Menerima Diri
"Saat kita pada akhirnya menerima bahwa kita tidak sebaik yang kita inginkan, dan berbahagia karenanya"
My mom is a born leader. Mamaku adalah seseorang yang terlahir sebagai pemimpin. Sejak kecil banyak sekali yang ia ceritakan, mengenai pengalamannya menjadi ketua atau kepala suatu organisasi. Hingga sekarang melihatnya sebagai pegawai serta pengusaha yang sukses menduduki jabatan yang tinggi, selalu membuatku bangga, sebagai anaknya.
Rupa-rupanya, tanpa sadar keinginan untuk seperti dirinya terpatri dalam otakku. Yah, namanya juga orang tua kan, biasa menjadi role model anaknya. Apalagi aku yang tidak punya bapak. Siapa lagi kalau bukan mamaku? Tapi lagi, anak bukan orang tuanya. Dan aku tidak seperti mamaku.
Beberapa kali kesempatan itu datang, seperti mimpi, dan ternyata tidak benar-benar datang, seperti ilusi. Ketika SMP, SMA, Kuliah mengikuti ribuan kegiatan serta nyaris menjadi orang 'tertinggi', yang nyatanya tidak.
"Kamu belum siap"
Kata seseorang saat aku bertanya mengapa ia tidak memilihku saat pemilihan ketua angkatan. Padahal aku salah satu kandidat yang katanya kuat, dan dia adalah salah satu orang terdekatku saat ini. Normalnya, sahabat akan memberikan support kan? Tapi dia hanya mengatakan kalimat itu. Bahwa aku belum siap.
belum siap apa? Kenapa?
Aneh sebenarnya, karena seharusnya aku sudah banyak belajar dari berbagai kegagalan 'menjadi pemimpin' sebelumnya. Jangankan menjadi pemimpin, memiliki teman-teman yang percaya dan rely on me saja tidak bisa. Seharusnya aku sadar,
bahwa Tuhan menganugerahkan aku sebagai orang yang harus banyak belajar memahami bahasa dan ucapan.
Iya, pada kenyataannya, aku memiliki kemampuan komunikasi yang tidak terlalu baik. Aku tidak bisa menentukan apakah yang kukatakan tepat, atau apa yang seharusnya kusampaikan ketika mengungkapkan pendapat, tanpa menyakiti lawan bicara, atau jika ingin membuat mereka terkesan.
Bahkan sampai sekarang, usiaku sudah 25 tahun, hampir 26, ternyata aku masih belum bisa melakukannya.
***
Kamu tahu kenapa aku mulai menulis lagi? karena aku baru saja melakukan kesalahan, dan aku butuh menulis untuk menenangkan pikiranku. Iya benar, kesalahannya berkaitan dengan tulisan ini. Mungkin aku ceritakan sedikit tentang masalah itu.
Beberapa bulan terakhir, aku mulai menginisiasi suatu organisasi. Iya aku, orang yang banyak sekali gagal menjadi pemimpin sebelumnya malah nekat bikin organisasi sendiri. Aku pikir aku sudah siap.
Tapi ternyata, aku mengacaukannya. Berulang kali saat kita sedang berdiskusi, suasana menjadi panas dan tidak enak. Aku pikir, apa yang terjadi sebenarnya? Apakah ada kesalahan yang kulakukan? Akhirnya hari ini aku tidak tahan untuk bertanya-tanya pada diri sendiri dan kuungkapkan pada salah satu rekan organisasiku. Jawabannya mengejutkan (setidaknya mengejutkanku)
Rupanya ia tersinggung atas salah satu kalimat yang kuungkapkan. Kalimat yang aku tidak sangka dapat membuat seseorang tersinggung karena yang ingin kusampaikan sesungguhnya sangat positif, bahwa aku bermaksud menyemangati orang tersebut, bahwa aku ingin menunjukkan bahwa aku percaya orang tersebut. Ternyata, begitu yang ia rasakan. Di satu sisi aku sangat marah, karena niat baikku dianggap sebagai sesuatu yang buruk, betapa jahatnya! Tapi di satu sisi, aku menyadari bahwa mungkin, kesalahan ini adalah kesalahanku, yang datang dari kelemahanku
Bahwa seperti yang kukatakan, aku tidak mampu mengetahui apa yang seharusnya kukatakan di saat aku ingin mengungkapkan isi hati.
Di situlah aku sadar bahwa aku belum berubah, bahwa betapa bodohnya aku me-nekat-kan diri karena merasa sudah siap.
***
"Mungkin, untuk bisa memimpin dg baik untuk kapasitas saat ini paling penting bisa memimpin diri dulu (menerima diri, dan manajemen diri)"
Di tengah kegalauanku yang random, aku menghubungi senior yang kupercayai sebagai seseorang yang mampu memimpin orang-orang di sekitarnya. Secara sangat random, aku menghubunginya via chat dan meminta saran. Syukurlah, karena dia memang orang yang baik, ia mau menanggapi pertanyaan anehku yang datang secara tiba-tiba.
Salah satu kalimat yang membuatku "terbangun" adalah kalimat tersebut, bahwa mungkin sebelum kita bisa memimpin orang lain, kita perlu menerima diri sendiri terlebih dahulu. Dan itu yang belum mampu aku lakukan.
Aku belum bisa menerima kekuranganku, aku belum bisa mengatasi kekuranganku, aku belum bisa memperbaiki dan aku belum memahami apa yang harus kulakukan ketika berhadapan dengan itu. Bagaimana aku harus bersikap, bagaimana aku harus menyampaikan ke orang lain sehingga aku tidak harus menyakiti terlebih dahulu. Aku belum tahu
Aku belum bisa menerima diriku sendiri
Yang mungkin, artinya, aku memang belum siap memimpin orang lain.
***
"Kamu belum siap"
Terngiang kembali perkataan sahabatku di masa kuliah. Andai saja aku meresapi kata-katanya saat itu. Sekarang, aku sudah memulai suatu organisasi yang, ya pemimpinnya seperti ini. Orang yang belum bisa menjadi pemimpin.
Apa yang harus kulakukan? haruskah kubatalkan terbentuknya organisasi ini sebelum terlambat?
Atau apa?
Sesungguhnya aku belum tahu apa yang harus kulakukan dan berbagai kemungkinan justru hanya berputar di kepalaku.
***
Aku ingin menerima diriku
Di topik berbeda, aku memang memiliki kesulitan untuk menerima diri sendiri. Sudah cukup lama aku berenang di dalam self-hate, terkungkung rasa tidak puas terhadap diri sendiri.
Aku ingin berubah. Meskipun aku belum tahu caranya.
Semoga segera ku bisa menemukan jawabannya sehingga aku bisa menulis dengan nada yang jauh lebih positif.
Dan aku berdoa, siapapun yang membaca ini, telah dapat menerima diri mereka, sehingga segala potensi yang dimiliki akan bisa keluar sepenuhnya dengan kondisi di mana mereka mencintai diri mereka sendiri
Hingga saat mereka membicarakan kekurangan dan kelemahan, mereka justru merasa bangga dan bahagia karenanya. Aamiin
Komentar
Posting Komentar