Pengalaman sebagai Pengidap COVID-19

Gejala awal sekitar Kamis atau Jumat minggu lalu. Saat itu tiba-tiba saya batuk-batuk. Kupikir "ini kenapa nih batuk? perasaan nggak habis ngapa-ngapain?". Agak aneh karena merasa nggak ada triggernya.

Tapi yang namanya manusia ya, bisa aja cocoklogi, atau menyambung-nyambungkan fenomena supaya secara psikologis merasa aman. Kupikir ini batuk biasa karena habis makan kue terlalu manis, jadi muncul radang, lalu batuk. begitulah

Setelahnya mulai muncul gejala lain, badan lemas, mual, dan pusing. Tapi di saat yang sama, keluarga ngajak pergi untuk shopping ke mall. Sebenarnya aku termasuk yang cukup waspada masalah covid ini, jadi udah sempat bilang "kayaknya aku jangan ikut deh, karena lagi batuk-batuk". Sayangnya determinasiku kurang kuat dibandingkan rasa tidak tegaku kepada keluargaku yang berharap aku ikut.

Akhirnya aku berangkat ke mall

Di perjalanan aku sudah merasa badanku panas. Harusnya ini panasnya udah masuk ke demam (biasanya aku bisa ngerasain). Tapi tanganku dingin, dan mall itu ngukur suhu tubuh dari tangan, dengan thermo-gun yang entahlah, keliatannya udah nggak akurat pengukurannya. Akhirnya ya lewat-lewat aja aku masuk keluar toko meskipun hampir setiap toko ada pengecekan suhu.

Sayang banget mall sebagus itu, SOPnya kaleng-kaleng.

Karena rasanya udah kecapekan dan pusing, aku udah ngasih isyarat untuk pulang. Sayangnya keluargaku masih mau di situ, mau makan dulu dan beberapa hal lain. Aku udah firasat nggak enak, dan lagi makannya yang makan barengan, yaitu wings stop. Kalau makanan yang masing-masing piring kan bisa jaga jarak, kalau ini nggak.

Akhirnya aku berusaha sebisa mungkin untuk jaga jarak, lalu nggak asal megang-megang ayam, kalau udah dipegang nggak akan taro lagi, dan ga akan nyelupin bekas gigitan ke sausnya. 

Dan makanku juga nggak banyak karena udah keburu pusing dan mual, juga lemas karena demam. 

Tapi setelah itu keluargaku belum pulang juga. Haduh, ku rasanya mau menyerah.

Singkat cerita aku pulang sambil ngelantur selama perjalanan karena pusing dan demam. Sampai rumah aku langsung cek suhu dan bener aja suhunya lebih dari 38. Aku langsung deklarasi kalo aku bakal isoman karena ini udah gejala.

Selama aku ngerasain gejala-gejala itu, aku curhat sama temenku "aduh mual", "hu pusing", "aku demam" dsb. Dia khawatir dan nyaranin aku buat tes antigen. Sayangnya aku ngerasa "duh antigen mulu", udah sekitar 5x aku tes antigen + PCR dan selalu negatif. aku males ngeluarin uang lagi kalau hasilnya sama

Hal yang sangat kusesali.

---

Hari Sabtu

Aku lanjut isolasi mandiri, ku batasi pergerakanku di kamar. Aku nggak ikut keluargaku yang sedang mengunjungi rumah saudara karena aku sakit.

Bodohnya, setelah itu keluargaku membawa saudaraku ke rumahku. 

Waktu itu rasanya aku mau ngamuk karena berpikir "ini gimana sih, udah tau aku lagi isoman malah pada dibawa ke rumah, malah mau nginep pula!"

Tapi begitu melihat sepupu-sepupuku yang masih kecil, aku lupa mau marah-marah, karena kangen sama mereka. Meskipun pas baru dateng, aku kaget karena mereka langsung buka pintu kamarku dan meluk aku (mereka cewek-cewek). Aku bilang "loh kalian ngapain, jangan masuk sini, ini kamar buat isolasi mandiri". mereka bingung, mungkin karena nggak pernah diajarin untuk waspada terhadap situasi ini. Tapi akhirnya mereka keluar.

Bodohnya, aku nggak konsisten menerapkan ini.

---

Hari Minggu

Besoknya demamku turun dan aku merasa udah bisa keluar kamar. Meskipun batuk dan lemes masih ada, aku ngerasa "oke gapapa udah bisa dibilang sembuh lah". Dan disaat itu, gantian ternyata adekku yang demam. 

Aku ngerasa aneh, dan bilang "jangan-jangan ketularan aku?", karena aku bukan parnoan, aku waspada banget. Lalu adekku bilang "nggak ini radang karena habis minum manis banget kemarin". Nah mirip-mirip kan kecurigaannya. Tapi bodohnya, aku langsung percaya dan tenang aja.

Padahal, emangnya cenayang bisa langsung tau itu sakit kenapa?

Dan keluargaku yang lain juga, santai-santai aja. Haduh.

Hari itu pada akhirnya kuhabiskan bersama dengan saudara-saudaraku untuk jalan-jalan. Karena demamku udah turun, jadi udah memang ga akan mungkin kena di pengecekan suhu mall. Lagipula aku yakin ga akan kejaring juga, secara yang diukur tangan. Tanganku udah pasti lebih dingin.

----

Hari Senin

Besoknya (selasa) rencananya adekku ke luar kota karena pekerjaan, dan sudah merupakan kewajiban untuk tes antigen untuk memastikan dia aman untuk keluar kota

Di sinilah semuanya terkuak

adekku dinyatakan positif dan ya gimana? udah pasti lah ku positif juga. Dia langsung isolasi mandiri, dan aku langsung inisiatif tes juga. Dan bener, aku positif. 

Saudara-saudaraku takut dan langsung keluar dari rumahku. Tapi! mereka nggak isolasi mandiri. Setelah dari rumahku, mereka nginep di tempat keluarga yang lain, dan di sana juga pada sakit, demam. Cuma, apa yang mereka lakukan? mereka malah bukannya isolasi, malah pergi keluar kota. Kayaknya mereka pake jalur bis jadi nggak perlu tes antigen. Bego banget. rasanya mau maki-maki. Kenapa keluargaku se reckless ini.

Dan udah tau aku dan adekku positif, tapi sakit begitu malah dianggep "gapapa, ini cuma radang" mau denial gimana lagi sih? ini lah yang menyebabkan covid kagak selesai-selesai. orang-orangnya pada denial. Giliran mau dibuktiin pake tes, malah ga mau. Kenapa takut kalau memang merasa dirinya nggak papa?

Tapi setelah itu kembali lagi, aku pun melakukan hal yang sama. 

Coba kalau aku nggak cocoklogi dari awal

coba kalau aku langsung tes antigen begitu tau aku demam dan batuk

Mungkin aku akan bisa menghalangi keluargaku untuk ke rumahku.

Coba kalau aku konsisten menerapkan isolasi mandiri, meskipun aku udah nggak demam.

dan coba kalau lainnya, hal yang kusesali. dan tambah kusesali karena keluargaku se-apatis ini. 


Siapapun kamu, yang baca ini. Please jangan apatis. Begitu ada gejala, cek, atau kalau memang masih ragu, setidaknya konsisten untuk isolasi mandiri. Jangan tergoda hanya karena orang disekitarmu merasa aman. Karena kadang keamanan antar keluarga itu ilusi.


---

Nah sekarang tracking ke belakang, darimana nih aku dapetnya?

Awalnya aku pikir pertama dari aku lalu aku menularkan adekku. Karena hari Minggu, 5 hari sebelum gejala, aku ke Bogor, dan kupikir aku dapet dari sana dan menular ke orang rumah. Tapi setelah dipikir-pikir, nggak mungkin.

Karena aku baru kontak fisik sama adekku hari Jumat itu, saat aku ke mall. Sebelumnya, kita nggak ngomong dan nggak ketemu sama sekali (ada masalah keluarga) dari hari Kamis minggu lalunya lagi (8 hari sebelum gejala). Artinya kesempatan menularkan harusnya baru hari Jumat itu. Tapi ternyata adekku udah langsung bergejala 2 hari setelah aku juga bergejala. Ga mungkin produksi virus covid secepat itu. Masa inkubasi virus covid kan lama. 

Lalu aku track ke belakang, 14 hari terakhir sebelum bergejala, aku ke mana? Dan ketemulah, selain Bogor, sebelumnya aku ke tangerang. Ke rumah saudaraku.

---

Hari Minggu, 12 hari sebelum bergejala

Saat itu kita main seperti biasa ke rumah saudaraku di tangerang. Di dalam rumah itu diisi oleh 4 orang, kakekku, nenekku, tanteku dan sepupuku. Nah saat kita main, 3 orang sedang sakit, nenekku, tanteku dan sepupuku. Mereka muntah dan demam dari hari sebelumnya.

Saat itu kita marahi tanteku dan sepupuku karena mereka baru pulang dari puncak. mereka menginap dengan teman-teman tanteku. Kita marah karena mereka main-main dan berkumpul di masa seperti ini. Kami punya keyakinan kuat kalau mereka terinfeksi covid. Setelahnya kami pakai masker di rumah mereka.

Bodohnyaaa, coba tebak apa yang bodoh

Malamnya kita nggak pulang dan justru malah bermalam di rumah mereka. Ya gimana, kalau udah nginep udah pasti tidur nggak pakai masker lah. Dan yasudah, karena merasa keluarga, ngerasa aman, jadinya kumpul-kumpul lagi. 

Aku juga sebenernya heran pas keluargaku memutuskan untuk menginap malam itu. Kupikir "lah, bukannya mereka lagi sakit? kenapa kita malah nginep?" Sayangnya aku pun kurang determinasi dan merasa nggak mau ngajak ribut jadi kuturutin aja.

Jadi di situlah kurasa aku mendapatkan virus itu. 12 hari sebelum gejala pertamaku, 14 hari sebelum gejala pertama adekku. Pas banget di situ. Jadi kusimpulkan sendiri bahwa aku terkena dari kluster keluarga. Dan akhirnya menyebar ke keluarga yang lain, dan tambah parah karena nggak ada usaha untuk menghentikan siklusnya. Keluargaku akhirnya berpotensi menyebarkan ke orang-orang lain lebih luas karena tidak isolasi mandiri.

Jadi aku atas nama pribadi memohon maaf terhadap semuanya, karena aku sendiri, sudah jadi agen yang meningkatkan keparahan dari covid ini. Ku harap tidak ada yang mengikuti jejakku, bisa jadi lebih mawas diri dan bisa menginfluence yang baik terhadap orang-orang di sekitar.

Tetap jaga protokol kesehatan, dan konsisten terhadapnya, termasuk di tengah keluarga.

Terima kasih


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Aku adalah Alam

Curahan Hati #2