Sedikit mengenalkan dari sisi Psikologis
Saat menghadapi sebuah KEHILANGAN, seseorang biasa akan melewati 5 fase psikologis antara lain denial (penolakan), anger (kemarahan), bergaining (tawar menawar), depression (depresi) dan penerimaan.
Disini penjelasannya 'denial' dan 'anger' saja karena biasanya fase tersebut nampak dan berimbas secara langsung terhadap objek disekitar mereka berupa kemarahan, penolakan, dan keinginan untuk menyalahkan.
itu bisa berlaku untuk kehilangan apa saja loh.. entah itu hewan peliharaan, tanaman yang dirawat, diputusin (?), dan lain-lain. biasa juga terjadi saat menghadapi keadaan kritis, menjelang ajal, dan meninggal.
objek kemarahan bisa pada Tuhan, dokter, bisa juga diri sendiri. Karena itu alasan tenaga-tenaga medis juga dibekali dengan ilmu psikologis agar dapat menghadapi dengan baik dan memberikan respon yang sesuai. sebagai tenaga medis maupun calon tenaga medis harus siap dengan hal tersebut.
Pernah ga lihat PMI yang biasa nolong korban kecelakaan? mereka contoh yang udah kenyang "dilabrak" ditempat karena dianggap faktor kematian orang. bayangkan diludahin, diteriakan, disalahkan secara langsung.
apakah sang PMI marah-marah balik menjelaskan bahwa itu bukan kesalahan mereka? tentu tidak. karena mereka sudah paham bahwa hal tersebut adalah kebutuhan sang pasien atau keluarga pasien untuk meluapkan, dan cepat atau lambat mereka akan sampai di tahap penerimaan.
jadi istilahnya orang tersebut berjasa untuk menjadi wadah luapan emosi dan bersyukurlah kalian yang seperti itu. tenaga medis memang punya resiko itu dan akan baik sekali saat kita bisa memaklumi dan bersabar. semangat untuk para calon tenaga medis Indonesia 😊
p.s. Saya menulis ini setelah membaca sebuah post yang merasa keberatan karena disalahkan atas sebuah kematian, dan melihat respon di kolom komentar, cukup banyak yang mendukung sender menyalahkan "Si Penyalah" tadi.
hanya mencoba mengenalkan bahwa "ada loh fase seperti ini" sehingga kita dapat mengerti, tidak marah, dan dapat menanggapi dengan baik, entah itu tenaga professional maupun orang awam. indahnya saling memahami 💕
Disini penjelasannya 'denial' dan 'anger' saja karena biasanya fase tersebut nampak dan berimbas secara langsung terhadap objek disekitar mereka berupa kemarahan, penolakan, dan keinginan untuk menyalahkan.
itu bisa berlaku untuk kehilangan apa saja loh.. entah itu hewan peliharaan, tanaman yang dirawat, diputusin (?), dan lain-lain. biasa juga terjadi saat menghadapi keadaan kritis, menjelang ajal, dan meninggal.
objek kemarahan bisa pada Tuhan, dokter, bisa juga diri sendiri. Karena itu alasan tenaga-tenaga medis juga dibekali dengan ilmu psikologis agar dapat menghadapi dengan baik dan memberikan respon yang sesuai. sebagai tenaga medis maupun calon tenaga medis harus siap dengan hal tersebut.
Pernah ga lihat PMI yang biasa nolong korban kecelakaan? mereka contoh yang udah kenyang "dilabrak" ditempat karena dianggap faktor kematian orang. bayangkan diludahin, diteriakan, disalahkan secara langsung.
apakah sang PMI marah-marah balik menjelaskan bahwa itu bukan kesalahan mereka? tentu tidak. karena mereka sudah paham bahwa hal tersebut adalah kebutuhan sang pasien atau keluarga pasien untuk meluapkan, dan cepat atau lambat mereka akan sampai di tahap penerimaan.
jadi istilahnya orang tersebut berjasa untuk menjadi wadah luapan emosi dan bersyukurlah kalian yang seperti itu. tenaga medis memang punya resiko itu dan akan baik sekali saat kita bisa memaklumi dan bersabar. semangat untuk para calon tenaga medis Indonesia 😊
p.s. Saya menulis ini setelah membaca sebuah post yang merasa keberatan karena disalahkan atas sebuah kematian, dan melihat respon di kolom komentar, cukup banyak yang mendukung sender menyalahkan "Si Penyalah" tadi.
hanya mencoba mengenalkan bahwa "ada loh fase seperti ini" sehingga kita dapat mengerti, tidak marah, dan dapat menanggapi dengan baik, entah itu tenaga professional maupun orang awam. indahnya saling memahami 💕
Komentar
Posting Komentar