Why I Don't Want to Buy a House
"Kenapa saya tidak ingin membeli rumah?"
Alasan kenapa aku nggak punya cita-cita untuk beli rumah.
Kebanyakan orang memiliki impian untuk beli rumah atau bangun rumah sendiri. Punya rumah sendiri dianggap sebagai suatu pencapaian, indikator kesuksesan seseorang, apalagi kalau sudah berumah tangga. Maunya pindah dan punya rumah sendiri dengan pasangan.
Tapi menurutku, daripada sebagai lambang "keberhasilan", membeli rumah lebih terlihat sebagai perwujudan "ego", dimana yang mendominasi adalah keinginan untuk menunjukkan diri, daripada sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan.
Padahal mungkin, kita tidak sebegitunya membutuhkan rumah baru.
Berikut ini mungkin bisa menjadi referensi dan pertimbangan untuk lebih meyakinkan diri jika kamu memang berniat untuk tidak membeli rumah
1. Uang
Punya rumah sendiri memang nyaman, kita lebih bebas bertindak sesuka hati tanpa takut ada yang menghakimi atau menyuruh-nyuruh sesuatu, misalnya seperti orang tua atau mertua.
Tapi pernahkah terpikir bahwa dalam kehidupan juga banyak aspek penting lain yang memerlukan pertimbangan finansial? Misalnya saja yang termudah, untuk hidup sehari-hari, untuk tabungan, untuk dana darurat, untuk keperluan tumbuh kembang dan sekolah anak. Bahkan untuk hiburan kita seperti jalan-jalan, kalau kamu suka ke luar negeri atau ke taman ria, atau sarana hiburan lainnya.
Semua itu membutuhkan uang bukan?
Sementara jika kamu membeli rumah, pertama kamu akan menghabiskan dana untuk membeli rumah tersebut. Kemudian untuk segala perabotan didalamnya. Alat-alat rumah tangga, alat makan, alat kebersihan, hiasan jika kamu menyukai estetika.
Dulu teman saya ada yang sampai nggak punya meja makan selama setahun karena memang nggak kebeli dan akhirnya beli second yang kualitasnya tidak terlalu bagus. Mempengaruhi kenyamanan juga kan?
Belum lagi jika rumah yang kamu beli memiliki bagian yang perlu kamu dekorasi terlebih dahulu, ada yang ingin kamu ubah, biaya pemasangan, biaya perbaikan. Dan lain-lain. Tentunya kalau kamu membangun rumah akan jauh lebih mahal dan lebih lama.
Kalau sudah begitu, sebagian besar keuangan akan terambil hanya untuk rumah. Bagaimana dengan kebutuhan lainnya? Bukankah jika uang yang kamu miliki terbatas kamu juga akan lebih sulit bergerak dengan bebas?
Sedangkan jika kamu tidak membeli rumah, mungkin kamu memang akan merasa tidak nyaman karena berbagi tempat tinggal dengan orang lain. Namun positifnya kamu bisa mempergunakan uang yang kamu miliki untuk dimaksimalkan ke kebutuhanmu yang lain. Kebutuhan sehari-hari, tabungan, dana darurat, biaya hiburan akan lebih banyak yang kamu miliki.
Apalagi kalau ternyata rumahmu yang sudah ada masih sangat bagus dan sangat layak ditinggali. Apalagi kalau rumahnya udah luas, dan memang bisa ditempati bareng-bareng. Sayang banget kan kalau malah kita tinggal dan membiarkannya tidak terawat karena harus mengurus rumah baru?
Kalau aku sih, mending uangnya buat jalan-jalan yaa, hehe.
2. Sosial
Ketersediaan sumber daya manusia dan sosial yang kita butuhkan juga patut untuk dipertimbangkan. Bayangkan jika kamu memiliki rumah sendiri sementara kamu dan partnermu bekerja. Siapa yang mengurus rumah? Siapa yang menjaganya? Siapa yang bisa kita percayai rumah kita?
Kalau kita menempatkan satpam atau ART, berarti keluar uang lagi. Sementara tetangga sekitar belum kita kenal. Faktor keamanan bisa jadi sangat rendah karena lingkungan yang belum familiar. Hal tersebut bisa menjadi concern kamu karena artinya kamu perlu berdinamika kembali dengan tetangga sekitar (Mimpi buruk untuk introvert seperti aku hehe)
Sementara jika kamu memilih untuk tinggal di rumah kamu yang sudah ada, bisa jadi orang tuamu ada di rumah sehingga bisa mengurus rumah. Atau biaya ART bisa dibagi dengan mereka. Tetangga juga sudah kenal sehingga faktor keamanan akan lebih tinggi karena ketika kita tidak di rumah, tetangga adalah keluarga terdekat yang bisa membantu menjaga aset kita.
Memang belum tentu juga lingkungan sosial ketika kamu beli rumah sudah pasti akan buruk, tapi ini tentu bisa menjadi bahan pertimbangan, terutama jika kamu dan partnermu sama-sama bekerja atau tidak terlalu mudah menjalin pertemanan dengan sekitar.
Oh dan satu tambahan lagi yang perlu jadi pertimbangan terutama jika kamu memiliki orang tua. Kalau mereka sudah tua, apalagi sendirian (salah satu orang tua yang lain sudah meninggal) kamu juga perlu mempertimbangkan ini karena banyak risiko apabila membiarkan beliau hidup sendiri.
Mendekatkan anak kecil dengan lansia secara psikologis juga dapat menyehatkan untuk mereka. Meskipun demikian, rasanya perlu untuk membuat perjanjian antara kamu dengan orang tuamu dalam hal parenting untuk anakmu (jika kamu berniat memiliki anak)
3. Lingkungan
Alasan yang menurutku paling penting! Terutama jika kamu orang yang tinggal di Jabodetabek pasti paham sudah betapa sumpeknya rumah-rumah di jakarta. Karena semua orang berusaha pindah ke kota yang menjadi pusat ekonomi negara ini, menyebabkan meningkatnya permintaan (demand) terhadap rumah.
Akhirnya banyak pengembang yang berlomba-lomba untuk membuat perumahan mereka. Tidak jarang mereka merusak alam dan sumber daya yang berada di area tersebut. Dan banyak sekali (aku saksinya) pengembang yang menggunakan cara curang untuk membangun perumahan, padahal secara analisis lingkungan, tempat tersebut tidak cocok untuk dibangun. Jika dipaksakan didirikan bangunan, maka bisa memicu bencana alam seperti longsor dan banjir.
Nah masuk akal kan kalau sekarang di Jakarta banyak perumahan yang langganan banjir? Karena berdasarkan analisis lingkungan sebenarnya mereka tidak layak untuk didirikan perumahan, namun suap merajalela sehingga pembangunan diizinkan.
Jika kamu membeli rumah, sama saja kamu ikut memperbanyak jumlah permintaan rumah di Jabodetabek. Permintaan rumah yang meningkat menyebabkan lebih banyak pengembang yang berusaha mendirikan lebih banyak rumah. Lalu karena tanah di jabodetabek sudah tinggal sedikit, akhirnya banyak yang menggunakan cara curang untuk membangun di tempat-tempat yang seharusnya tidak boleh. Hasilnya, lingkungan di Jabodetabek semakin rusak, dan semakin tidak layak untuk ditinggali.
Apakah kita juga ingin berkontribusi terhadap pengrusakan alam tersebut? Kalau aku sih tidak. Kebetulan saya termasuk pecinta alam sehingga isu lingkungan seperti sampah, pemanasan global, pemangkasan hutan, dan lain-lain, menjadi sebuah concern yang sangat saya pertimbangkan. Karena kalau kita nggak bergerak, dunia seperti apa yang mau kita wariskan untuk anak-anak kita? Dunia dimana mereka bahkan tidak bisa bernafas dengan mudah? (Sori sangat negatif ya nadanya, tapi serius!)
Atau kalau memang kamu benar-benar ingin membeli atau membangun rumah, coba pertimbangkan untuk keluar kota. Jadi sebisanya hindari kota dan tinggal di tempat yang masih sepi saja, sehingga penyebaran populasi manusia bisa lebih seimbang.
***
Oke jadi itu aja, alasan "Kenapa sih aku ga mau beli rumah?" Ya ini alasannya. Alasan terkuat buatku adalah nomor 3 karena menurutku itu yang memang seharusnya jadi prioritas pertimbangan, tapi dua alasan lainnya pun juga merupakan alasan yang patut untuk dipertimbangkan.
Jadi apa alasanmu nggak mau beli rumah? Ayo share supaya kita bisa meyakinkan lebih banyak orang untuk #NggakBeliRumah dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk kebutuhan lain yang lebih tepat serta sesuai dengan kebutuhan.
Komentar
Posting Komentar