Baju Bekas
"kamu dapat baju itu dari mana?"
"ih masa pakai pakaian bekas orang?"
"kamu kan nggak tau itu orang sebelumnya ada penyakit kulit lah, atau penyakit menular lainnya"
"kita masih mampu, ga usah deh beli yang bekas kalau bisa beli baru"
Kata-kata seperti ini yang selalu saya dengar sedari kecil. Jangankan pakaian bekas, meminjam baju orang lain pun, di keluarga saya sangat diharamkan. Hal tersebut membuat suatu mindset bahwa pakaian bekas adalah suatu hal yang buruk dan memalukan.
Suatu titik balik terjadi saat tahun-tahun pertama saya kuliah di luar daerah (selama ini saya hidup di jakarta, di kota) Berkuliah di jogja, menemui peradaban dan budaya baru di sana.
Di suatu sore, seorang teman saya menyeletuk mengajak saya ke suatu tempat,
"cari awul-awul yuk," katanya.
Karena tidak dibesarkan di daerah, meskipun keturunan jawa, saya tidak mengerti bahasa jawa. saya tanya lah, "awul-awul itu apa?"
"itu loh biasanya gunungan baju yang dijual di pasar malem. umumnya baju bekas"
Mendengar kata 'baju bekas' sontak saya menyeringai geli dan secara spontan meluncurkan kata-kata yang, mungkin menurut orang-orang di sini biasa saja, tapi tidak di sana.
baju bekas? kenapa kamu mau pakai pakaian bekas orang lain? kamu bukan sudah tidak mampu kan? kok kamu mau sih? dsb dsb
teman saya terdiam, dan setelah itu saya baru menyadari kalau dia tersinggung dengan kata-kata saya.
---
Peristiwa pada hari itu membuat saya mencoba memahami perihal mengenai 'baju bekas' ini dari sudut pandang lain. Sama seperti hal lainnya, tentu semua dapat dilihat dari berbagai perspektif. Saya mulai memperhatikan teman-teman di sekitar saya, perayaan di lokasi setempat, dan bagaimana respon sosial terhadap hal tersebut.
Ternyata banyak sekali teman saya yang juga doyan berburu baju bekas. 'Kualitas tinggi tapi murah' adalah alasan yang paling sering saya dengar perihal mereka senang membeli baju bekas. Penasaran, saya mencoba untuk membandingkan barang-barang bekas tersebut. Tapi saya sadari saya tidak mengerti apa-apa mengenai kualitas baju.
Ternyata secara mengejutkan, mereka justru sangat paham mengenai kualitas. Dari bahan baju, kekuatannya, apakah baju tersebut akan awet atau tidak, apakah waterproof, apakah gampang kusut, hangat atau tidak, terbuat dari apa, bagaimana cara merawatnya, dll.
Saya menyadari bahwa skill tersebut tidak main-main dan terasah dengan baik karena seringnya mereka menyeleksi pakaian-pakaian "terbaik diantara yang terburuk". Tak jarang mereka mendapatkan pakaian yang benar-benar bagus dengan harga yang fantastis. Bahkan terkadang, sebelum mereka hunting baju bekas, mereka melakukan riset terlebih dahulu melalui internet terkait baju-baju yang ingin mereka cari. Memperhatikan spesifikasinya, dan mengingat harganya, sehingga kemudian mereka dapat bandingkan dengan yang mereka temukan di lapangan. Tak jarang mereka menemukan baju yang sesuai dengan harga 3 hingga 10 kali lipat lebih murah! Fantastis bukan?
Pintar dan Hemat!
Untuk permasalahan bersih atau tidak, saya lebih sering melihat teman-teman tidak ada yang terlalu mempedulikan masalah tersebut. Dicuci secara normal dan kemudian dipakai, tidak pernah ada masalah yang ditemukan. Meskipun pada hakikatnya, penyakit kulit dapat menular lewat pakaian, tapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat dari orang-orang yang senang berburu pakaian bekas. Mungkin istilahnya sudah pasrah kali ya? hehe.. Kalau tentang ini, hanya masalah preferensi saja, kalau memang khawatir dan tidak mau memakai pakaian bekas, tidak masalah kok!
Sementara untuk masalah pinjam meminjam pakaian, didasari dengan alasan yang sama, wajar juga sebagian orang menganggap itu adalah sesuatu yang 'menjijikan'. Tapi yang saya perhatikan, jika kita mau melihat dari perspektif lain, terkadang pinjam dan meminjamkan baju dapat menjadi suatu hal yang merekatkan hubungan. Kepercayaan, terutama, dan persaudaraan. Kita tidak merasa jijik jika kita bertukar pakaian dengan saudara kita bukan? seperti itulah perasaan saat kita sampai pada level di mana kita dapat berganti-gantian pakaian dengan teman kita (setidaknya secara subjektif, itulah yang saya rasakan, setelah akhirnya saya mencoba untuk pinjam-meminjamkan baju, dan ikut berburu pakaian bekas).
Namun sekali lagi, ini masalah preferensi. Semua orang berhak berpendapat, semua orang berhak untuk mempercayai apa yang menjadi sudut pandang mereka.
Yang terpenting adalah saya belajar banyak hal yang berharga:
1. Menghargai orang
Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Artinya belum tentu opini kita yang paling benar. Sehingga saat menemukan kondisi atau fenomena sosial yang berbeda dengan mindset kita selama ini, tidaklah bijak jika kita langsung menjudge kondisi tersebut dengan penilaian kita. Buruk menurut kita belum tentu buruk dari sudut pandang lainnya. Selalu ada sisi positif yang dapat kita ambil dari hal apapun dalam hidup, dan untuk menyadarinya, kita dapat mulai dengan saling menghargai satu sama lain.
2. Selalu ada pelajaran di setiap aspek kehidupan
Terlihat sangat buruk bukan berarti tidak ada hal baik di sana. Terkadang kita perlu berpindah tempat, dan membuka pikiran agar kita dapat melihat dari sudut pandang yang lain. Seperti masalah baju bekas ini, teman-teman saya yang melakukannya, dan mungkin pada akhirnya saya juga, memperoleh skill-skill baru yang, tidak disangka, bermanfaat untuk aspek lain dalam kehidupan.
Sesederhana memperhatikan detail, memilih diantara yang mirip-mirip, melakukan riset terlebih dahulu, kemudian membandingkan. Jauh berbeda dengan kepraktisan saat kita membeli baju mahal dengan asumsi "baju mahal pasti kualitas bagus" bukan? Gara-gara ini saya jadi banyak memahami bahan-bahan baju juga. hahaha.. meskipun belum se-ekspert mereka. Dan kebiasaan ini juga meningkatkan kemampuan saya untuk "menyeleksi" apapun, khususnya sebelum saya membeli suatu barang.
3. Indah saat menemukan perbedaan
Berpindah tempat, dan kemudian beradaptasi. Keseluruhan proses tersebut tidak mudah. Banyak momen yang mengharuskan saya mengambil sikap yang bijak karena bertabrakan dengan mindset awal. Tapi pada akhirnya, saat pada akhirnya saya bisa menerima perbedaan tersebut, saya merasakan banyak dampak positif yang saya rasakan. Saya dapat lebih mudah dekat dengan orang lain, dan dapat lebih terbuka pikirannya di saat berhadapan dengan masalah.
"ih masa pakai pakaian bekas orang?"
"kamu kan nggak tau itu orang sebelumnya ada penyakit kulit lah, atau penyakit menular lainnya"
"kita masih mampu, ga usah deh beli yang bekas kalau bisa beli baru"
Kata-kata seperti ini yang selalu saya dengar sedari kecil. Jangankan pakaian bekas, meminjam baju orang lain pun, di keluarga saya sangat diharamkan. Hal tersebut membuat suatu mindset bahwa pakaian bekas adalah suatu hal yang buruk dan memalukan.
Suatu titik balik terjadi saat tahun-tahun pertama saya kuliah di luar daerah (selama ini saya hidup di jakarta, di kota) Berkuliah di jogja, menemui peradaban dan budaya baru di sana.
Di suatu sore, seorang teman saya menyeletuk mengajak saya ke suatu tempat,
"cari awul-awul yuk," katanya.
Karena tidak dibesarkan di daerah, meskipun keturunan jawa, saya tidak mengerti bahasa jawa. saya tanya lah, "awul-awul itu apa?"
"itu loh biasanya gunungan baju yang dijual di pasar malem. umumnya baju bekas"
Mendengar kata 'baju bekas' sontak saya menyeringai geli dan secara spontan meluncurkan kata-kata yang, mungkin menurut orang-orang di sini biasa saja, tapi tidak di sana.
baju bekas? kenapa kamu mau pakai pakaian bekas orang lain? kamu bukan sudah tidak mampu kan? kok kamu mau sih? dsb dsb
teman saya terdiam, dan setelah itu saya baru menyadari kalau dia tersinggung dengan kata-kata saya.
---
Peristiwa pada hari itu membuat saya mencoba memahami perihal mengenai 'baju bekas' ini dari sudut pandang lain. Sama seperti hal lainnya, tentu semua dapat dilihat dari berbagai perspektif. Saya mulai memperhatikan teman-teman di sekitar saya, perayaan di lokasi setempat, dan bagaimana respon sosial terhadap hal tersebut.
Ternyata banyak sekali teman saya yang juga doyan berburu baju bekas. 'Kualitas tinggi tapi murah' adalah alasan yang paling sering saya dengar perihal mereka senang membeli baju bekas. Penasaran, saya mencoba untuk membandingkan barang-barang bekas tersebut. Tapi saya sadari saya tidak mengerti apa-apa mengenai kualitas baju.
Ternyata secara mengejutkan, mereka justru sangat paham mengenai kualitas. Dari bahan baju, kekuatannya, apakah baju tersebut akan awet atau tidak, apakah waterproof, apakah gampang kusut, hangat atau tidak, terbuat dari apa, bagaimana cara merawatnya, dll.
Saya menyadari bahwa skill tersebut tidak main-main dan terasah dengan baik karena seringnya mereka menyeleksi pakaian-pakaian "terbaik diantara yang terburuk". Tak jarang mereka mendapatkan pakaian yang benar-benar bagus dengan harga yang fantastis. Bahkan terkadang, sebelum mereka hunting baju bekas, mereka melakukan riset terlebih dahulu melalui internet terkait baju-baju yang ingin mereka cari. Memperhatikan spesifikasinya, dan mengingat harganya, sehingga kemudian mereka dapat bandingkan dengan yang mereka temukan di lapangan. Tak jarang mereka menemukan baju yang sesuai dengan harga 3 hingga 10 kali lipat lebih murah! Fantastis bukan?
Pintar dan Hemat!
Untuk permasalahan bersih atau tidak, saya lebih sering melihat teman-teman tidak ada yang terlalu mempedulikan masalah tersebut. Dicuci secara normal dan kemudian dipakai, tidak pernah ada masalah yang ditemukan. Meskipun pada hakikatnya, penyakit kulit dapat menular lewat pakaian, tapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat dari orang-orang yang senang berburu pakaian bekas. Mungkin istilahnya sudah pasrah kali ya? hehe.. Kalau tentang ini, hanya masalah preferensi saja, kalau memang khawatir dan tidak mau memakai pakaian bekas, tidak masalah kok!
Sementara untuk masalah pinjam meminjam pakaian, didasari dengan alasan yang sama, wajar juga sebagian orang menganggap itu adalah sesuatu yang 'menjijikan'. Tapi yang saya perhatikan, jika kita mau melihat dari perspektif lain, terkadang pinjam dan meminjamkan baju dapat menjadi suatu hal yang merekatkan hubungan. Kepercayaan, terutama, dan persaudaraan. Kita tidak merasa jijik jika kita bertukar pakaian dengan saudara kita bukan? seperti itulah perasaan saat kita sampai pada level di mana kita dapat berganti-gantian pakaian dengan teman kita (setidaknya secara subjektif, itulah yang saya rasakan, setelah akhirnya saya mencoba untuk pinjam-meminjamkan baju, dan ikut berburu pakaian bekas).
Namun sekali lagi, ini masalah preferensi. Semua orang berhak berpendapat, semua orang berhak untuk mempercayai apa yang menjadi sudut pandang mereka.
Yang terpenting adalah saya belajar banyak hal yang berharga:
1. Menghargai orang
Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Artinya belum tentu opini kita yang paling benar. Sehingga saat menemukan kondisi atau fenomena sosial yang berbeda dengan mindset kita selama ini, tidaklah bijak jika kita langsung menjudge kondisi tersebut dengan penilaian kita. Buruk menurut kita belum tentu buruk dari sudut pandang lainnya. Selalu ada sisi positif yang dapat kita ambil dari hal apapun dalam hidup, dan untuk menyadarinya, kita dapat mulai dengan saling menghargai satu sama lain.
2. Selalu ada pelajaran di setiap aspek kehidupan
Terlihat sangat buruk bukan berarti tidak ada hal baik di sana. Terkadang kita perlu berpindah tempat, dan membuka pikiran agar kita dapat melihat dari sudut pandang yang lain. Seperti masalah baju bekas ini, teman-teman saya yang melakukannya, dan mungkin pada akhirnya saya juga, memperoleh skill-skill baru yang, tidak disangka, bermanfaat untuk aspek lain dalam kehidupan.
Sesederhana memperhatikan detail, memilih diantara yang mirip-mirip, melakukan riset terlebih dahulu, kemudian membandingkan. Jauh berbeda dengan kepraktisan saat kita membeli baju mahal dengan asumsi "baju mahal pasti kualitas bagus" bukan? Gara-gara ini saya jadi banyak memahami bahan-bahan baju juga. hahaha.. meskipun belum se-ekspert mereka. Dan kebiasaan ini juga meningkatkan kemampuan saya untuk "menyeleksi" apapun, khususnya sebelum saya membeli suatu barang.
3. Indah saat menemukan perbedaan
Berpindah tempat, dan kemudian beradaptasi. Keseluruhan proses tersebut tidak mudah. Banyak momen yang mengharuskan saya mengambil sikap yang bijak karena bertabrakan dengan mindset awal. Tapi pada akhirnya, saat pada akhirnya saya bisa menerima perbedaan tersebut, saya merasakan banyak dampak positif yang saya rasakan. Saya dapat lebih mudah dekat dengan orang lain, dan dapat lebih terbuka pikirannya di saat berhadapan dengan masalah.
Komentar
Posting Komentar