya rumah sendiri dengan pasangan. Tapi menurutku, daripada sebagai lambang "keberhasilan", membeli rumah lebih terlihat sebagai perwujudan "ego", dimana yang mendominasi adalah keinginan untuk menunjukkan diri, daripada sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan.  Padahal mungkin, kita tidak sebegitunya membutuhkan rumah baru. Berikut ini mungkin bisa menjadi referensi dan pertimbangan untuk lebih meyakinkan diri jika kamu memang berniat untuk tidak membeli rumah 1. Uang Punya rumah sendiri memang nyaman, kita lebih bebas bertindak sesuka hati tanpa takut ada yang menghakimi atau menyuruh-nyuruh sesuatu, misalnya seperti orang tua atau mertua. Tapi...

Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Gambar
Sejak kecil, aku selalu suka hal-hal yang berhubungan dengan teka-teki dan misteri. Waktu SD permainan kesukaanku adalah Inspector Parker, permainan detektif. Dan tidak pernah berubah sampai sekarang, aku menemukan salah satu film (series) yang menjadi top favorit buatku, yaitu Sherlock.  Ok film Sherlock Holmes sudah banyak sekali di remake, tapi menurutku tidak ada yang sebagus versi terakhir, dimana Sherlock diperankan oleh Benedict Cumberbatch. Alasanku mengatakan ini versi film Sherlock Holmes terbaik adalah karena kompleksitasnya. Kompleksitas yang sulit sekali dicapai oleh produser film. Pada film ini, segala aspek kehidupan dari sisi logika, filosofi, hingga psikologis, berjalan dalam harmoni yang luar biasa. Terutama sisi psikologis manusia yang digambarkan dengan sangat apik, ini PR yang sangat besar bagi para pembuat film, dan penyunting Sherlock Holmes ini berhasil dengan sangat baik. Nah alasan ini jugalah yang membuat saya terdorong untuk menulis analisis psikologis d...