Bertanggung Jawab pada Pilihan
"Choice, expectation and its consequences are all our own responsibility"
-Mayang Pramudita Yusuf-
Pernahkah kita melakukan suatu hal, namun di suatu titik kamu menyesalinya? Entah karena kamu gagal, atau hanya secara alami hal tersebut memang tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginanmu. It doesn't work as you want . Dan pada titik itu pula, kamu cenderung menyalahkan orang lain.
Misalnya dalam suatu hubungan, katakanlah kamu mengencani seseorang (pacaran lah). Lalu di suatu ketika kamu menemukan bahwa pasanganmu menyakitimu. Akhirnya kamu merasa kecewa dan berkata "Karena dia seperti ini, aku meninggalkannya"
Atau saat kita bekerja di suatu perusahaan. Ternyata setelah bekerja kamu menemukan banyak hal untuk dikeluhkan. Manajemen yang tidak adil, gaji yang tidak sesuai, pekerjaan yang sangat menumpuk, hingga akhirnya kamu stress dan tidak dapat berperilaku dengan baik di sekitar orang-orang. Akhirnya keluarlah ucapan semacam, "gara-gara pekerjaanku, aku menjadi orang yang tidak sabaran dan semua orang membenciku"
Hei, sebelum kita lanjut, jujurlah.. Apakah kamu pernah mengucapkan hal-hal itu? Mungkin konteksnya berbeda, tapi mirip seperti itu. Jujur saja
***
Kita cenderung menyalahkan orang lain, atau hal lain ketika kita merasa 'sakit'. entah sakit secara fisik maupun secara mental.
Ya ini adalah hal yang normal, manusia secara psikologi cenderung melimpahkan suatu fokus ke hal lain ketika kita mendapatkan tekanan. Dalam psikologi hal ini dilakukan oleh Mekanisme Pertahanan Diri (Self Defense Mechanism) secara alam bawah sadar kita.
Dalam budaya Indonesia sendiri, menyalahkan hal lain sudah ditanamkan secara tidak sadar bahkan semenjak kita kecil. Misalnya ketika kita terantuk meja, lalu dengan cepat orang tua kita berkata "Aduh, kasihan, mejanya nakal ya? Kita pukul aja mejanya!"
Secara tidak langsung, peristiwa tersebut menanamkan mindset di otak anak, bahwa saat terantuk dan kita kesakitan, salahkan saja mejanya. Ini bisa terbawa hingga dewasa sehingga bukan malah terbiasa untuk lebih berhati-hati saat melewati meja, kita malah menyalahkan meja itu ketika sudah celaka.
***
Pilihan kita, tanggung jawab kita
Dalam hidup ada beberapa hal yang tidak dapat kita pilih ; kapan kita lahir, jenis kelamin, dan kapan kita meninggal. Sisanya kebanyakan adalah pilihan. Bagaimana kita bersikap, keputusan apa yang kita ambil. Tidak ada yang benar-benar "harus".
Pastinya setiap pilihan memiliki konsekuensi. Misalnya kalau kita memutuskan untuk makan, konsekuensinya adalah kita kenyang. Saat kita memutuskan untuk menyebrang di jembatan penyebrangan, konsekuensinya adalah tidak akan tertabrak mobil.
Kadangkala konsekuensi belum tentu terjadi, kadang juga konsekuensi tidak datang sendiri. Contohnya, saat kita memutuskan untuk makan, belum tentu kita jadi kenyang. Atau saat menyebrang melewati jembatan penyebrangan, memang kita tidak akan tertabrak mobil, tapi kita menjadi lelah karena harus naik tangga ke atas, dan turun lagi ke bawah.
Pada intinya, setiap perbuatan pasti menghasilkan konsekuensi.
Karena itu cara terbaik memutuskan sesuatu adalah mempertimbangkan konsekuensinya, sehingga kita dapat memutuskan dengan bijak. Dan jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, ketika konsekuensinya ternyata tidak seperti yang kita pikirkan, atau menimbulkan konsekuensi negatif, cara terbaik untuk menghadapinya adalah menerima konsekuensi tersebut sebagai bentuk tanggung jawab kita terhadap diri sendiri, dan orang lain, di beberapa kasus.
Kita kembali lagi ke contoh hubungan, pacaran misalnya. Dalam hubungan akan selalu ada 2 kemungkinan konsekuensi ; apakah hubungan itu akan berhasil terjalin dan bertahan, ataukah akan gagal dan selesai. Hubungan apapun akan selalu memiliki kemungkinan tersebut.
Maka, ketika hubungan pada akhirnya tidak berhasil, jangan justru menyalahkan salah satu pihak. Karena itu artinya melimpahkan tanggung jawab atas keputusan kita kepada orang lain. Bahkan meskipun ada kesalahan dari orang tersebut, tapi kita jugalah yang memutuskan, dan ingat, sebagai pembuat keputusan, kita yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keputusan itu sendiri.
"Loh, tapi dia yang nembak duluan? kenapa jadi saya yang harus bertanggung jawab?"
Bahkan saat orang lain yang melakukan aksi pertama, tetap hal yang kita lakukan adalah keputusan kita sendiri. Misalnya, kamu menerima pernyataan cinta orang tersebut. Itu kamu yang memutuskan bukan? Dan keputusan tersebut pastinya akan menimbulkan konsekuensi.
"Tapi aku menerima dia karena suruhan dari teman-temanku. Itu salah mereka dong?"
Tetap saja, meskipun disuruh oleh siapapun, kamu tetap punya pilihan Ya dan Tidak, dan itu adalah keputusanmu, sehingga konsekuensinya pun milikmu.
***
"Ubah apa yang bisa kita pengaruhi saja. Lakukan bagian kita dan biarkan orang lain melakukan bagian mereka"
Keputusan apapun, bahkan ketika dibuat oleh dua orang secara bersama-sama, tetap memerlukan tindakan dari masing-masing pihak. Dan ketika muncul konsekuensi dari tindakan tersebut, maka konsekuensi tersebut juga menjadi miliki masing-masing pihak.
Dan kadangkala kita juga berharap bahwa suatu keputusan dapat ditentukan bersama-sama namun kenyataannya tidak. Saat itu terjadi, sebenarnya sama saja, konsekuensi akan selalu menjadi milik orang yang mengambil keputusan.
Contoh, kamu menyukai seseorang. Kamu sangat menyukai orang tersebut sehingga kamu memberikan banyak hadiah. Kamu mengantarnya kemana-mana, membelikan dia barang, dan apapun yang dia inginkan.
Hingga suatu ketika, saat kamu mengutarakan bahwa kamu suka padanya, dan berharap dia bisa menerima cintamu, ternyata kamu ditolak.
Di situ kamu marah, dan merasa bahwa selama ini kamu dimanfaatkan. Kamu salahkan orang tersebut terhadap semua investasi yang sudah kamu keluarkan untuknya.
Di sini, apakah benar hanya orang tersebut yang salah?
"Dia membuatku berharap, karena itu aku terus melakukannya. Seharusnya dia tidak membuatku berharap", katamu
Nah di sinilah, kita harus bisa membedakan, mana yang menjadi keputusan kita, dan mana yang menjadi keputusan orang lain. Sesungguhnya ada beberapa proses didalamnya:
1. Siapa yang membuat berharap? Dia. Maka konsekuensi dari membuat berharap menjadi tanggung jawabnya. Apa konsekuensinya? Konsekuensinya kamu akan berharap, kamu akan terus memberikan barang-barang, atau kamu akan pergi. Itu konsekuensinya.
2. Siapa yang berharap? Kamu. Maka konsekuensi dari berharap menjadi tanggung jawabmu. Apa konsekuensinya? Konsekuensinya bisa jadi harapanmu menjadi kenyataan, atau harapanmu tidak menjadi kenyataan. Konsekuensinya bisa jadi kamu mendapatkan, atau kamu kehilangan. Dan itu adalah konsekuensi dari kamu yang berharap, dan artinya menjadi tanggung jawabmu.
Seperti yang dikatakan di awal bahwa, meskipun keputusan melibatkan dua orang, bisa jadi keputusan dibuat secara sendiri-sendiri. Dia yang memberi harapan, dan kamu yang berharap. Meskipun berkaitan, namun tindakan yang berbeda dan dengan konsekuensi yang berbeda.
Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Sadari apa yang menjadi bagianmu, sadari tindakan yang mana yang menjadi tanggung jawabmu, dan menerima konsekuensi dari keputusanmu sendiri.
Biarkan orang lain yang memutuskan tindakan mereka sendiri dan bertanggung jawab atas konsekuensinya sendiri
***
Dengan menyadari apa yang menjadi bagianmu, kamu akan terlatih untuk belajar dari kesalahan dan bertanggung jawab dengan keputusanmu sendiri.
Misalnya, kamu menyadari bahwa kamu yang salah karena berharap. Maka kamu akan lebih berhati-hati di kesempatan lain, sehingga kamu tidak merugikan dirimu sendiri. Kalau kamu bersikeras bahwa "dia yang salah", percayalah bahwa kejadian yang sama akan terulang lagi, karena kamu tidak belajar menentukan keputusan yang bijak bagi dirimu sendiri
Sementara mungkin untuk dia, bisa belajar untuk tidak memberikan harapan. Tapi apakah dia akan belajar atau tidak? itu keputusan dia. Bukan bagian kita sehingga tidak perlu menjadi tanggung jawab kita.
Selamat belajar bertanggung jawab dan membuat pilihan yang bijak!
***
Cerita tambahan..
Dahulu aku pernah menyukai seseorang. Awalnya aku pikir hubungan ini akan berhasil. Banyak hal sudah kuberikan, apalagi karena aku tahu kalau uang jajannya sedikit sekali. Aku merasa bisa mengajaknya untuk merasakan hal-hal yang tidak mampu ia beli seperti makanan atau ke tempat wisata yang sebelumnya tidak terjangkau olehnya.
Ketika pada akhirnya hubungan ini tidak berhasil, aku mengingat kilas balik tentang apa saja yang sudah kita lakukan. Momen ketika aku menghemat uang jajanku agar aku bisa membelikannya barang, atau ketika aku bekerja keras lewat usaha freelance agar aku dan dia bisa berjalan-jalan.
Aku berpikir, apakah aku menyesal?
Tidak.. aku tidak menyesal, dan aku tidak boleh juga menyesal. Ini keputusanku.
Saat aku membuat keputusan, aku tidak berharap hubungan ini akan berhasil. Aku hanya ingin menyenangkannya, dan memberikannya banyak hal juga membuatku senang. Karena aku bekerja dan berusaha untuknya, aku jadi bisa belajar mengatur keuangan. Aku belajar menghemat, aku belajar bekerja.
Jika dipikirkan, banyak hal yang kudapatkan dari hubungan tersebut. Aku memperoleh skill-skill baru, bagaimana cara bersikap ketika hati dipenuhi emosi, dan bagaimana cara memotivasi diri ketika lelah.
Investasi yang kukeluarkan, mungkin tidak kembali dalam wujud yang kuinginkan, tapi kembali dalam wujud lain yang bermanfaat untuk diriku sendiri ke depannya.
Aku tidak menyesal dan justru bersyukur karenanya
Hingga saat ini aku masih berteman dengannya. Kami bertanggung jawab atas keputusan masing-masing. Aku dengan diriku, dia dengan dirinya. Dan kami mengingat hal-hal manis diantara kami sebagai kenangan yang baik dan bermanfaat sebagai pembelajaran dalam hidup kami.
Komentar
Posting Komentar