Jadi 'Orang Tua' yang Seperti Apa?

konteks orang tua yang saya maksud disini merujuk ke banyak arti. Bisa berarti orang tua dalam artian secara harfiah, bisa berarti ayah atau ibu, bisa berarti senior atau orang yang kebetulan berusia lebih tua.

sebelumnya hal yang saya ungkap disini hanya argumen pribadi, lebih tepatnya pertanyaan yang muncul secara intrapersonal. Aspek yang diangkat juga sangat sempit, hanya sebatas perihal "sikap dalam berhubungan"

Dimulai dari pertanyaan ke diri saya sendiri, (konteks orang tua-ayah dan ibu)
"kenapa bisa ada anak yang sangat dekat dengan orang tuanya, jadi semacam teman curhat atau sahabat. Tapi ada juga hubungan orang tua-anak sudah seperti atasan bawahan yang kalau berkomunikasi banyak yang berupa arahan atau perintah--jika ekstrem"

sebenarnya proses pemikiran sangat panjang, karena itu langsung saja ke kesimpulan.

intinya saya menemukan bahwa ada keterkaitan antara keasikan dalam berhubungan dengan kesopanan (ini bukan berdasarkan penelitian ilmiah jadi memang tidak valid dan reliable).

Orang-orang yang saya temukan memiliki hubungan yang 'asik' dengan orang yang lebih tua dari mereka, umumnya memiliki cara menunjukkan rasa hormat atau sikap sopan yang berbeda dengan orang yang menjaga hubungan atas-bawah.

contohnya saya memiliki teman yang memanggil orang tuanya dengan namanya, atau gue-elu, mungkin pada beberapa perpektif itu sangat tidak sopan. tapi mereka umumnya memiliki hubungan yang dekat seperti teman. istilahnya, hubungannya cenderung horizontal.

hal ini berlaku pada saya. semakin saya dekat dengan seorang senior, semakin panggilannya lebih santai, semakin cara berbicara lebih santai, dan untuk beberapa situasi saya berani untuk 'ngece' atau bercanda yang nyeleneh.

tapi hubungan yang menjaga etiket dalam keseharian, umumnya yang saya temukan memiliki hubungan yang lebih dipenuhi rasa segan. semakin etika, sikap hormat, dan kesopanan itu dijunjung, semakin hubungan yang terjalin bersifat formal atau kaku.

pada akhirnya, saat kita memiliki hubungan yang terbilang kaku dengan orang lain, bisa ditengok dahulu seberapa kuat kita menjaga atau menyuarakan norma terhadap orang disekitar.

menurut saya pilihan apapun tidak salah. ada tipe orang yang lebih menyukai dianggap setara tanpa ada batasan. ada orang yang lebih nyaman bersikap profesional dan menunjukkan penghormatan pada yang lebih tua. ada yang memilih situasi kapan suatu hubungan setara dan kapan 'atas dan bawah' digunakan.

yang pasti saat anda memutuskan menghilangkan batas dan menjadi setara, kesopanan yang memudar itu konsekuensi. dan saat anda terlalu kaku, jangan salahkan apabila sedikit orang yang nyaman berbicara atau mencurahkan isi hati.

semua memiliki sisi positif dan negatif. tinggal memilih, anda ingin menjadi orang tua yang seperti apa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjelasan Psikologis Sherlock Holmes

Aku adalah Alam

Curahan Hati #2