Merdeka (Jawaban)
Tulisan ini adalah jawabanku
atas pesanmu padaku, Agustus 2018 lalu
http://nadadalamsenyap.blogspot.com/2018/08/
Saat ini 2 tahun kurang 2 hari
Waktu terakhir kita bertemu, 2 jam sebelum waktu terakhirmu di dunia
Dalam kebisingan pikiran yang merayapi hari-hari, aku memutuskan berenang di antara kata-kata yang kau ukir di sosial media
"Ah.. " jika saya otakku bersuara, sudah ribuan kali terucap
Rupanya kau masih hidup dalam tulisanmu
Ku rasa tak berlebihan jika analoginya seperti oasis. Ditengah kerinduanku aku menemukan dirimu yang lain. Bahkan saat fisikmu sudah tiada dan jiwamu sudah pulang. Kau masih mampu untuk mengajarkan dan mewarnai. Kau masih mampu untuk mengisi, mengalirkan kejenuhan keluar pergi.
Kubiarkan mataku berfokus pada pesan-pesan yang kau tinggalkan. Menjadi sebuah penghiburan dan pengingat akan kasih sayang manusia.
Sampai di sebuah postingan bulan Agustus, satu-satunya tulisanmu bulan itu.
"Jika suatu saat kamu membaca ini, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu"
Jika suatu saat kamu....
...kamu...
Tak pernah ku lihat dalam coretanmu ada nama siapapun tersebutkan, namun aku tahu bahwa 'kamu' di sini adalah aku. Meskipun seringkali kau menulis 'kamu' dan seringkali aku tak memahami siapa itu, kali ini aku tahu.
"Ya.. apa yang perlu ku tahu?"
Aku tahu aku bukan belahan jiwamu, aku tahu aku bukanlah obat untukmu, aku tahu aku bukan orang yang bisa melengkapimu. Aku bukan semua itu.
Kita telah mengerti bahwa pertemuan itu bukan kebetulan, sejak hari di mana masing-masing kita memutuskan untuk menjawab pesan satu sama lain. Meskipun aku juga tidak terlalu nyaman menyebutnya takdir. Aku pun tak tahu bagaimana menggambarkannya.
Aku pun ingat saat kita bertanya satu sama lain, apa yang kau pilih, 'pergi' atau 'tinggal'. Kau memilih untuk tinggal, dan akupun memilih demikian. Ingatkah apa yang kita bicarakan? 'Aku ingin tahu alasan kita dipertemukan' itu yang kau katakan
Jadi apa alasan kita dipertemukan?
Lucu, kalau kita masih bertanya-tanya. Karena kenyataannya waktu sudah menghabisi dirinya sendiri, merontokkan kesempatan kita untuk mencari. Sudah tidak ada lagi kesempatannya.
Jadi apa alasan kita dipertemukan?
Alasan kita dipertemukan
Untuk membuatku tetap hidup
Dan untuk mengisi momen terakhir hidupmu
Kau datang untuk membantuku melanjutkan kehidupan. Dan aku datang untuk mengantarmu meninggalkan kehidupan. Mengisi waktu terakhirmu dengan kebahagiaan. Itu kata kakakmu padaku, bahwa aku bagian dirimu yang terindah, bukan begitu?
Itulah alasan kita dipertemukan
Karena itu aku tahu, bahwa kita memang bukan untuk hidup bersama. Karena pertemuan kita dari awalnya, adalah persinggungan untuk akhirnya.
Dan itu bukanlah hal yang menyedihkan
Karena itu aku tahu, bahwa kita tidak sereceh muda-mudi yang jatuh cinta, kita bukan 'kakak-adik' ketemu gede yang mengiringi masa krisis dua lima. Bukan, kita hadir untuk mengisi garis waktu satu sama lain, agar kamu bisa berbahagia di perhentian, dan aku bisa berbahagia untuk melanjutkan.
Pilihan kita
Jalan kita
Yang risikonya sudah kita pahami dan mengerti, untuk menjadi bagian dari satu sama lain. Hey, dengarkah kau?
Terima kasih untuk memilih mencintaiku
Kau pergi, tapi meninggalkan jejak dan bukti yang menguatkanku. Bahwa kamu peduli, kamu memilih di sini. Kamu memilih merasakan tanpa peduli konsekuensi. Karena memang tidak ada alasan, bukan? Kamu mencintai bukan untuk dicintai.
Nyatanya, aku merindukanmu
Sama seperti tulisanmu sebelum-sebelumnya yang mengatakan 'aku rindu'
Hey, jangan salah paham. Sama seperti dirimu, perasaanku tidak ada hubungannya dengan harapan.
Kalaupun kamu ada di sini, aku tak bisa membayangkan kita disatukan
Lebih jauh
Tidak, kita memang bukan belahan jiwa
Tapi itu tidak menjadi alasan tidak mencinta
Aku mencintaimu, iya, aku juga
Bentuk kemerdekaanku untuk memilihnya
Dan itu cukup
Terima kasih telah menjadikanku cinta terakhirmu
Komentar
Posting Komentar