Curahan Hati #1
Hai-hai,
awalnya aku nggak berminat untuk menjadikan blog sebagai sarana curhat. Tapi ternyata, tekanan dari hal-hal remeh sekari-hari tanpa adanya tempat menyalurkan emosi dan mengekspresikan kegelisahan, bisa bikin capek juga. Tiap orang punya cara coping stressnya masing-masing, ada yang bisa tenang dengan main atau dengerin musik, baca buku atau olahraga, kalau caraku sepertinya menulis. Jadi well.. di sinilah aku berbagi keresahan. haha.. semoga kalau ada yang baca, bisa membantu refleksi diri juga dan mungkin belajar sesuatu juga.
***
Masa kuliah..
Udah sekitar setahun aku menjalani kehidupan sebagai murid lagi, sebagai mahasiswa magister. Aku yang tadinya sudah bekerja, terpaksa harus resign karena jadwal kuliah yang -mau ga mau- reguler. Sebenarnya karena pandemi, kemungkinan untuk kuliah sambil kerja, bisa aja, kalau perusahaannya bersedia dikorbankan waktunya untuk karyawannya tiba-tiba kuliah pagi atau siang. Perusahaanku kebetulan nggak bersedia, jadilah aku resign.
Mungkin karena udah kebiasaan dari dulu nggak bisa nggak sibuk (padahal introvert), aku mulai ikut komunitas dan organisasi - yang tentunya via online juga. Awalnya dua, lalu jadi tiga. Lama-lama entah kenapa aku diajak ikut kegiatan sana sini. "Direkomendasikan" kata kerennya.
Pada mulanya aku enjoy, banget malah, dan sedikit rasa bangga juga karena bisa masuk ke kelompok-kelompok yang cukup bergengsi. Aku merasa bisa belajar banyak di sana, menemukan bagian diriku yang lain yang kucari-cari. Karena itu aku selalu mengiyakan kalau diajak, karena kupikir pasti ada hal baru yang bisa kupelajari - selain karena aku nggak enakan juga masa mereka ngajak ditolak kan?
***
Kumpul, kumpul, kumpul...
Kondisi yang serba online membuat "jam kerja" jadi nggak tentu. Kalau dulu orang nggak mungkin kumpul untuk meeting malam-malam. Sekarang bisa. Meskipun jam kuliah udah pasti diusahakan siang, tapi 'berkat' komunitas dan organisasi yang kuikuti, malam juga jadi jam kerja.
Aku pribadi sih, nggak masalah. Lagi pula dulu pas offline juga aku sering pulang malam. Tapi gara-gara perjalanan, dari kantor lah, dari tempat les lah, bisa 2-3 jam sendiri sekali jalan. Sekarang lebih menyenangkan karena nggak usah capek fisik dan bisa lebih produktif untuk membahas sesuatu yang berfaedah. Aku pun udah terbiasa untuk meeting sampai jam 9, 10, 11 malam, bahkan kadang ngerjain tugas sampai pagi (berkelompok) tanpa harus khawatir "harus pulang dicariin emak"
Masalah mulai muncul saat aku menyadari jadwalku bisa benar-benar full selama 12 jam, nyaris non-stop, bahkan ada beberapa kegiatan yang dilakukannya berbarengan. Ini juga belum termasuk tugas-tugas yang perlu dilakukan secara pribadi - 12 jam itu jadwal yang selalu ketemu orang.
Akhirnya muncullah kesadaran, "aku harus stop nambah lagi"
***
Rekomendasi?
Sebenernya awalnya kenapa sih aku berkegiatan? untuk memuaskan rasa ingin tahu, ini sih alasan utamanya. Dari kecil, orang tuaku sendiri sudah memberikan cap kepadaku sebagai anak yang curious. Banyak bertanya, menggali informasi, dsb atas dasar keingintahuan yang tinggi. Di sisi lain juga karena aku ingin bermanfaat untuk orang lain, karena itu biasanya aku ikut kegiatan yang impact sosialnya tinggi, baik itu non-profit maupun profit (tapi saat ini 95% non-profit).
Kemudian setelah mendapatkan beberapa kelompok yang kurasa sudah cukup untuk kuikuti, sebenernya aku sudah merasa oke, tidak kurang. Aku nggak cari kegiatan lain lagi. Tapi ternyata, muncullah rekomendasi-rekomendasi itu. "ikut aku jadi panitia ini ya?", "kamu kumasukin satuan tugas itu ya?", dsb. Jujur, setiap kali muncul pertanyaan tersebut, rasanya semangat sekali - selain karena nggak enak nolak juga- dan karenanya langsung kusetujui. Tanpa menyadari kalau, there's already a lot on my plate.
Belum cukup sampai situ, ketika aku mulai mengikuti kegiatan di setiap kelompok tersebut, aku menyadari bahwa ekspektasi orang-orang di sana sangat tinggi terhadapku - which is, nggak aneh. Kalau ekspektasi mereka rendah, nggak mungkin mereka memberikan rekomendasi dari awal. Hal tersebut membuatku sadar bahwa aku harus 100% di tempat tersebut : memberikan yang terbaik. Tapi yang mereka nggak tau, aku merasa nggak sebaik itu.
Aku hanyalah orang yang masih belajar dan belajar. Layaknya orang-orang normal lainnya, ada perasaan takut bahwa aku tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka. Terkadang juga, aku masih harus mengontrol perasaan lelah yang terkadang muncul karena aku tipe introvert yang memerlukan waktu sendiri untuk mengisi ulang energi. Apakah orang-orang tersebut akan memahami ketika di satu-dua kesempatan aku tidak bisa hadir karena psikisku sedang butuh dirawat? Ah.. aku tidak yakin
Isu lainnya yang perlu kuselesaikan adalah, bagaimana caranya aku harus menolak? Sudah sangat banyak yang kulakukan, kalau aku memang benar-benar peduli terhadap setiap kegiatan di mana aku berkontribusi, seharusnya aku tidak lagi menambah beban. Karena artinya bisa jadi aku tidak bisa memberikan 100% kepada kegiatan-kegiatan tersebut, karena fokusku, tenagaku, terbagi.
Aku tahu, aku harus bisa menolak. Aku harus bisa bilang "aku sudah ada kegiatan lain, aku sedang sibuk yang lain", meskipun kesannya mungkin menyebalkan, tapi kalau aku katakan dengan sopan dan memberikan pengertian yang cukup, pasti orang akan menghargai kan? dan itu juga seharusnya akan menjadi cara untuk menghargai kegiatan dan proyek yang sedang kutangani, karena artinya aku ingin memberikan yang terbaik, tidak asal namanya tercantumkan.
***
Every cloud has silver lining
Mumpung masih merasa waras, seringkali aku melihat titik cerah dari setiap kecemasan dan kegundahan yang kualami. Untuk siapapun kamu yang membaca ini, nggak perlu merasa stress kalau belum bisa melihat hal positif, resapi dan terima dulu siapa pikiran dan perasaan negatif yang ada. Karena aku juga, di suatu moment, pasti ada kalanya merasa nggak ada hal baik yang terjadi. Beri dirimu sendiri waktu. Kemudian ketika bisa merasakannya lagi-biasanya kalau aku-tuliskan, seperti yang kulakukan sekarang, agar jadi pengingat bahwa memang hal positif pasti selalu ada.
Alhamdulillah, kegiatan apapun yang kulakukan, aku bisa mengatur waktunya dengan baik, sehingga waktunya nyaris nggak pernah berbenturan. Kadang amazed kenapa bisa begitu padahal terkadang orang lain yang menentukan jadwalnya. Aku terima hal tersebut sebagai hadiah dan bantuan dari Tuhan, agar aku bisa menghadiri semuanya. Masalah tenagaku, aku masih merasa baik-baik saja dan sekali lagi, kurasakan itu sebagai anugerah.
Meskipun kadang rasanya menyedihkan karena merasa tidak ada tempat berbagi. Tidak ada tempat mengeluh, selain Tuhan tentunya ya. Kadang mulut ini perlu terbuka dan memuntahkan pikiran dan perasaan, mata perlu menangis, dan hati perlu merasa ditemani. Tapi nggak papa, karena aku masih punya cara lain untuk melakukan semuanya, ya dengan blog ini. Setiap orang memang punya caranya masing-masing
***
Untukmu, siapapun, selalu semangat ya. Kalau sedang tidak semangat juga tidak apa-apa, asalkan selalu ingat bahwa dirimu berharga. Apapun yang kau lakukan awalnya pasti dari pilihanmu sendiri jadi bertahanlah. Selama kamu isi hatimu dengan niat-niat yang baik, pertolongan pasti akan datang, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Cukup percaya dan berusaha tetap hidup :)
Komentar
Posting Komentar