Apakah kamu sudah sukses?

Hari ini, aku mengenal lebih jauh seseorang yang kutemui di Atmajaya, teman sekelasku di CHRP. Aku menemukan bahwa dia adalah seseorang yang benar-benar amazing. Lulusan ST* T*lk*m yang langsung bekerja di perusahaan terkemuka di Indonesia, promosi berkali-kali, menempati berbagai jabatan, bolak-balik keluar negeri gratis dalam rangka training, dan dalam waktu 7 tahun mencapai level setara vice president. Setelahnya keluar dari perusahaan tersebut dan diterima bekerja di Amerika, saat itu ia baru berumur 30, hanya 3 tahun bekerja dan langsung membuat perusahaan sendiri. IQ 152 yang artinya jenius banget, hasil tes Pauli 3,5 lembar (14.000 hitungan), bertemu jodohnya di Jepang, dan sudah membangun keluarga.

Dan yang mencengangkan adalah, dari kesuksesannya yang gemilang, dia masih disini, belajar, seakan tidak puas dengan ilmu yang bolak-balik dia dapatkan di luar negeri. Humble dan friendly, setiap hari mendengarkan dengan serius. Banyak teman, dan tidak pelit untuk mengajarkan yang lain. Orang yang sangat ramah dan terbuka.

Rasa-rasanya hidup yang sangat sempurna. Cantik, pintar, rendah hati, sukses, siapa yang tidak mau seperti itu?

Kalau dibandingkan denganku, seorang freshgraduate dengan IPK biasa saja, sudah hampir setengah tahun lulus belum dapat kerja, IQ biasa aja, boro-boro punya teman banyak, gaul aja nggak. Ga cantik, jodoh ya belum ketemu, apalagi sukses ya berpenghasilan aja belum. Bener-bener beda.

Pertanyaannya:
Apakah aku mengharapkan hidup seperti dia?

Ya, itu memang kehidupan yang diharapkan semua orang.
Menjadi sukses, mapan, bahagia dengan keluarga.

Tapi kalau aku berkaca lagi..
Aku mungkin memang payah. tidak bisa matematika, hitung-hitunganku payah, aku beberapa kali mengulang kelas. Skill setengah setengah, dari berpuisi maupun bermusik, hanya sekedarnya, begitupun dengan hal lain. Tidak bisa memimpin orang, apalagi menjalankan organisasi.

Tapi aku mengetahui hal yang aku suka. Seorang gadis yang mencintai alam. Kesukaanku adalah bermain di alam, mendaki, menelusur goa, memanjat tebing, mengarungi sungai. Aku mengikuti bermacam-macam organisasi, menyisihkan waktu SMA dan kuliahku untuk hal-hal yang aku suka. Aku belajar menulis, bela diri, medis, dan hal-hal lain yang kuinginkan. Aku mengeksplor diriku, ku temukan bakatku yang memiliki empati tinggi dan menjadi seorang pendengar. Aku menemukan kepuasan saat aku bisa membantu orang lain.

***
Aku menemukan kebahagiaanku disini. Saat aku menenggelamkan diriku diantara hutan tak bersinyal, saat aku mendedikasikan diriku untuk mengenal banyak hal, saat hatiku menghangat saat seseorang mengatakan terima kasih, aku bahagia.
Ini bukan masalah sukses, atau mapan, atau cantik atau lainnya. Ini tentang kebahagiaan.

Jika aku bisa merasa bahagia bila aku dapat mencapai apa yang temanku capai tadi, berarti aku akan mengejar itu. Sudah seharusnya aku menjadikan kehidupan seperti itu menjadi cita-citaku juga dan berusaha mengejarnya.
Tapi catatannya, apakah aku yang sekarang akan bahagia seperti itu?

Kenyataannya tidak.
Bukan tidak mampu, tapi kita didesain untuk hal lain.

Kalau kalian tanya, apakah teman saya tadi bisa mendengarkan orang seperti saya? apakah dia bisa naik turun gunung dengan perasaan seperti saya? Apakah ada seseorang yang benar-benar berterima kasih karena merasa diselamatkan hidupnya?

mungkin tidak
mungkin bisa tapi tidak mau
atau yang lain, intinya dia tidak mengambil jalan yang sama denganku

Disini sumber kebahagian kita berbeda.. dia bahagia dengan bekerja, sementara aku bahagia dengan mendengar dan menyapa alam.
Siapa yang salah? Tidak ada

Jika kita menilai ikan dari cara dia terbang, selamanya dia akan bodoh melakukannya. Jika seorang elang dinilai dari caranya memanjat, dia akan selalu gagal.

Kadang kita terlalu mengikuti norma, mengikuti mainstream orang yang berpendapat bahwa orang yang A sudah pasti bahagia, yang B pasti tidak bahagia. Kenyataannya tidak sesimple itu. Manusia terlahir untuk suatu tujuan.. kita diberikan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tugas kita adalah mengenali diri kita sendiri dan hidup dengan cara yang memang sesuai dengan diri kita sendiri.

Kita mencoba bahagia dengan mengikuti orang lain.. kenyataannya kita menutup jalan kita sendiri.

Jadi apa yang sudah aku pilih dan kujalani, aku tidak menyesal. Aku bersyukur menemukan diriku, bahwa diriku seperti ini dan aku mengerti di mana tempatku. Dan aku tahu dimana bahagiaku.

Jadi temukan dirimu, terimalah, dan jalani hidupmu sebagai kamu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Aku adalah Alam

Curahan Hati #2