Di Balik Sebuah Pesta Miras
Kemarin malam, saya dan teman-teman saya baru saja menyelesaikan sebuah studi. Untuk merayakannya akhirnya kami bersepakat untuk menghabiskan malam di sebuah apartemen karena kami tidak akan berjumpa lagi secara rutin seperti biasanya. Sebagai lulusan kuliah biasa yang gaya mainnya seperti itu, saya menganggap acara ini sebagai acara inap menginap seperti biasanya, yang diisi dengan mengobrol, main kartu mungkin, nonton film, makan-makan atau lainnya. Agak tidak disangka kalau ternyata sampai di lokasi teman-teman saya membawa berkaleng-kaleng bir, dan beberapa botol minuman beralkohol lainnya.
Jujur saja ini pertama kalinya saya berada di antara orang-orang yang minum. Sebagian teman-teman saya di sini beragama non-muslim jadi mungkin ini bagian dari tradisi atau suatu hal seperti itu. Namun sebagian lainnya (yang saya tahu) adalah muslim, yang sepengetahuan saya dalam agama islam hukumnya haram untuk menenggak minuman beralkohol. Tapi saya cepat mengendalikan diri untuk tidak menjadi seorang idealis dalam situasi seperti ini. Selain karena saya adalah yang paling muda, secara teknis apa yang mereka lakukan tidak illegal. Saya memutuskan untuk menikmati suasana ceria yang sengaja dibangun, dan menghabiskan malam itu untuk memperhatikan dan merenungkan situasi sosial ini.
Sedikit intermezo, karena baru pertama kali secara langsung melihat minuman keras, saya memutuskan untuk mengambil foto-foto kaleng dan botol itu dan mengunggahnya di media sosial. Sebagai tambahan saya post foto saya sedang minum suatu cairan berwarna hitam (yang sebenarnya itu adalah coke). Entah apa yang saya coba buat tapi yang saya pikirkan 'mungkin lucu apabila menemui teman-teman saya panik melihat saya seperti itu dan mulai berpikir yang tidak-tidak'. Alasan yang sangat childish sebenarnya bila saya pikirkan sekarang.
Setelah saya mengunggah foto-foto tersebut ke story instagram, saya mendapat beberapa DM instagram dari teman-teman saya. isinya sebagian besar menanggapi dengan tertawa, ada yang menanyakan apakah saya mencicipinya atau tidak dan bagaimana rasanya, ada yang heboh karena botol bir yang saya foto adalah brand mahal dan dia sepertinya mau, dan lain-lain tanggapannya.
Namun ada juga yang cukup membuat saya kaget. Karena saya membuat post itu hanya dapat dilihat teman-teman dekat saya, sudah pasti yang mengomentari foto-foto tersebut adalah salah satu teman dekat saya. Pada pesan tersebut dia mengungkapkan bahwa dia kecewa dengan apa yang dia lihat. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya saya adalah role model baginya dan dia kecewa kenyataannya saya melakukan hal seperti itu. Sejenis dengan pesan sebelumnya, salah satu teman saya menanggapi dengan lebih emosional lagi. Sebelum akhirnya saya jelaskan keadaannya, dia mengakui bahwa hal itu benar-benar membuat dia marah hingga dia mendapati dirinya tidak fokus karena tidak percaya bahwa saya melakukan itu.
Karena memang saya membuat post itu hanya mencari sensasi dan menurut saya itu lucu, saya agak tidak menyangka bahwa ada tanggapan-tanggapan yang hingga sebegitunya. Karena itu malam ini saya merasa mendapat banyak pelajaran..
1. Miras dalam Pandangan Sosial
Orang-orang yang ada di acara minum-minum itu semuanya adalah orang baik. Tambahan, mereka juga merupakan orang yang pintar dan berpendidikan. Bagaimana tidak, saya mengenal mereka semua orang-orang kantoran, memiliki karir yang sangat bagus, dan saya sering sekali belajar bersama dengan mereka, menuntut ilmu, dsb. Beberapa dari mereka sangat sayang kepada saya, sebagai yang paling muda di situ, sering sekali mereka membelikan saya sesuatu seperti makanan, mengantarkan saya pulang dll.
Namun melihat kenyataan ini saya perlu waktu untuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi, karena selama ini yang saya percayai, mabuk sangat identik dengan dunia gelap, dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang dalam tanda kutip "orang jahat" saja. Karena itu dulu saya pernah sangat kecewa dengan seseorang karena dia pernah mencicipi bir, dan menganggap dia melakukan hal yang sangat buruk. Saya berpikir hal yang sangat mudah bukan, untuk menolak minum? Mudah juga untuk menjauhi orang yang suka minum-minum karena "kelihatan" mana orang yang baik dan mana yang buruk.
Tetapi ternyata tidak begitu. Dan yang saya pelajari adalah, ternyata mabuk tidak selalu identik dengan dunia hitam, mungkin kita dapat katakan hal itu juga merupakan tradisi yang bagi sebagian orang itu bukan hal yang buruk. Saya mencoba Open My Mind untuk menerima realitas yang sesungguhnya tersebut. Yang saya pikirkan, kalau sudah begini, kita tidak bisa lagi mengatakan "eh orang itu kayaknya begundal, preman, kerjanya pasti mabuk-mabukan, sama dia aja yang berkelas, orang kantoran, rapi, dsb". Alasannya, pertama, belum tentu yang orang kantoran tidak suka mabuk-mabukan. Kedua, mabuk dalam pandangan sosial ternyata tidak selalu memiliki preferensi negatif. Minum-minum pun dapat menjadi simbol keceriaan, persahabatan, kehangatan, dan kekeluargaan. Bukan berarti kita juga harus mengadopsi pemikiran tersebut, kita boleh memiliki prinsip lain, tetapi sebagai makhluk sosial sudah seharusnya kita menghargai pilihan orang lain.
2. Tantangan untuk Mempertahankan Pilihan
Dengan menyadari keadaan ini, hal tersebut dapat menjadi ancaman maupun peluang yang dapat kita manfaatkan. Ancamannya kita dapat mudah terpengaruh, namun peluangnya kita dapat menyusun strategi untuk membentengi pilihan kita. Contohnya, karena saya orangnya visioner, apabila saya memiliki anak nanti. saya tidak ingin anak saya menyentuh alkohol, karena saya seorang muslim dan preferensi saya terhadap alkohol, sebaiknya 'sangat' dihindari. Tetapi kita mahkluk sosial dan sudah pasti kita bersosialisasi, sementara keadaan sosial seperti itu. Kesadaran kita terhadap kondisi sosial itulah yang dapat membantu kita bagaimana kita mencegah agar kita dapat mempertahankan apa yang sudah menjadi pilihan kita. Bandingkan dengan orang yang tidak tahu kondisi sosial sebenarnya, dia tidak akan bisa membuat pertahanan dengan baik, bukan?
3. Everybody has a Dark Side
Sekarang saya akan lebih spesifik kepada yang beragama muslim. Untuk agama selain islam, tidak ada larangan untuk minum alkohol, tapi di muslim ada, berarti orang yang minum minuman keras dapat dikatakan bahwa ia melanggar aturan agamanya. Ini agak mengecewakan bagi saya. yang tidak minum di malam itu setelah saya tanya juga ternyata pernah minum minuman yang serupa. Kembali lagi inilah realitas sosialnya.
Tetapi pertanyaan sebenarnya adalah : Apakah kejadiaan ini membuat nilai diri mereka berkurang? Apakah hal ini serta merta menjadikan orang tersebut orang yang buruk dan tidak berharga lagi?
Mungkin apa yang mereka lakukan memang buruk. ya, sangat buruk. Tetapi bukan berarti hal tersebut membuat kebaikan yang mereka lakukan tidak berarti. Mereka tetap orang yang sama. Hal baik yang mereka perbuat datang dari orang yang sama. Sama seperti orang yang memutuskan memakai hijab, apabila mereka masih berbuat maksiat, tidak berarti bahwa hijab yang mereka pakai jadi tidak berguna. Apabila seseorang melakukan kesalahan besar seperti membunuh, mencuri, atau memakai narkoba, bukan berarti kenyataan bahwa mereka membangun tempat ibadah, mengadopsi anak-anak terlantar, atau menolong seseorang yang berada dalam kesulitan.
Keburukan memiliki tempatnya sendiri, begitu pula dengan kebaikan. Ingatlah bahwa manusia tidak mungkin hidup dengan salah satu saja. Setiap orang pasti memiliki sisi baik, dan setiap orang pasti memiliki sisi buruk. Tinggal bagaimana seseorang mengelolanya, bagaimana kita memperlakukan orang seperti itu. Apabila dalam keluarga kita atau teman kita melakukan kesalahan besar, apakah membuangnya ke jalan dan mengutuki hidupnya akan menjadikannya lebih baik? Dia dapat menjadi seseorang yang lebih buruk atau seseorang yang lebih baik tergantung dirinya dan lingkungannya juga. Setiap orang adalah makhluk sosial, setiap orang bisa melakukan kesalahan, setiap orang butuh support dari orang lain.
Sayangnya, orang yang sungguh dapat berempati dengan kesalahan orang lain biasanya adalah orang yang pernah melakukan kesalahan yang sama besarnya. Banyak orang yang berhasil survive tanpa berbuat kesalahan yang fatal akan merasa orang-orang yang sebaliknya adalah orang yang sangat buruk. Kadang mereka lupa bahwa mereka juga 'orang'. Dan apapun kesalahannya, hal tersebut juga sama sebuah kesalahan. Tidak menjadikan orang lain lebih baik dari orang lainnya dari kesalahannya.
Mungkin saya dapat mengatakan hal seperti ini karena alasan itu tadi, saya juga pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan besar. Mungkin karenanya lebih mudah bagi saya untuk memaafkan, lebih mudah bagi saya untuk menerima, karena mungkin dalam hati, saya pun berharap untuk dimaafkan. Tetapi bukan berarti setiap orang harus melakukan kesalahan terlebih dahulu untuk sebuah empati kan? Cobalah untuk mengasah kepekaan diri dan cobalah untuk berpikiran terbuka untuk melihat dunia. Kau tidak tahu hal-hal kecil yang kau lakukan ternyata bisa menyelamatkan seseorang untuk terperosok lebih jauh. Menyelamatkan seseorang untuk memulai hidup kembali dengan lebih baik.
4. The Power of Social Media
Jika melihat apa yang saya lakukan, saya hanya mengunggah foto kaleng-kaleng bir, dan kemudian saya mengunggah foto saya sedang minum sesuatu. Secara teknis, hal tersebut tidak serta merta memberitahu bahwa saya sedang minum bir. Bir dan saya berada di dua foto yang terpisah. Namun ternyata hal tersebut dapat menyulut reaksi yang hebat dari orang lain. Memang, mungkin secara logis, "ya wajar lah orang bakal mikir begitu, kan diunggahnya bersamaan". Tapi tahukah kalau logika itulah yang dimanfaatkan penyebar hoax untuk menyebar berita-berita yang tidak benar? Hanya karena dua foto terlihat 'nyambung', berhubungan, orang-orang langsung 'cocoklogi' membuat kesimpulan. Tidak menanyakan klarifikasi terlebih dahulu.
Itupun, saya hanya mengunggah pada story instagram yang hanya dapat dilihat oleh teman-teman dekat saya jadi sebagian besar sudah paham bahwa saya tidak mungkin minum. Bagaimana kalau saya mengunggahnya secara publik? Mungkin orang-orang akan langsung berpikir ke sana (Sayangnya untuk yang ini saya tidak ingin mengambil resiko untuk membuktikannya). Pelajarannya adalah jangan menjadi orang yang heuristik, cepat mengambil kesimpulan dari hal-hal yang hanya ada sebagian. Konfirmasi terlebih dahulu secara langsung. Kritis terhadap hal-hal yang ada di sekeliling kita.
5. Kamu adalah Role Model bagi Lingkunganmu
Pesan dari teman saya yang pertama, sesungguhnya yang membuat saya kaget, adalah saat ia menyatakan bahwa saya adalah public figure baginya. Somehow saat dia mengatakan bahwa "hal ini membuat kualitas dirimu berkurang", saya secara aneh merasa lega karena saya merasa bahwa saya sangat belum pantas untuk menjadi role model bagi siapapun. Meskipun foto miras kemarin tidak cukup merepresentasikan mengapa saya merasa tidak pantas.
Tetapi hal ini membuat saya sadar, bahwa orang-orang dapat mencontoh apapun dari apa yang kita perbuat. Kita adalah role model bagi lingkungan kita. Minimal bagi teman-teman kita. Kalau sudah memiliki anak, kita adalah contoh bagi anak-anak kita. Hal inilah yang harus disadari, bahwa meskipun kita tidak sempurna, sudah kewajiban kita untuk memberi contoh yang baik-baik. "Kita adalah bagaimana teman-teman kita", sekarang saya paham bahwa ada dua arti dari pepatah ini. Pertama, pribadi kita dibentuk dari orang-orang yang kita ajak bergaul. Kita mencontoh orang-orang yang menjadi teman kita. Dan kedua, teman-teman kita merupakan representasi diri kita. Teman-teman kita mencontoh apa yang kita lakukan. Teman-teman kita merupakan cerminan dari bagaimana kita berperilaku dan bertindak.
Bukan artinya kita jaga image, apalagi munafik. Tapi kita tidak boleh bangga dengan hal buruk yang kita lakukan. Karena itu jangan disebarluaskan. Menyembunyikan aib bukan berarti bermuka dua, tapi agar kita tidak memberi peluang ada seseorang yang mencontohnya. Dalam islampun ada sunnah untuk menyembunyikan aib kita. Berusahalah untuk berbuat yang terbaik dan berusahalah untuk mengajak orang lain ke arah yang baik. Malu dengan keburukan namun akui kesalahan agar orang lain mengerti bahwa hal tersebut adalah salah. Jadi intinya jangan bangga dengan kesalahan-kesalahan kita.
Itulah pelajaran-pelajaran yang saya ambil malam itu. Hal ini adalah hasil dari pemikiran saya pribadi. Saya akan sangat terbuka apabila ada yang memiliki pendapat lain atau sharing pengalamannya. Semoga kita menjadi manusia yang selalu lebih baik dari sebelumnya.
Jujur saja ini pertama kalinya saya berada di antara orang-orang yang minum. Sebagian teman-teman saya di sini beragama non-muslim jadi mungkin ini bagian dari tradisi atau suatu hal seperti itu. Namun sebagian lainnya (yang saya tahu) adalah muslim, yang sepengetahuan saya dalam agama islam hukumnya haram untuk menenggak minuman beralkohol. Tapi saya cepat mengendalikan diri untuk tidak menjadi seorang idealis dalam situasi seperti ini. Selain karena saya adalah yang paling muda, secara teknis apa yang mereka lakukan tidak illegal. Saya memutuskan untuk menikmati suasana ceria yang sengaja dibangun, dan menghabiskan malam itu untuk memperhatikan dan merenungkan situasi sosial ini.
Sedikit intermezo, karena baru pertama kali secara langsung melihat minuman keras, saya memutuskan untuk mengambil foto-foto kaleng dan botol itu dan mengunggahnya di media sosial. Sebagai tambahan saya post foto saya sedang minum suatu cairan berwarna hitam (yang sebenarnya itu adalah coke). Entah apa yang saya coba buat tapi yang saya pikirkan 'mungkin lucu apabila menemui teman-teman saya panik melihat saya seperti itu dan mulai berpikir yang tidak-tidak'. Alasan yang sangat childish sebenarnya bila saya pikirkan sekarang.
Setelah saya mengunggah foto-foto tersebut ke story instagram, saya mendapat beberapa DM instagram dari teman-teman saya. isinya sebagian besar menanggapi dengan tertawa, ada yang menanyakan apakah saya mencicipinya atau tidak dan bagaimana rasanya, ada yang heboh karena botol bir yang saya foto adalah brand mahal dan dia sepertinya mau, dan lain-lain tanggapannya.
Namun ada juga yang cukup membuat saya kaget. Karena saya membuat post itu hanya dapat dilihat teman-teman dekat saya, sudah pasti yang mengomentari foto-foto tersebut adalah salah satu teman dekat saya. Pada pesan tersebut dia mengungkapkan bahwa dia kecewa dengan apa yang dia lihat. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya saya adalah role model baginya dan dia kecewa kenyataannya saya melakukan hal seperti itu. Sejenis dengan pesan sebelumnya, salah satu teman saya menanggapi dengan lebih emosional lagi. Sebelum akhirnya saya jelaskan keadaannya, dia mengakui bahwa hal itu benar-benar membuat dia marah hingga dia mendapati dirinya tidak fokus karena tidak percaya bahwa saya melakukan itu.
Karena memang saya membuat post itu hanya mencari sensasi dan menurut saya itu lucu, saya agak tidak menyangka bahwa ada tanggapan-tanggapan yang hingga sebegitunya. Karena itu malam ini saya merasa mendapat banyak pelajaran..
1. Miras dalam Pandangan Sosial
Orang-orang yang ada di acara minum-minum itu semuanya adalah orang baik. Tambahan, mereka juga merupakan orang yang pintar dan berpendidikan. Bagaimana tidak, saya mengenal mereka semua orang-orang kantoran, memiliki karir yang sangat bagus, dan saya sering sekali belajar bersama dengan mereka, menuntut ilmu, dsb. Beberapa dari mereka sangat sayang kepada saya, sebagai yang paling muda di situ, sering sekali mereka membelikan saya sesuatu seperti makanan, mengantarkan saya pulang dll.
Namun melihat kenyataan ini saya perlu waktu untuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi, karena selama ini yang saya percayai, mabuk sangat identik dengan dunia gelap, dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang dalam tanda kutip "orang jahat" saja. Karena itu dulu saya pernah sangat kecewa dengan seseorang karena dia pernah mencicipi bir, dan menganggap dia melakukan hal yang sangat buruk. Saya berpikir hal yang sangat mudah bukan, untuk menolak minum? Mudah juga untuk menjauhi orang yang suka minum-minum karena "kelihatan" mana orang yang baik dan mana yang buruk.
Tetapi ternyata tidak begitu. Dan yang saya pelajari adalah, ternyata mabuk tidak selalu identik dengan dunia hitam, mungkin kita dapat katakan hal itu juga merupakan tradisi yang bagi sebagian orang itu bukan hal yang buruk. Saya mencoba Open My Mind untuk menerima realitas yang sesungguhnya tersebut. Yang saya pikirkan, kalau sudah begini, kita tidak bisa lagi mengatakan "eh orang itu kayaknya begundal, preman, kerjanya pasti mabuk-mabukan, sama dia aja yang berkelas, orang kantoran, rapi, dsb". Alasannya, pertama, belum tentu yang orang kantoran tidak suka mabuk-mabukan. Kedua, mabuk dalam pandangan sosial ternyata tidak selalu memiliki preferensi negatif. Minum-minum pun dapat menjadi simbol keceriaan, persahabatan, kehangatan, dan kekeluargaan. Bukan berarti kita juga harus mengadopsi pemikiran tersebut, kita boleh memiliki prinsip lain, tetapi sebagai makhluk sosial sudah seharusnya kita menghargai pilihan orang lain.
2. Tantangan untuk Mempertahankan Pilihan
Dengan menyadari keadaan ini, hal tersebut dapat menjadi ancaman maupun peluang yang dapat kita manfaatkan. Ancamannya kita dapat mudah terpengaruh, namun peluangnya kita dapat menyusun strategi untuk membentengi pilihan kita. Contohnya, karena saya orangnya visioner, apabila saya memiliki anak nanti. saya tidak ingin anak saya menyentuh alkohol, karena saya seorang muslim dan preferensi saya terhadap alkohol, sebaiknya 'sangat' dihindari. Tetapi kita mahkluk sosial dan sudah pasti kita bersosialisasi, sementara keadaan sosial seperti itu. Kesadaran kita terhadap kondisi sosial itulah yang dapat membantu kita bagaimana kita mencegah agar kita dapat mempertahankan apa yang sudah menjadi pilihan kita. Bandingkan dengan orang yang tidak tahu kondisi sosial sebenarnya, dia tidak akan bisa membuat pertahanan dengan baik, bukan?
3. Everybody has a Dark Side
Sekarang saya akan lebih spesifik kepada yang beragama muslim. Untuk agama selain islam, tidak ada larangan untuk minum alkohol, tapi di muslim ada, berarti orang yang minum minuman keras dapat dikatakan bahwa ia melanggar aturan agamanya. Ini agak mengecewakan bagi saya. yang tidak minum di malam itu setelah saya tanya juga ternyata pernah minum minuman yang serupa. Kembali lagi inilah realitas sosialnya.
Tetapi pertanyaan sebenarnya adalah : Apakah kejadiaan ini membuat nilai diri mereka berkurang? Apakah hal ini serta merta menjadikan orang tersebut orang yang buruk dan tidak berharga lagi?
Mungkin apa yang mereka lakukan memang buruk. ya, sangat buruk. Tetapi bukan berarti hal tersebut membuat kebaikan yang mereka lakukan tidak berarti. Mereka tetap orang yang sama. Hal baik yang mereka perbuat datang dari orang yang sama. Sama seperti orang yang memutuskan memakai hijab, apabila mereka masih berbuat maksiat, tidak berarti bahwa hijab yang mereka pakai jadi tidak berguna. Apabila seseorang melakukan kesalahan besar seperti membunuh, mencuri, atau memakai narkoba, bukan berarti kenyataan bahwa mereka membangun tempat ibadah, mengadopsi anak-anak terlantar, atau menolong seseorang yang berada dalam kesulitan.
Keburukan memiliki tempatnya sendiri, begitu pula dengan kebaikan. Ingatlah bahwa manusia tidak mungkin hidup dengan salah satu saja. Setiap orang pasti memiliki sisi baik, dan setiap orang pasti memiliki sisi buruk. Tinggal bagaimana seseorang mengelolanya, bagaimana kita memperlakukan orang seperti itu. Apabila dalam keluarga kita atau teman kita melakukan kesalahan besar, apakah membuangnya ke jalan dan mengutuki hidupnya akan menjadikannya lebih baik? Dia dapat menjadi seseorang yang lebih buruk atau seseorang yang lebih baik tergantung dirinya dan lingkungannya juga. Setiap orang adalah makhluk sosial, setiap orang bisa melakukan kesalahan, setiap orang butuh support dari orang lain.
Sayangnya, orang yang sungguh dapat berempati dengan kesalahan orang lain biasanya adalah orang yang pernah melakukan kesalahan yang sama besarnya. Banyak orang yang berhasil survive tanpa berbuat kesalahan yang fatal akan merasa orang-orang yang sebaliknya adalah orang yang sangat buruk. Kadang mereka lupa bahwa mereka juga 'orang'. Dan apapun kesalahannya, hal tersebut juga sama sebuah kesalahan. Tidak menjadikan orang lain lebih baik dari orang lainnya dari kesalahannya.
Mungkin saya dapat mengatakan hal seperti ini karena alasan itu tadi, saya juga pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan besar. Mungkin karenanya lebih mudah bagi saya untuk memaafkan, lebih mudah bagi saya untuk menerima, karena mungkin dalam hati, saya pun berharap untuk dimaafkan. Tetapi bukan berarti setiap orang harus melakukan kesalahan terlebih dahulu untuk sebuah empati kan? Cobalah untuk mengasah kepekaan diri dan cobalah untuk berpikiran terbuka untuk melihat dunia. Kau tidak tahu hal-hal kecil yang kau lakukan ternyata bisa menyelamatkan seseorang untuk terperosok lebih jauh. Menyelamatkan seseorang untuk memulai hidup kembali dengan lebih baik.
4. The Power of Social Media
Jika melihat apa yang saya lakukan, saya hanya mengunggah foto kaleng-kaleng bir, dan kemudian saya mengunggah foto saya sedang minum sesuatu. Secara teknis, hal tersebut tidak serta merta memberitahu bahwa saya sedang minum bir. Bir dan saya berada di dua foto yang terpisah. Namun ternyata hal tersebut dapat menyulut reaksi yang hebat dari orang lain. Memang, mungkin secara logis, "ya wajar lah orang bakal mikir begitu, kan diunggahnya bersamaan". Tapi tahukah kalau logika itulah yang dimanfaatkan penyebar hoax untuk menyebar berita-berita yang tidak benar? Hanya karena dua foto terlihat 'nyambung', berhubungan, orang-orang langsung 'cocoklogi' membuat kesimpulan. Tidak menanyakan klarifikasi terlebih dahulu.
Itupun, saya hanya mengunggah pada story instagram yang hanya dapat dilihat oleh teman-teman dekat saya jadi sebagian besar sudah paham bahwa saya tidak mungkin minum. Bagaimana kalau saya mengunggahnya secara publik? Mungkin orang-orang akan langsung berpikir ke sana (Sayangnya untuk yang ini saya tidak ingin mengambil resiko untuk membuktikannya). Pelajarannya adalah jangan menjadi orang yang heuristik, cepat mengambil kesimpulan dari hal-hal yang hanya ada sebagian. Konfirmasi terlebih dahulu secara langsung. Kritis terhadap hal-hal yang ada di sekeliling kita.
5. Kamu adalah Role Model bagi Lingkunganmu
Pesan dari teman saya yang pertama, sesungguhnya yang membuat saya kaget, adalah saat ia menyatakan bahwa saya adalah public figure baginya. Somehow saat dia mengatakan bahwa "hal ini membuat kualitas dirimu berkurang", saya secara aneh merasa lega karena saya merasa bahwa saya sangat belum pantas untuk menjadi role model bagi siapapun. Meskipun foto miras kemarin tidak cukup merepresentasikan mengapa saya merasa tidak pantas.
Tetapi hal ini membuat saya sadar, bahwa orang-orang dapat mencontoh apapun dari apa yang kita perbuat. Kita adalah role model bagi lingkungan kita. Minimal bagi teman-teman kita. Kalau sudah memiliki anak, kita adalah contoh bagi anak-anak kita. Hal inilah yang harus disadari, bahwa meskipun kita tidak sempurna, sudah kewajiban kita untuk memberi contoh yang baik-baik. "Kita adalah bagaimana teman-teman kita", sekarang saya paham bahwa ada dua arti dari pepatah ini. Pertama, pribadi kita dibentuk dari orang-orang yang kita ajak bergaul. Kita mencontoh orang-orang yang menjadi teman kita. Dan kedua, teman-teman kita merupakan representasi diri kita. Teman-teman kita mencontoh apa yang kita lakukan. Teman-teman kita merupakan cerminan dari bagaimana kita berperilaku dan bertindak.
Bukan artinya kita jaga image, apalagi munafik. Tapi kita tidak boleh bangga dengan hal buruk yang kita lakukan. Karena itu jangan disebarluaskan. Menyembunyikan aib bukan berarti bermuka dua, tapi agar kita tidak memberi peluang ada seseorang yang mencontohnya. Dalam islampun ada sunnah untuk menyembunyikan aib kita. Berusahalah untuk berbuat yang terbaik dan berusahalah untuk mengajak orang lain ke arah yang baik. Malu dengan keburukan namun akui kesalahan agar orang lain mengerti bahwa hal tersebut adalah salah. Jadi intinya jangan bangga dengan kesalahan-kesalahan kita.
Itulah pelajaran-pelajaran yang saya ambil malam itu. Hal ini adalah hasil dari pemikiran saya pribadi. Saya akan sangat terbuka apabila ada yang memiliki pendapat lain atau sharing pengalamannya. Semoga kita menjadi manusia yang selalu lebih baik dari sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar