Lampu Kuning Jatuh Cinta
Jangan mengambil keputusan, ketika kamu sedang jatuh cinta. Dan jangan menilai karakter seseorang, ketika ia baru mencintaimu
Layaknya emosi lain yang mengambil alih logika ketika sedang meluap, jatuh cinta pun menghasilkan tumpulnya rasionalisasi yang dimiliki seorang manusia. Ku rasa, orang yang pernah jatuh cinta di masa lalu dan saat ini tidak, akan menyetujui statement tersebut. Apalagi, ketika perasaan cinta tersebut diiringi hasrat untuk memiliki, untuk tidak kehilangan, untuk selalu dekat, untuk mencapai target "mendapatkan".
Rasanya, kita tidak lagi menjadi diri kita.
Pada akhirnya, lebih banyak hal yang disadari di kemudian hari, membuat kita bertanya-tanya, "mengapa dahulu aku melakukan itu?" (jika kamu yang jatuh cinta) atau "mengapa dia tidak seperti dulu lagi?" (jika orang lain yang jatuh cinta padamu).
Kenyataannya manusia jarang berubah. Yang ada, hanya perilaku sementara yang mengiringi perasaan. Ketika sebuah perasaan meluap, terjadilah perubahan perilaku.
Sayangnya, cinta tidak se-konstan itu.
***
Aku pernah menonton film yang aneh, judulnya "Gone Girl". Aku merasa tidak ada pesan moral yang disampaikan, hanya ada gabungan 'seni' dan 'omong kosong'. Begitu aku melihatnya
Tapi rasanya sekarang aku bisa meresapi makna, yang dicoba disampaikan oleh penulis film tersebut
"Aku ingin kamu berusaha sebaiknya, seperti dahulu kamu berusaha mendapatkanku"
(mungkin ada sedikit kekeliruan akan kalimat yang ku kutip dari film tersebut. Tapi kira-kira begitulah kalimatnya).
Pada intinya, ternyata memang manusia berusaha yang terbaik, ketika ia menginginkan sesuatu dengan sangat besar disertai emosi yang sangat besar juga. Setelahnya ketika sudah didapatkan, maka usaha tersebut tidak akan sebesar sebelumnya
***
Mungkin ketika di awal seseorang mencintaimu, ia akan mendengarkan semua ucapanmu. Apa yang kamu inginkan, apa yang kamu sukai, apa yang menjadi harapanmu, dsb. Bahkan se-receh ucapan "aku menyukai orang dengan gaya rambut A" maka besoknya ia akan merubah gaya rambutnya seperti yang kamu sukai.
Ketika kamu tidak menyukai sesuatu, lalu ia secara natural akan tidak terlalu menyukainya juga. Ketika kamu mengharapkan sesuatu, secara tak sadar ia berusaha membelikanmu esoknya. Bukan berarti ia berbohong, tidak sama sekali. Tapi semua itu, karena memang ia sedang jatuh cinta. Secara wajar, ia berusaha yang terbaik, untuk menjadi lebih dekat, untuk memberi lebih banyak, untuk bisa disukai kembali olehmu. Ia mengusahakan segalanya.
Lama kelamaan, ia akan menyadari bahwa ia memiliki preferensinya sendiri. Ia akan menyadari bahwa 'meskipun kamu menyukai orang dengan gaya rambut A, namun aku sendiri menyukai gaya rambut B'. Perlahan dirinya pribadi akan kembali.
Perlahan ia akan memperjuangkan apa yang dirinya inginkan, lebih daripada yang kamu inginkan.
Membuat dirinya yang 'asli' muncul, sementara kamu menganggapnya ia berubah. Padahal tidak
***
Sekarang tidak ada lagi seseorang yang akan berusaha untuk berubah demi mendapatkan seseorang. Ketika suatu hari ia meminta pendapatmu "Baju mana yang terlihat bagus untukku?", dan kamu mengatakan "kurasa yang coklat sangat cocok, sementara yang hitam yang paling tidak bagus", lalu esoknya justru ia memakai yang hitam. Karena dari awal dia memang sudah suka yang hitam.
Memang seperti itulah yang bisa terjadi.
Tidak, ini bukan berarti ia berbohong, tapi karena jatuh cinta seperti emosi lainnya, tidak selamanya berada di titik tertinggi. Sama saja seperti kita tidak bisa senang setiap hari, atau marah setiap hari. Jatuh cinta juga, tidak setiap hari.
Ia hanya kembali ke dirinya sendiri, mendapatkan kembali rasionalisasinya, untuk memperjuangkan hal-hal yang ia sukai sebagai individu. Tidak peduli meskipun kamu, yang menjadi cintanya, memiliki kesukaan yang berbeda.
Berhati-hatilah, ketika kamu mulai jatuh cinta
Berhati-hatilah, ketika seseorang baru saja mencintaimu
Lampu kuning = hati-hati
Komentar
Posting Komentar