Idealis VS Realis?

Saya berpikir, waktu dimana idealisme muncul kebanyakan adalah saat menjadi mahasiswa. Pemikiran seperti pelestarian alam, perlindungan satwa, perlawanan terhadap korupsi, dan hal positif lainnya, timbul dan kita tuntut pada dunia (mungkin yang kita janjikan pada diri sendiri juga).

Tapi saat memasuki dunia kerja, semua orang berlomba-lomba memasuki perusahaan besar. tidak peduli apakah perusahaan itu dijalankan oleh uang kotor, ataukah digunakan sebagai taktik politik. siapa yang peduli?

saat mahasiswa, mungkin kita pernah membuat artikel yang menggugah kesadaran akan keadaan dunia. kita ikut berjuang dalam demo, dengan karya tulis atau penelitian. saat lulus? terlempar ke dunia nyata?

kita ikut terseret mengikuti orang-orang. kita bangga saat menduduki posisi atas, tapi hanya bisa diam melihat betapa kotor singgasana yang kita duduki. kita tidak bergerak melihat penyuapan di hadapan mata. kalau kita bergerak, boro-boro berhasil, yang ada mungkin kita dipenjara karena pencemaran nama baik, dipecat, dibuang dengan catatan khusus. kita tidak berdaya akan jaringan bengis yang kenyataannya, menghidupi keluargamu-dengan gajimu.

ironis.

kemana idealismemu yang dulu? apakah demi menjadi realis kau membuang dirimu yang idealis?
hingga kini saya sendiripun tak tahu apa solusi terbaik untuk masalah ini. tapi kalau kita tak menyadari ini, bagaimana kita akan merubahnya?

meskipun sedikit, saya yakin harapan untuk memulihkan dunia masih ada. dan harapan itu muncul dari setiap benih-benih baru, generasi baru. semoga kita termasuk orang yang tidak membuang idealisme itu. meskipun realistis itu penting, bukan berarti kita jadi membuang hal yang tidak sepatutnya kita hilangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Aku adalah Alam

Curahan Hati #2