Perusahaan yang Sukses
Sebagai Jobseeker
Apa yang anda lakukan saat mencari kerja?
Apa yang pertama kali anda lakukan?
Apakah anda berpedoman pada jurusan pendidikan anda dan mencari pekerjaan yang mencari lulusan tersebut?
Apa yang pertama kali anda siapkan sebelum menghadapi interview?
Apakah anda mempersiapkan jawaban yang kemungkinan berhubungan dengan pendidikan yang telah anda jalani? atau pengalaman yang telah anda miliki?
Sebagai Perusahaan yang mencari karyawan baru
Apa patokan pertama anda bahwa kandidat karyawan anda merupakan calon terbaik untuk perusahaan?
Apa pertanyaan wawancara dari anda yang jawabannya kira-kira menjadi kunci bahwa orang tersebut adalah orang yang tepat untuk perusahaan?
Apakah anda masih berpedoman bahwa orang dengan pengalaman lebih baik daripada yang tidak?
Apakah anda masih menilai bahwa orang yang telah bertahun-tahun berada di bidang yang sama lebih berharga diperjuangkan daripada yang tidak?
Apakah anda masih melihat bahwa orang dengan riwayat kerja berpindah-pindah (Job Hop) adalah calon karyawan yang buruk?
Apakah anda masih melihat calon karyawan atas dasar Job Fit?
Sedikit berbagi
Mindset tersebut adalah mindset yang sudah ketinggalan.
Mencocokan orang dengan pekerjaan (Job Fit) memang penting, tapi hal tersebut seharusnya bukan lagi menjadi patokan utama
Pencari kerja yang bijak, akan mencari perusahaan, yang memiliki budaya dan tujuan perusahaan yang sesuai dengan dirinya.
Sebaliknya perusahaan yang baik, pertama kali akan melihat ; Apakah calon karyawan mereka memiliki Visi dan Misi yang sesuai dengan Visi dan Misi, serta Values perusahaan.
hal tersebut dinamakan 'Culture Fit'
Mengapa hal tersebut penting?
Mari kita sedikit membahas ranah pengelolaan Sumber Daya Manusia, yang dikenal sebagai bidang Personalia, Human Resource, dan Human Capital.
Bagi yang belum tahu, sesungguhnya ketiga sebutan tersebut memiliki makna yang berbeda. Secara singkat, ketiganya merupakan bidang yang sama namun berbeda pada basis kerja dan tujuan keberadaannya pada tiap generasi. Lebih mudahnya, Human Resource merupakan perkembangan dari Personalia. Sementara Human Capital merupakan generasi terkini, perkembangan dari generasi sebelumnya yaitu Human Resource.
Apa bedanya?
Personalia melihat sumber daya sebagai "Kertas" atau sekumpulan data.
Human Resource melihat sumber daya sebagai "Pekerja".
Human Capital melihat sumber daya sebagai "Investasi".
Mindset yang kita bicarakan di awal adalah mindset yang masih memandang karyawan sebagai "pekerja", bukan "investasi". Kenapa? Karena perusahaan hanya mencocokkan karyawan dengan pekerjaannya, bukan dengan tujuan bisnis tersebut.
Visi dan Misi perusahaan, seharusnya menjadi kiblat mengenai KEMANA arah perusahaan ingin bergerak maju. Berarti apa hal yang mendasari perusahaan dapat bergerak maju? Tentu saja dengan memastikan bahwa sumber daya yang dimiliki perusahaan memiliki arah yang sama.
Berarti seharusnya seperti apa?
Tentu saja yang pertama kali harus dipastikan adalah; Apakah karyawan cocok dengan Visi dan Misi yang dimiliki oleh perusahaan.
Logika yang mendasari ini adalah, segala bagian dari perusahaan, seluruh direktorat, divisi, departemen, dan unit, adalah bagian dari perusahaan. Semua harus membentuk suatu sinergi agar perusahaan dapat mencapai tujuannya. Dengan kata lain, seluruh bagian perusahaan merupakan investasi atas keberhasilan bisnis perusahaan. Bagaimana apabila terdapat bagian yang memiliki arah yang berbeda? Dapat dipastikan bahwa pergerakan perusahaan akan terhambat, dan semakin banyak bagian yang memiliki arah yang berbeda, perusahaan tidak akan berjalan secara efektif.
Bagaimana cara agar perusahaan tahu, jika calon karyawan tersebut cocok dengan Visi dan Misi yang dimiliki perusahaan?
Sekarang, kita akan sedikit membahas Visi dan Misi tadi. Visi dan Misi merupakan jawaban atas pertanyaan, "mau dibawa kemana organisasi ini?". Setelah kita merumuskan jawabannya (yaitu Visi dan Misi yang tadi), maka pertanyaan selanjutnya adalah "berarti kita butuh orang yang seperti apa?"
Visi dan Misi, kemudian membentuk Core Values, yaitu nilai-nilai inti yang dijunjung di dalam perusahaan. Nilai-nilai tersebut merupakan hasil perumusan atau analisis dari Visi dan Misi. Dalam menggapai suatu tujuan, berarti ada nilai yang perlu dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut. Contoh, misalkan tujuannya adalah "Menjadi perusahaan terbaik yang selalu terdepan dalam setiap generasi", Value yang dapat kita ambil berdasarkan Visi tersebut adalah "Inovasi". Jadi Value yang ditekankan mengikuti tujuan atau menjadi pendorong tercapainya tujuan dari perusahaan tersebut. Core Values atau Culture inilah yang menjadi pedoman untuk memastikan bahwa seseorang memiliki kecocokan dengan perusahaan.
Kemudian bagaimana caranya agar kita tahu bahwa seseorang cocok atau tidak cocok dengan Culture perusahaan?
Jawabannya : Rekrutmen
Dalam rekrutmen karyawan, umumnya terdapat beberapa tahapan, berbeda-beda setiap perusahaan. Contohnya seperti psikotes, wawancara, tes kesehatan, FGD, presentasi, dsb.
Penggalian mengenai karakter calon karyawan, berkaitan dengan nilai-nilai yang dia anut atau yakini, berada pada tahap wawancara. Pada tahap wawancara inilah pihak perusahaan dapat memastikan apakah calon karyawan 'Culture Fit' dengan perusahaan.
Salah satu teknik wawancara yang cukup terkenal adalah teknik Behavioral Event Interview yang memiliki prinsip bahwa "Apa yang telah dilakukan di masa lalu, dapat menjadi prediksi atas apa yang akan dilakukan di masa depan". Dengan teknik inilah seseorang dapat digali secara mendalam. Pertanyaan wawancara dalam teknik ini dimaksudkan untuk membuat seseorang menceritakan mengenai hal yang pernah dia lakukan. Dari penggambaran itulah pihak perusahaan dapat menilai apakah calon karyawan tersebut memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan apa yang dicari perusahaan. (Secara lebih detailnya tidak saya jabarkan di sini)
Sehingga kesimpulannya adalah,
Carilah karyawan yang CULTURE FIT dengan perusahaan anda, bukan lagi Job Fit.
Karena sumber daya perusahaan adalah Investasi yang menentukan keberhasilan perusahaan itu sendiri. Seluruh bagian perusahaan harus searah, harus saling mendukung, dan bersinergi menuju tujuan yang sama.
Apa yang anda lakukan saat mencari kerja?
Apa yang pertama kali anda lakukan?
Apakah anda berpedoman pada jurusan pendidikan anda dan mencari pekerjaan yang mencari lulusan tersebut?
Apa yang pertama kali anda siapkan sebelum menghadapi interview?
Apakah anda mempersiapkan jawaban yang kemungkinan berhubungan dengan pendidikan yang telah anda jalani? atau pengalaman yang telah anda miliki?
Sebagai Perusahaan yang mencari karyawan baru
Apa patokan pertama anda bahwa kandidat karyawan anda merupakan calon terbaik untuk perusahaan?
Apa pertanyaan wawancara dari anda yang jawabannya kira-kira menjadi kunci bahwa orang tersebut adalah orang yang tepat untuk perusahaan?
Apakah anda masih berpedoman bahwa orang dengan pengalaman lebih baik daripada yang tidak?
Apakah anda masih menilai bahwa orang yang telah bertahun-tahun berada di bidang yang sama lebih berharga diperjuangkan daripada yang tidak?
Apakah anda masih melihat bahwa orang dengan riwayat kerja berpindah-pindah (Job Hop) adalah calon karyawan yang buruk?
Apakah anda masih melihat calon karyawan atas dasar Job Fit?
Sedikit berbagi
Mindset tersebut adalah mindset yang sudah ketinggalan.
Mencocokan orang dengan pekerjaan (Job Fit) memang penting, tapi hal tersebut seharusnya bukan lagi menjadi patokan utama
Pencari kerja yang bijak, akan mencari perusahaan, yang memiliki budaya dan tujuan perusahaan yang sesuai dengan dirinya.
Sebaliknya perusahaan yang baik, pertama kali akan melihat ; Apakah calon karyawan mereka memiliki Visi dan Misi yang sesuai dengan Visi dan Misi, serta Values perusahaan.
hal tersebut dinamakan 'Culture Fit'
Mengapa hal tersebut penting?
Mari kita sedikit membahas ranah pengelolaan Sumber Daya Manusia, yang dikenal sebagai bidang Personalia, Human Resource, dan Human Capital.
Bagi yang belum tahu, sesungguhnya ketiga sebutan tersebut memiliki makna yang berbeda. Secara singkat, ketiganya merupakan bidang yang sama namun berbeda pada basis kerja dan tujuan keberadaannya pada tiap generasi. Lebih mudahnya, Human Resource merupakan perkembangan dari Personalia. Sementara Human Capital merupakan generasi terkini, perkembangan dari generasi sebelumnya yaitu Human Resource.
Apa bedanya?
Personalia melihat sumber daya sebagai "Kertas" atau sekumpulan data.
Human Resource melihat sumber daya sebagai "Pekerja".
Human Capital melihat sumber daya sebagai "Investasi".
Mindset yang kita bicarakan di awal adalah mindset yang masih memandang karyawan sebagai "pekerja", bukan "investasi". Kenapa? Karena perusahaan hanya mencocokkan karyawan dengan pekerjaannya, bukan dengan tujuan bisnis tersebut.
Visi dan Misi perusahaan, seharusnya menjadi kiblat mengenai KEMANA arah perusahaan ingin bergerak maju. Berarti apa hal yang mendasari perusahaan dapat bergerak maju? Tentu saja dengan memastikan bahwa sumber daya yang dimiliki perusahaan memiliki arah yang sama.
Berarti seharusnya seperti apa?
Tentu saja yang pertama kali harus dipastikan adalah; Apakah karyawan cocok dengan Visi dan Misi yang dimiliki oleh perusahaan.
Logika yang mendasari ini adalah, segala bagian dari perusahaan, seluruh direktorat, divisi, departemen, dan unit, adalah bagian dari perusahaan. Semua harus membentuk suatu sinergi agar perusahaan dapat mencapai tujuannya. Dengan kata lain, seluruh bagian perusahaan merupakan investasi atas keberhasilan bisnis perusahaan. Bagaimana apabila terdapat bagian yang memiliki arah yang berbeda? Dapat dipastikan bahwa pergerakan perusahaan akan terhambat, dan semakin banyak bagian yang memiliki arah yang berbeda, perusahaan tidak akan berjalan secara efektif.
Bagaimana cara agar perusahaan tahu, jika calon karyawan tersebut cocok dengan Visi dan Misi yang dimiliki perusahaan?
Sekarang, kita akan sedikit membahas Visi dan Misi tadi. Visi dan Misi merupakan jawaban atas pertanyaan, "mau dibawa kemana organisasi ini?". Setelah kita merumuskan jawabannya (yaitu Visi dan Misi yang tadi), maka pertanyaan selanjutnya adalah "berarti kita butuh orang yang seperti apa?"
Visi dan Misi, kemudian membentuk Core Values, yaitu nilai-nilai inti yang dijunjung di dalam perusahaan. Nilai-nilai tersebut merupakan hasil perumusan atau analisis dari Visi dan Misi. Dalam menggapai suatu tujuan, berarti ada nilai yang perlu dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut. Contoh, misalkan tujuannya adalah "Menjadi perusahaan terbaik yang selalu terdepan dalam setiap generasi", Value yang dapat kita ambil berdasarkan Visi tersebut adalah "Inovasi". Jadi Value yang ditekankan mengikuti tujuan atau menjadi pendorong tercapainya tujuan dari perusahaan tersebut. Core Values atau Culture inilah yang menjadi pedoman untuk memastikan bahwa seseorang memiliki kecocokan dengan perusahaan.
Kemudian bagaimana caranya agar kita tahu bahwa seseorang cocok atau tidak cocok dengan Culture perusahaan?
Jawabannya : Rekrutmen
Dalam rekrutmen karyawan, umumnya terdapat beberapa tahapan, berbeda-beda setiap perusahaan. Contohnya seperti psikotes, wawancara, tes kesehatan, FGD, presentasi, dsb.
Penggalian mengenai karakter calon karyawan, berkaitan dengan nilai-nilai yang dia anut atau yakini, berada pada tahap wawancara. Pada tahap wawancara inilah pihak perusahaan dapat memastikan apakah calon karyawan 'Culture Fit' dengan perusahaan.
Salah satu teknik wawancara yang cukup terkenal adalah teknik Behavioral Event Interview yang memiliki prinsip bahwa "Apa yang telah dilakukan di masa lalu, dapat menjadi prediksi atas apa yang akan dilakukan di masa depan". Dengan teknik inilah seseorang dapat digali secara mendalam. Pertanyaan wawancara dalam teknik ini dimaksudkan untuk membuat seseorang menceritakan mengenai hal yang pernah dia lakukan. Dari penggambaran itulah pihak perusahaan dapat menilai apakah calon karyawan tersebut memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan apa yang dicari perusahaan. (Secara lebih detailnya tidak saya jabarkan di sini)
Sehingga kesimpulannya adalah,
Carilah karyawan yang CULTURE FIT dengan perusahaan anda, bukan lagi Job Fit.
Karena sumber daya perusahaan adalah Investasi yang menentukan keberhasilan perusahaan itu sendiri. Seluruh bagian perusahaan harus searah, harus saling mendukung, dan bersinergi menuju tujuan yang sama.
Bagaimana cara mengetahui adanya indikasi calon karyawan telah mempersiapkan wawancara dan profiling agar sesuai dengan core values perusahaan?
BalasHapusCMIIW ya kak. Biasanya kalau calon karyawan sudah mempersiapkan diri supaya sesuai dengan core values kan bisa jadi ada faking good supaya seakan-akan dirinya sesuai kan ya? Yang saya tangkap maksud kakak itu takutnya dia melakukan faking good atau semacam itu, begitu kan?
Hapuskita sebagai perusahaan nggak usah takut kak karena mereka nggak akan bisa faking good terus menerus kalau kita melakukan wawancara dengan teknik Behavioral Event Interview yang menggali bagaimana behavior mereka di masa lalu. Hal tersebut juga digunakan untuk menggali apakah mereka benar-benar memiliki personality yang sesuai dengan perusahaan kan?
Kalau teknik tersebut sudah diterapkan, kemungkinan untuk bisa bohong jadi kecil. kemudian selanjutnya tinggal kompetensi dari interviewernya aja. kalau berkompeten pasti bisa memahami jawaban yang berkualitas (dia jujur) atau yang nggak (dia nggak jujur).