Jawaban 5 Tahun Kemudian

2013, diantara manusia-manusia yang sama seperti saya, berjuang dalam ujian-ujian demi menyambung masa. Kala itu di suatu gedung sekolah yang saya lupa namanya, saya sedang menunggu pintu kelas untuk ujian dibuka. Ujian SBMPTN, yang kuota penerimaannya tahun itu berkurang karena dianugerahkan lebih banyak ke jalur undangan atau SNMPTN. Berbekal doa dan banyak belajar, saya berharap ujian itu akan menuntunku memasuki fakultas dan universitas impianku, Psikologi Universitas Indonesia. Gagal dalam SNMPTN membuatku berharap bahwa ujian kali ini dapat kulalui dengan hasil yang memuaskan.

Sambil menunggu, saya bercakap dengan seorang perempuan di sebelah saya, yang juga akan menjalani ujian SBMPTN. Seperti lulusan sekolah menengah atas pada umumnya, kami bertukar cerita mengenai perjuangan dan impian kami mengenai jurusan dan universitas yang kami inginkan. Saya katakan keinginan saya yang sangat besar untuk menjadi psikolog. Saya tunjukkan buku-buku saya yang kala itu saya tulisi di sampulnya “Calon Mahasiswi Psikologi UI – Mayang Pramudita Yusuf”. Dia melihatnya dengan pandangan yang –entah takjub atau sangat supportif.

Melihat keinginan saya, entah mengapa dia mengatakan kalimat-kalimat yang sangat menyemangati seperti “Kamu pasti masuk”, padahal dia tak kenal saya. Kemudian dia keluarkan ponselnya untuk meminta nomor saya. Dia katakan,”kalo aku butuh nanti, setelah kamu jadi psikolog”. Sedikit bersemu, kami bertukar nomor. Sayang, setelahnya saya tidak menemukannya lagi. Peristiwa itu lama berlalu dan saya lupakan hingga 5 tahun kemudian.

Di suatu siang, sebagai seorang Job Seeker setelah alhamdulillah lulus dengan gelar S.Psi, saya mengenang perjuangan yang telah saya lalui. Kriminologi UI, status mahasiswa saya yang pertama. Saya gagal diterima di Psikologi UI seperti keinginan saya dan terlempar ke pilihan kedua. Sedikit kecewa, saya menghibur diri dengan mengatakan bahwa setidaknya saya diterima di kampus impian saya. Niat yang saya bawa saat memilih kriminologi sebagai pilihan kedua juga tidak remeh, saya ingin membuat dunia lebih baik. Akhirnya saya sempat mendaftar dan menjalani ospek di UI yang sampai saat ini saya rindukan sebelum kemudian saya menerima pengumuman bahwa saya diterima menjadi mahasiswi Psikologi UGM. Sesuatu yang sebelumnya tidak terbayang untuk menempuh pendidikan di kota pelajar, Yogyakarta. Dilandasi keinginan saya yang sangat kuat untuk menjadi psikolog, hingga menyebrang ke IPS demi psikologi, akhirnya saya memutuskan pindah ke UGM. Hingga sekarang saya lulus, dengan gelar yang saya impikan.

Tiba-tiba masuk sebuah pesan notifikasi di aplikasi LINE dari seseorang yang asing, tidak saya kenal namanya. Masuk beberapa pesan sekaligus, memperkenalkan diri dan mengingatkan saya akan seseorang yang saya temui sekitar 5 tahun yang lalu. Mita (bukan nama asli), gadis itu. Saya jawab dengan riang dan sedikit bersemu (lagi) karena seperti yang dia katakan, saya berhasil lulus dari jurusan psikologi –meskipun bukan UI seperti awalnya.

Cukup perkenalannya.. Percakapan berubah serius saat Mita menyatakan bahwa.. dia mengidap depresi.

Bukan kali ini saya mendengarkan cerita dari seseorang yang tidak dekat, bahkan kali ini bisa terhitung stranger atau orang asing. Ternyata Mita telah mengalami depresi sejak 2012, satu tahun  sebelum kami bertemu di sekolah saat ujian waktu itu. Ia ceritakan secara detail masalah yang dihadapinya berhubungan dengan keluarga, gejalanya, dan sebagainya. Ia katakan bahwa motivasinya untuk menyimpan nomor saya hari itu adalah karena ia berharap bahwa saya dapat membantunya, suatu hari nanti. Dan suatu hari nanti itu adalah sekarang, saat itu.

Menyadari bahwa saya hanyalah ilmuwan psikolog, saya jelaskan padanya apa yang saya bisa, dan mendengarkan semua yang ingin ia sampaikan. Menyedihkan saat mengetahui bahwa selama ini Mita kebingungan dan tidak paham harus berbicara pada siapa. “Andaikan aku seorang psikolog”, adalah hal yang saya pikirkan kala itu. Ilmu saya belum cukup dan saya belum memiliki kemampuan yang memadai untuk membantu Mita. Sedikit sedih karena merasa tidak cukup berguna, pada akhirnya saya sarankan Mita menemui psikolog.

Saya mendampingi Mita (via media sosial) untuk mencari dan memilih psikolog mana yang sebaiknya ia datangi, karena saat itu Mita tidak mengetahui di mana ia bisa menemukan psikolog. Hingga kemudian saya merekomendasikannya ke suatu biro psikologi klinis yang membuka praktek.
Beberapa hari kemudian Mita menghubungi saya lagi dan menceritakan apa yang ia dapatkan dari psikolog tersebut. Apa diagnosisnya, dan apa yang harus ia lakukan. Mengetahui hal tersebut, bagi saya adalah satu langkah mendekati kesembuhan, dan saya bahagia untuk Mita dan menyemangatinya menghadapi kondisinya.

Peristiwa ini mengajarkan saya bahwa terkadang apa yang kita lakukan pada hari ini, tidak akan kita ketahui dampaknya hingga hari-hari mendatang, bahkan meski tahunan waktu telah berlalu. Saya bisa saja mencurigai Mita saat ia meminta nomor telepon saya, atau mendiamkannya saat ia tiba-tiba mengirim saya pesan karena saya tidak kenal nama maupun nomornya. Dengan suatu cara, Mita memberitahu saya bahwa di luar sana ada banyak sekali orang yang membutuhkan pertolongan, khususnya yang berhubungan dengan gangguan mental, namun tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa atau bagaimana cara mengatasinya. Siapa yang menyangka bahwa perbuatan baik sesederhana bertukar nomor dan menjawab pesan dapat menyelamatkan hidup seseorang?

Saya berharap, orang-orang di luar sana yang membutuhkan pertolongan seperti Mita, akan dapat menemui orang-orang baik yang mampu mendampingi dan menolong mereka. Dan saya harap saya dapat terus melakukan hal sederhana ini. Sesederhana mendengarkan celoteh seseorang dan meringankan beban yang mungkin tidak bisa ia bagi dengan orang lain. Atau lebih baik lagi, menolong mereka hingga mereka pulih, sebagai seorang psikolog.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Aku adalah Alam

Curahan Hati #2