Ketidakpastian

"Hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian"

Kalimat tersebut adalah perkataan dari ketua divisi di tempat saya bekerja, yang saya kutip saat morning briefing di pagi itu. (Sedikit saya ubah kalimatnya agar lebih general tanpa mengurangi esensinya). Pernyataan yang saya akui kebenarannya, pernyataan yang menjadi pelajaran yang saya dapat hari itu.

Manusia menyukai kepastian. Segala hal yang terjadi sehari-hari, orang selalu berharap sesuai dengan rencana mereka. Sebelum bertemu harus berjanji, sebelum bekerja harus tanda tangan kontrak, sebelum bertindak harus menyusun strategi, dan hal-hal lain yang selalu diusahakan manusia untuk mengurangi ketidakpastian. 

Sebenarnya, apakah kepastian itu? dan apakah hal tersebut benar-benar ada?

Saya tidak akan berkata banyak masalah filosofi yang saat ini berputar di kepala saya. Simplenya, kepastian itu tidak ada (menurut saya). Setidaknya di dunia ini. Mungkin setelah mati, termasuk kematian itu sendiri. Tapi selain itu, nihil.

Sayangnya secara alami, manusia tidak menyukai kondisi tersebut. Bahkan dalam konteks tertentu, sebuah ketidakpastian dapat menjadi stressor yang hebat. Agak lucu mengingat sebenarnya memang tidak ada hal yang pasti di dunia ini, apa daya, beginilah kita, manusia.

Kemudian apa yang harus kita lakukan?

Jawaban saya sederhana ; berdamai dengan ketidakpastian.



Sedikit bercerita apa yang saya alami baru-baru ini, yang meninggalkan kesan berharga dalam hati saya.

Hari itu, saya memiliki teman yang anggota keluarganya kecelakaan. Hanya satu informasi itu, serta tempat kejadian perkara ia informasikan. Setelah itu hilang, lost contact, tentunya karena setelah itu ia disibukkan oleh hal-hal yang harus diurus. Saya, yang saat itu-merasa sebagai-teman dekatnya merasa khawatir sepanjang hari. Dalam hati saya ingin sekali untuk menengok kondisinya dan keluarganya namun hingga menjelang waktu bekerja saya usai, saya belum menemukan lokasi spesifik dan yang tersebut juga belum dapat dikontak. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa saya ingin sekali ke lokasi yang bersangkutan. 

Diam-diam saya mencoba untuk mencari jalan ke sana, karena saya belum pernah ke tempat tersebut. Saya merasa hal tersebut cukup gila karena tempatnya jauh. Sebagai pertimbangan saya mencoba untuk menanyakan pendapat teman kerja saya apakah sebaiknya saya berangkat atau tidak dengan kondisi demikian. Jawabannya seperti yang diduga; "Jangan, kan belum pasti disananya di mana"

Jam pulang kerja tiba, dan akhirnya saya menyerahkan semuanya pada impulsi : Saya berangkat.

Bermodal pengetahuan dari informan sekunder (re: internet) saya pergi ke lokasi. Setengah berharap bahwa yang bersangkutan akan dapat dihubungi setibanya saya di sana. Namun dalam hati saya tahu, that i will go there for nothing. Saya tidak akan bertemu dia di tempat itu.

Lalu kenapa saya memutuskan untuk pergi?

Jawaban awalnya adalah, karena saya merasa bahwa saya akan menyesal jika tidak mencoba. Saya tidak ingin menyesali apapun. Dan yang kedua adalah karena saya ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa saya serius dengan niat saya untuk datang. Apakah hal itu normal? saya tidak tahu. yang saya tahu adalah bahwa saat itu saya sedang berkompromi dengan ketidakpastian dan berjalan berdampingan dengannya.

Hari itu saya tutup dengan saya pulang ke rumah tanpa dapat mendatangi lokasi. Seperti yang diduga, teman saya tidak dapat dikontak, dan mau tidak mau saya harus pulang. Yes, i have gone for nothing. Secara literal, iya. Tapi benarkah seperti itu? Kalau apa yang saya rasakan, sebenarnya tidak juga.

Somehow, apa yang saya lakukan membuat saya lega. Karena saya berusaha, dan saya tahu saya telah berusaha, hal itu melegakan. Karena kita ikhlas pada hasilnya. Rasanya sama seperti saat kita berjuang dalam lomba namun tidak mendapatkan juara, kita dapat lebih mudah merasa ikhlas, karena kita telah berusaha maksimal. Dan satu faktor lagi adalah karena kita berdamai dengan ketidakpastian. "nothing to lose" mungkin istilahnya. 

Kadang kepastian membuat kita berharap, sehingga ketidakpastian sebaliknya, membuat kita tidak mencengkram harapan kita. Dengan legowo menerima bahwa memang segala hal ini tidak pasti, saat sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, kita dapat lebih mudah menerimanya.

Dan ternyata, hal tersebut berpengaruh cukup baik juga pada teman saya. Setelah akhirnya dia bisa dihubungi, saya menceritakan usaha saya untuk datang menghampirinya. Dia berkata bahwa dirinya tersentuh dan hal tersebut menjadi semangatnya. Ah, bukankah itu suatu hal yang indah? saat kita telah berjuang dan perasaan tersebut sampai kepada seseorang. Memang tidak pasti sampai, tapi melihat apa yang ternyata didapat, segala kelelahan itu terbayar pada akhirnya. Karena pada dasarnya kita ingin menyemangati teman kita bukan? Dan keinginan itu tercapai.

Begitulah pelajaran yang saya ambil hari itu. Bahwa kita hidup dengan ketidakpastian dan dengan kondisi itulah bagaimana caranya kita dapat bertahan dan berdamai dengannya. Karena sekali waktu kita dapat menerima dengan lapang dada, segala hal dapat terasa lebih indah dan bermakna.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Aku adalah Alam

Curahan Hati #2