Pengalaman Sembuh dari COVID-19
Halo!
Aku ingin melanjutkan tulisanku sebelumnya yang menceritakan tentang bagaimana awalnya aku terinfeksi covid-19. Yang mungkin ingin tahu, bisa cek ke sini ya
Jadi lanjutannya, ini adalah cerita tentang bagaimana aku menjalankan isolasi mandiri selama 14 hari. Di rumah aku berjuang melawan covid bersama adekku, jadi kita isoman bareng-bareng.
Spoiler aja, setelah 14 hari isoman, alhamdulillah aku dinyatakan NEGATIF Covid-19 melalui tes PCR dengan cut offnya CT >35. Awalnya di PCR pertamaku (3-4 hari setelah gejala pertama), aku dinyatakan positif dengan CT 24,13.
Tapi adekku, yang notabene mendapatkan gejala setelah aku (2-3 hari setelah aku bergejala, baru dia gejala pertama), dan menjalani isoman bareng-bareng sama aku, ternyata masih dinyatakan POSITIF dengan CT Value 28,42. Artinya masih infectious, masih menular. Padahal PCR pertamanya 13 hari yang lalu, CT Value dia 27,06. Artinya dia cuma naik 1 selama 14 hari isoman. Kok bisa??
Percayalah aku juga ga tau. Tapi mungkin teman-teman bisa mempelajari sesuatu dari ceritaku isoman selama 14 hari ini.
----
Senin (H-1 Isoman)
Hari ini dimana pertama kali adekku ketahuan positif melalui tes antigen. Kenapa dia ngetes antigen? No, bukan karena curiga, tapi karena dia seharusnya ke balikpapan besoknya. Kita bener-bener ga ada kecurigaan mengidap Covid-19 (Lihat cerita sebelumnya)
Setelah itu kami semua tes, adekku tes PCR, aku dan mamaku tes antigen dulu.
Tes antigenku keluar, hasilnya POSITIF, sementara mamaku negatif.
Alhamdulillah, kita berpikir mungkin karena mamaku sudah 2x vaksin jadi beliau lebih kuat. Tapi entahlah. Seminggu terakhir kami juga nggak seintens itu kontak fisik dengan beliau.
Jadi meskipun secara official belum, tapi kita sudah mulai menjalankan tahapan isolasi mandiri
---
Selasa, (Hari-H Isoman)
Meskipun hasil tes PCR belum keluar, aku dan adekku langsung isoman. Kami percaya bahwa antigen akurat, dia nggak seperti rapid yang melihat antibodi, sering sekali melenceng.
Hari pertama ini, mamaku langsung kasih instruksi untuk beresin kamar, ganti seprai dll (meskipun aku ga paham kenapa harus ganti seprai). Intinya supaya kamar nyaman untuk dipakai isoman.
Adekku udah tes PCR duluan hari senin, keluarnya seharusnya hari ini. Sementara aku baru bisa PCR hari ini, perkiraanku keluarnya besok. Aku dan mbakku (ART di rumah) tes covid-19 di dekat rumah, aku tes PCR, dia tes antigen. Nggak sampai sejam, mbakku hasilnya negatif, alhamdulillah.
Hasil tes adekku agak terlambat dari jadwal (katanya 12 jam, tapi 24 jam belum keluar), sementara aku malah kecepetan (katanya 24 jam, tapi 8 jam udah keluar). Padahal kita tes di tempat yang sama haha. Tapi karena itu hasilku dan adekku ketahuannya hampir barengan. Dan kita sama-sama POSITIF. Yah..
Waktu ketahuan positif, jujur aja aku santai. Lebih ke karena berpikir, stress nggak ada gunanya. Dan rasanya nggak terlalu sedih juga karena aku bareng adekku, rasanya ada temennya. Mungkin bakal lebih berat kalau nggak ada adekku yang sakit juga (tapi bukan artinya aku bersyukur adekku sakit)
Kondisi saat itu aku baik-baik aja. Demam kayaknya nggak, tapi badan rasanya agak-agak anget. Lemes, lalu sakit-sakit sekujur tubuh. Batuk so pasti. Mual juga, kadang nggak nahan. Pusing, lalu juga sakit tenggorokan.
Di malam itu, aku memutuskan untuk membeberkan kondisiku ke sosmed. Ngomongnya sih untuk memperingati orang yang kontak sama aku selama 14 hari terakhir, tapi sebenernya aku udah ngontak orang tersebut, jadi alasan sebenernya bukan itu. Lebih ke karena memperingati orang yang kukenal bahwa covid emang ada, dan dia udah menjangkiti orang-orang terdekat. Aku berharap dengan aku share, orang jadi lebih waspada, circlenya udah semakin kecil.
---
Rabu, (Hari ke-2 Isoman)
Postinganku di sosmed kemarin ternyata meledak. Maksudnya? maksudku, reaksi followerku, ternyata lebih besar daripada yang kubayangkan. Puluhan orang komentar di post tersebut, memberikan semangat. Puluhan lainnya ngirim DM dan personal chat ke Whatsapp. Bahkan orang-orang yang belum pernah sama sekali komentar, atau orang yang udah bertahun-tahun nggak kontak. Mereka semua tiba-tiba muncul
Memberikan support
Pada saat itu, jujur, aku ngerasa benar-benar sedang dibesarkan hatinya. Entah mereka cuma basa-basi kek, tapi ternyata benar-benar ngaruh ke moodku, perasaanku, emosiku, jadi positif. Jadi senang, jadi lega, jadi merasa mendapatkan boost energi. Di situlah aku sadar, kalau kata-kata simple aja memang beneran bisa nguatin orang (dan aku jadi terinspirasi untuk tetap melakukannya kalau ada yang positif lagi di sekitarku)
Sementara di rumah,
aku dan adekku sudah mulai membatasi ke luar kamar. Kalau makan, kita nggak lagi ke dapur, tapi mbak atau mama kami yang mengambilkan, lalu menaruhnya di sebuah meja kecil yang ditaruh di depan kamar kami (kamar kami berhadapan jadi mejanya satu aja).
Segala kontak dibatasi, dan setiap kali kami keluar kamar, kami menggunakan masker (kecuali ke kamar mandi karena kamar mandinya di depan kamar kami persis)
Lalu tanpa disuruh, aku juga membatasi touching-touching, menyentuh perabotan atau gagang pintu. Kalau aku terpaksa harus buka pintu, aku langsung ambil desinfectant dan ku semprot. Pokoknya aku ga mau mbakku atau mamaku jadi ketularan. Kadang aku juga memakai hand sanitizer sebelum megang apa-apa.
Kami juga nggak nyentuh kucing-kucing kami meskipun kangen T_T. Apalagi mereka selalu ngeong-ngeong minta dielus, minta masuk kamar. sayangnya kami takut kucing jadi media penularan, apalagi ada kemungkinan covid bisa menular juga ke mereka.
Kemudian aku mengurangi pakai gelas, aku pakai botol minum. Alasannya supaya nggak terlalu sering bolak balik ambil minum, kedua supaya mengurangi menyentuh lebih banyak barang (gelas), ketiga supaya praktis aja soalnya dapurnya jauh.
Sementara, kalau aku pakai peralatan dapur, setiap kali makan misalnya, piring, mangkok, gelas, sendok, garpu pasti ku cuci sendiri. Karena saat makan, droplets udah pasti berterbangan. Piring gelas medium yang bagus banget untuk nyebarin virus. Jadi pasti kucuci sendiri, adekku pun begitu.
Selebihnya kami mencoba untuk menerapkan macam-macam cara untuk boosting imun kami, vitamin, air jahe+lemon+madu saat sarapan, buah saat sore, dan makan yang teratur. Cemilan, masih sih, cuma kalau aku pribadi ku batasin, karena aku nggak mau ada micin-micin yang menghambat, atau mengambil risiko gula darahku naik (Aku punya kerentanan diabetes, jadi aku agak hati-hati)
---
Seminggu pertama Isoman
Di minggu ini, aku belum bisa banyak istirahat, karena kuliahku masih berlanjut. Masih perlu bikin ini itu, dan memaksaku untuk kadang begadang. Alhamdulillahnya ada support dari teman-temanku, jadi mereka bisa membiarkan aku banyak istirahat dan mereka back up tugasku.
Untuk mencegah bagianku ikut dikerjain orang yang tidak seharusnya mengerjakan, aku pakai strategi bagi tugas dari awal, jadi temanku nggak perlu nungguin aku bugar dulu, aku yang akan cari celah waktu untuk ngerjainnya saat aku nggak pusing-pusing banget. Dan karena aku mahkluk malam, jadi aku lebih banyak ngerjain bagianku pagi buta, jam 1 atau 2 pagi misalnya. haha
Selain itu, banyak hal yang menakjubkan
Mungkin karena postingan sosmedku, menyebabkan banyak orang jadi tau. Selain itu aku juga terbuka dengan keadaanku, jadi ya kabarku sudah pasti diketahui banyak orang. Awalnya aku beneran nggak ada niatan apapun selain untuk sharing dan berharap orang lebih waspada. Ternyata orang malah ngasih support sebesar itu, dan bukan cuma itu aja
Satu per satu, ada kiriman dari teman-temanku. Awalnya obat-obatan, ternyata dulu temanku pernah covid juga, dan masih ada obat-obatan yang pernah dia pakai. Obat yang dikasih berupa vitamin C, vitamin D, antivirus, antibiotik dan obat kumur steril. Selain itu dia juga mengirimkan buah (kurma) dan makanan-makanan kecil dan kue. Banyak banget. Ternyata masih ada orang sebaik itu, padahal, aku nggak sedekat itu dengannya.
Lalu ada yang kirim lagi, kali ini sekotak susu bear brand dan sebotol madu. Aku suka banget susu bear brand dan akhir-akhir ini mamaku lagi suka nyetok (sejak bulan puasa) karena aku suka. Kebetulan terakhir lagi abis, jadi mendapat hadiah begini menyenangkan banget.
Lain lagi, ada yang mengirim air. Air apa? katanya air hidrogen aktif. Aku sebenernya nggak terlalu ngerti, dan aku pun nggak yang sepercaya itu bahwa itu berkhasiat. tapi yang aku yakinin niat dan doa dari temenku, pasti berefek, jadi air itu selalu kuminum, sesuai cara pakainya, setiap hari
Ada juga yang ngirimnya berupa cemilan. Aku dikirimin donat! haha, donat kesukaanku. meskipun aku yakin dia bukan karena tau kesukaanku, tapi karena, siapa sih yang bisa menolak donat? hanya saja karena aku menjaga gula darah, aku nggak langsung makan banyak, dari 12 donat yang dikasih, ku cuma makan 4 yang kuhabiskan selama 4 hari jadi sehari satu haha.
Apapun yang dikirimkan, sebenarnya yang aku perhatikan bukan khasiatnya secara kimia maupun biologis untukku. Tapi niatan dan doa dari teman-temanku, dan tentunya support, yang itu sangat membuat senang dan semangat. Pastinya semua ku konsumsi sesuai anjuran dan harapan mereka.
Sementara untuk gejala,
Demam sudah nggak muncul lagi, aku juga nggak merasa anget, biasa aja
Sakit tenggorokan dan mual berangsur hilang. Letih lemas juga nggak terlalu kerasa
Batuk masih ada kadang-kadang, apalagi kalau lagi duduk dan kalo lagi ngomong. Biasanya kebawa batuk.
Dan yang paling mengganggu pada periode ini adalah hidung tersumbat! Parah banget aku nggak pernah hidungnya tersumbat separah ini. Biasanya dia makin parah kalau aku tiduran. Jadi beberapa kali di periode ini, aku nggak bisa tidur sampai jam 1 jam 2 cuma karena nggak bisa nafas. Supaya bisa nafas, aku harus mendongak ke atas, kalau bisa juga berdiri. Atau duduk, jadinya beberapa hari itu aku tidur sambil duduk
Akhirnya untuk mengakali kondisi tersebut, aku minta dibelikan obat flu sama mamaku. Obat flunya yang dekongestan, yaitu yang berfungsi untuk melegakan saluran pernafasan. Selain itu karena ada paracetamolnya juga sekalian bisa ngeredain pusing dan bikin ngantuk sehingga cepet tidurnya.
---
Minggu kedua Isoman
Segala gaya hidup yang kumulai, semuanya kulakukan konsisten. Aku dan adekku berjemur setiap pagi, alhamdulillah kami punya teras dengan pagar jadi nggak akan keliatan tetangga dan bisa berjemur dengan bebas. Saat berjemur itu, kami ngobrol (ceritanya bersosialisasi kan), sambil kadang makan, atau aku ikut webinar. Berjemur ga harus diem aja kok, yang penting kena sinar matahari dan badan jadi anget dan keringetan.
Sarapan kami tiap hari sama, yaitu roti tawar yang dipanggang, dan telor ceplok 2. Minumnya selalu sama juga, jahe+lemon+madu. Karena kombinasi minumannya udah sangat sehat, kadang aku melewatkan vitamin C di pagi hari, aku milih untuk konsumsi vitaminnya sore aja atau bahkan malem. Sementara kalau vitamin D, aku rutin konsumsi setiap pagi.
Aku juga konsumsi antivirus, oseltamivir, tapi cuma satu box aja. Aku minum pagi dan malam sampai habis, ada 10 kapsul jadi 5 hari habis. Sedangkan aku nggak nyentuh antibiotik sama sekali karena aku nggak merasa ada infeksi bakteri. Aku juga menyarankan kalian nggak sembarangan pakai antibiotik ya, bahaya! bahayanya kenapa, maaf nggak bisa jelasin di sini.
Konsistensi perilaku di rumah juga nggak berubah. Aku selalu pakai masker setiap keluar kamar. Sebisa mungkin nggak terlalu banyak jalan ngider rumah atau nyentuh perabotan. Jaga jarak sama mbak dan mamaku minimal 10 meter, kita hampir nggak pernah papasan.
Kalau sama adekku, aku cenderung santai karena merasa kita sama-sama positif. Kadang dia main ke kamarku, kadang aku main ke kamarnya. kita juga banyak bercanda, karena itu menyenangkan, itung-itung buat naikin imun juga.
Mengenai gejala,
Aku udah mulai nggak ngerasain hidung tersumbat, meskipun memang itu karena minum neozep terus (aku habis 2 strip). Demam nggak pernah lagi, batuk juga udah mulai ga ada, cuma dikit-dikit. Anehnya, timbul gejala baru yaitu nyeri! Nyerinya kayak nyeri tulang gitu, aku nggak paham sebenernya bagian mana yang nyeri
Awalnya kerasa banget waktu dibawa tiduran. Tiduran bukannya enak malah pinggul, punggung, tangan, sakit semua. Lalu lama-lama makin kerasa berdiripun sakit, dudukpun sakit. Yang paling menyebalkan karena pas sholat, nggak bisa rukuk. Masa pas rukuk tanganku cuma bisa sampai paha? lututnya nggak sampe, sesakit itu tulang pinggulnya. Pas aku nengok sakit, tapi bukan leher, melainkan punggung, aneh banget. Karena itu neozep juga berguna buat menurunkan rasa sakit dan biar bisa tidur cepet.
Untuk melawan itu, sekaligus melawan virusnya juga, akhirnya aku mulai olahraga. Baru nyadar juga kalau seminggu kemarin bener-bener kurang gerak. Nah, dari postingan yang kudapat dari teman, katanya olahraga yang bagus itu yang weight lifting jadi aku ambil yang simple, yaitu sit up, push up, back up.
Anehnya, setelah olahraga sakitnya nggak berubah. Sekarang aku ga bisa bedain deh ini sakit nyeri karena covid atau karena olahraga. Padahal olahraga juga nggak di forsir, aku sit up juga cuma 5 - 10 kali, push up 5 - 10 kali dan back up 20 kali. beda jauh dengan aku olahraga bisa bener-bener banyak, aku bahkan pernah push up sampai ratusan.
Tapi karena aku juga mikirin olahraga penting untuk ngelawan virus ini, aku tetap pastiin bergerak setiap pagi, entah jalan-jalan (di teras ya, di bawah matahari, nggak di dalam rumah) atau ya sit up, push up, back up, tadi.
---
Jumat (Hari ke-11 Isoman)
Selama minggu kedua kemarin, aku udah mulai nggak banyak tidur dan mulai untuk berinteraksi dan aktif di komunitas. Karena aku takut kalau terlalu banyak tidur dan nggak mikir, aku bakal mulai lemot dan nggak bisa mikir, lalu akhirnya stress. Jadi aku mulai aktif lagi, meskipun kalau duduk di depan laptop, rasanya nggak bisa mengalihkan kesadaran bahwa punggung dan kakinya sakit.
Nah tapi pas hari Jumat ini, aku nyadar banget saat sakitnya berangsur-angsur menghilang. Pagi masih agak sakit, masih coba mijet-mijet tangan sendiri, tapi sorenya, aku sadar kalau udah nggak terlalu sakit lagi. Sholat juga udah lumayan normal, dan pas jalan udah nggak terasa lagi. rasanya aneh banget karena ada proses angsur-angsurnya yang kurasain. haha
Dengan ini, aku merasa udah nggak ada gejala yang terasa signifikan lagi
Nah adekku, udah dari tengah minggu ini tanya-tanya tentang PCR. Sepertinya dia mau cepat ke kantor lagi dan harus dapat hasil negatif jadi dari awal minggu sudah minta segera tes. Tapi padahal kalau tanya gejalanya gimana, dia masih batuk-batuk. meskipun udah nggak intens, tapi tetep aja masih ada. Dia juga masih ngerasain hidung tersumbat kadang-kadang.
Tapi karena dia udah yakin nggak papa, akhirnya kami sepakat untuk melakukan tes PCR besok.
---
Sabtu (Hari ke-12 Isoman)
Jadi akhirnya kita melakukan PCR tes lagi. Kali ini kita ke speedlab (sebelumnya quicktest), alasannya karena speedlab bisa drivethru jadi ngga perlu turun dari mobil.
Kami masih melakukan rutinitas setiap pagi, sarapan, berjemur, dsb, sampai siang. Lalu kami mengambil jadwal jam 14.00. Oleh petugasnya kami disampaikan bahwa hasilnya akan keluar dalam 24 jam. Artinya mungkin besok siangnya
Kami ke sana naik mobil, selama di mobil pakai masker nggak dicopot. Sampai, tes, nggak ada ba-bi-bu langsung pulang dan masuk kamar. Kami lanjut isoman lagi
---
Minggu (Hari ke-13 Isoman)
Pagi-pagi bangun, seperti biasa otomatis lihat hape. Nggak disangka, ternyata hasilnya udah keluar! (Dikirim lewat WA) dan aku hasilnya negatif. Rasanya seneng banget, dan langsung bangunin adek. Excited dan berharap dia juga negatif, sampai dia marah karena kubangunin.
Ternyata dia masih positif.
Parahnya lagi dia masih infectious, masih menular. CTnya masih lebih rendah dari 30. Gimana bisa? Padahal saat mulai CTku lebih rendah dari dia, kenapa dia naiknya sedikit sekali?
Rasanya saat itu aku patah hati karena artinya aku harus menjaga jarak dari adekku. Sebenarnya kami nggak dekat sih, kami juga bukan tipe saudari yang saling cerita kalau ada masalah. Tapi aku senang di dekatnya. Nggak tau deh, kondisi ini sebenarnya lebih membuat sedih dia, atau aku :(
Tapi hidup harus berjalan. Karena sudah negatif, kamarku dibersihkan lagi. Sepraiku diganti lagi dan kali ini kamarku disemprot desinfectant. Jangan sampai aku ketularan virusku sendiri karena dia ada di kamar ini dan bersemayan berhari-hari. Oh ya lalu karena udah negatif akhirnya aku bisa melakukan sesuatu yang kukangenin yaitu ... main sama kucingku! yey!
Meskipun udah negatif, aku tetep isoman (meskipun nggak terlalu strict). Aku masih pakai masker kalau keluar kamar dan gaya hidupku juga nggak kuubah. Ini karena di sebrang kamarku persis, adalah kamar adekku, virus bisa jadi menyerangku kapan aja. kamar mandi juga masih bareng. Selain itu, alasanku pribadi adalah karena cut off dari PCRnya Speedlab adalah 35 -_- sebenernya gapapa sih tapi sesungguhnya aku lebih percaya yang cut-offnya 40. Kalau tau begini, aku bakal ambil di quicktest karena dengan harga sama, cutoffnya dia lebih tinggi
Tapi yasudahlah yang penting aku masih isoman.
----
Apa yang berbeda?
Ok jadi itulah ceritaku menjalankan isoman selama 14 hari (dari H-1 ya ceritanya hehe)
Sebenarnya aku nggak tau apa yang terjadi sehingga CT valueku dan adekku naiknya bisa timpang begini. Padahal kebiasaan kami sama setiap hari.
Tapi ada beberapa hal yang berbeda yang kami lakukan. Tanpa membuat kesimpulan apapun, mungkin pembaca bisa mengambil insight sendiri :
1. Aku berolahraga, adekku nggak.
Aku nggak pernah sekalipun liat dia olahraga. Bisa jadi sih di kamarnya, tapi nggak pernah denger juga. Sementara aku berusaha berolahraga meskipun sederhana, setiap pagi, dibawah matahari pagi, jadi sekalian berjemur, sekalian bergerak
2. Adekku kalau berjemur selalu pakai baju lengan panjang, aku sebaliknya.
Aku selalu berusaha mengekspos sebanyak-banyaknya kulit di bawah matahari. Semakin banyak semakin bagus, sebenernya aku nggak ngarep apa-apa, cuma berharap itemnya rata ke seluruh tubuh. Sementara adekku takut hitam, dia selalu pakai pakaian tertutup saat berjemur. Yang terbuka hanya wajahnya dan itupun ia pakai sunblock untuk mencegahnya hitam. aku, yah, aku nggak terlalu ingat ada sunblock jadi aku nggak pakai perlindungan sama sekali.
3. Aku minum air hidrogen aktif yang dikasih temanku
Sebenarnya aku sudah ngasih adekku juga, tapi sepertinya dia nggak serutin itu minumnya. Aku sudah habis 2 botol, aku nggak tau dia sudah habis berapa karena nggak pernah ngambil lagi
4. Aku minum antivirus dan adekku nggak
Karena dikasih teman satu box oseltamivir, aku minum itu selama 5 hari (kadang ada yang kelewat sih hehe) antivirus itu bukan untuk membunuh corona tapi virus influenza tipe lain. Sebagai orang yang lumayan paham farmakologi, aku tau potensi bahwa infeksi virus biasanya nggak sendirian, jadi meskipun nggak membunuh virus corona, dia bisa bunuh teman-temannya corona di bagian paru-paru dan mempercepat penyembuhan.
5. Kamarku nggak pakai AC, kamar adekku pake
Nggak tau juga ngaruh nggaknya. Tapi karena nggak pakai AC jadi seharian aku bisa keringetan banget. Entah karena panas atau karena sakit. Dan berkeringat itu kan membuang racun dari dalam tubuh jadi mungkin ada kekurangan juga untuk orang yang selalu berada di suhu dingin karena tidak cukup berkeringat
Secara pribadi aku nggak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Tapi kuharap dari kisahku dapat diambil pelajaran dan bisa untuk membantu orang lain. Kali ini statusku adalah penyintas covid yang akan menjalani perpanjangan isoman. Semoga semuanya baik-baik saja, aku berharap yang terbaik untuk keluarga kami. Dan aku juga berharap yang terbaik untuk kalian, please jaga diri dan jangan ulangi kesalahanku. Stay safe and keep happy.
---
Sedikit TIPS untuk pejuang Covid-19
1. Gaya hidup. Yang terpenting bukan obat-obatan atau vitamin tapi cara hidup dan berperilaku. Percuma minum obat dan vitamin kalau perilakunya tetep nggak sehat.
2. Konsisten. Jangan ngelakuin hal yang cuma bertahan sehari dua hari. Sehat nggak instan. Harus sabar, pakai masker, tetap di kamar, dsb
3. Lakuin hal menyenangkan. Kalau bisa blokir semua pikiran yang membebani kayak pekerjaan, tugas, atau sosial media. Kalau nggak bisa, lakuin dengan cara tidak memforsir, dan imbangi dengan hal-hal yang asik, misalnya kalau aku baca komik, atau gangguin adekku.
4. Olahraga. Meskipun capek, sakit, kalau bisa lakuin olahraga, yang ringanpun nggak masalah, dan kalau bisa dibawah sinar matahari pagi.
5. No panic buying. Atau apapun yang sifatnya panik-panikan atau buru-buru, kamu bisa jadi agen kerusuhan dalam negeri, jadi tetap tenang, tetap kalem.
6. Jangan sungkan minta bantuan. Untuk kebaikan bersama, jangan paksain apa-apa dilakuin sendiri. Kalau ada keluarga minta tolong ambilkan, ada tetangga minta tolong belikan. Kalau sendirian, bisa ke tempat lain yang ada orangnya misalnya rumah sakit, banyak kok yang gratisan menampung. Jangan paksa lakuin apa-apa sendiri, beli sendiri jalan sendiri kalau ternyata justru malah berpotensi menularkan ke lebih banyak orang. Hubungi petugas kesehatan kalau memang sudah nggak mampu.
5. Berpikir positif. Hal paling menyenangkan dari terinfeksi covid adalah kemungkinan aku bisa donor darah konvalesen untuk membantu pejuang covid lain setelah aku sembuh nanti. Ini yang paling jadi motivasiku selama covid ini. saat sembuh, aku berharap bisa lebih berguna, apalagi golongan darahku termasuk jarang, jadi aku senang sekali kalau bisa membantu lebih. Kamu juga bisa penuhi dirimu dengan pikiran positif lain.
---
Obat-obatan dan vitamin yang kuminum
- Paracetamol. Diminum kalau demam dan/atau pusing
- Neozep atau obat flu apapun. Kalau udah minum ini nggak perlu minum paracetamol lagi. Diminum jika hidung tersumbat
- Enervon C. Vitamin C. 1x sehari, setiap sore.
- Prove D3-1000. 1x sehari, setiap pagi.
- Oseltamivir. Antivirus. 2x sehari, pagi dan sore selama 5 hari.
Komentar
Posting Komentar