Kursi Rejeki
Jum'at, 9/11/2018
Pagi ini seperti pagi biasanya di tanggal ganjil, saya berangkat menggunakan kendaraan umum yaitu bus yang berangkat dari dekat rumah saya, Grandhika Jatiwarna. Sebelum menaiki bus biasanya saya bertanya kepada diri sendiri ada uang cash nggak ya? Kemudian saya mengingat uang kembalian sejumlah Rp 20.000,- yang saya terima kemarin malam dan saya cemplungkan ke dalam tas. 'Aman' kata saya.
Menaiki bus ke arah kuningan, penumpang yang berada di dalam bus sudah cukup banyak. Alhamdulillah saya masih dapat tempat duduk meskipun di kursi belakang. Setelahnya, karena sedikit tidak tenang, saya mengecek uang yang ada di dalam tas. Saya coba raba-raba, tidak berhasil menemukan uang Rp. 20.000,- tersebut. Akhirnya barang-barang di dalam saya keluarkan satu per satu.
Sampai isi tas hampir kosong, saya tidak berhasil menemukan uang saya. 'Waduh, ilang ke mana?', kata saya dalam hati sembari merogoh-rogoh kembali setiap sudut tas saya. tidak ada. Bapak di samping saya bertanya, "ada yang ketinggalan mbak?". Saya ceritakan bahwa uang saya tinggal 20 ribu dan harusnya ada di dalam tas tapi hilang.
Bus sudah mulai meluncur mendekati pintu keluar Grandhika, dan isi bus sudah hampir full. Sedikit menyesali keputusan saya langsung masuk ke bus tanpa mengecek 'uang yang dimaksud' benar nyata atau khayalan, karena kalau saya langsung sadar bahwa saya butuh mengambil cash dari ATM, di dekat sana ada mesin ATM dan saya bisa mengambil uang terlebih dahulu. Sekarang jika saya meninggalkan bus, ada kemungkinan saya tertinggal bus ini, atau kalau tidak bus ini pasti full dan saya pasti harus rela berdiri sampai tujuan.
Akhirnya saya pasrah, tidak ada pilihan lain. Sebenarnya ada pilihan untuk meminta bantuan bapak di sebelah saya karena biasanya penumpang bus ini 'itu-itu aja', pekerja kantoran yang berdomisili di sekitar sini. Tapi nggak ah, masa ngutang sama orang baru dikenal, kata saya meyakinkan diri sendiri, untuk lebih memilih keluar dan mengambil uang di ATM. Kalau ketinggalan bus ya sudah, naik bus jurusan lain lalu disambung transjakarta. Kalau harus berdiri ya sudah.
Saya memutuskan untuk turun..
Setengah berlari, saya menghampiri mesin ATM yang ada di pom bensin di sebelah pangkalan bus. Kemudian setelah uang terambil, saya berlari kembali ke bus tadi. Alhamdulillah masih belum berangkat. Tapi saya sudah siap, harus rela berdiri karena sejak tadi saya lihat banyak penumpang baru yang sudah masuk bus.
Masuk bus, saya sudah melihat ada yang berdiri (tanda nggak dapat tempat duduk biasanya). Saya menghampiri mbak yang berdiri tersebut dengan maksud berdiri di sampingnya, sebelum tiba-tiba mas yang duduk paling belakang menunjuk sebuah kursi kosong di bagian belakang bus. Kursi saya tadi.
Dengan heran saya menghampiri kursi tersebut dan duduk kembali, persis di tempat saya duduk tadi. Saya bertanya ke bapak di sebelah saya, "bapak jagain kursinya tadi saat saya ambil uang?". Beliau menjawab, "nggak kok nggak saya jagain". Saya tanya lagi kenapa ada mbak-mbak yang berdiri kalau memang masih ada kursi yang kosong, dan bapak itu tidak tahu alasannya. Kemudian beliau bilang, "memang rejekinya mbak berarti, buat duduk di sini"
Saya tertegun dengan kata-kata itu. Simple, tapi tidak ada alasan lain. Ya, mungkin itu memang rejeki saya. Saya sudah pasrah akan kehilangan tempat duduk saya pagi itu karena harus keluar bus lagi, sudah rela jika ketinggalan bus, tapi pada akhirnya memang rejeki saya untuk duduk di kursi itu di bus itu pagi ini.
Peristiwa ini mungkin sederhana, tapi bagi saya melambangkan sesuatu hal yang besar dan menjadi pengingat saya bahwa, apa yang memang menjadi rejeki kita pasti akan sampai pada kita. Rejeki tidak akan salah alamat. Jodoh pasti bertemu kalau kata orang, rejeki pasti diraih bila kita berusaha. Semoga cerita ini bisa menjadi cerminan kita semua untuk selalu sabar, berpasrah diri dan pastinya bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup kita.
Komentar
Posting Komentar